Prabowo adalah Output

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Orang ini bukan saja sekarang berulah, sejak di AKABRI pun katanya sudah selalu berprilaku aneh, berlanjut menjadi menantu Soeharto, sepak gilanya makin kemana-mana. Lihat saja catatan dan rekam jejaknya, dari sejak bertugas di Tim-Tim yg ditulis oleh ex Gubernur saat itu Carascalao, sampai apa yg kita terima dari akibat perbuatannya hari ini.

Kita sadar dan sudah merasa dari awal akan jadi apa pilpres yg paslonnya berprilaku liar seperti itu, kecuali para pendukung yg beragam, ada yg panatik buta, ada yg cuma ikutan saja, ada yg tau apa rencananya, dan ada yg gak sadar bahwa mereka cuma jadi kuda, dst.

 

Kenapa dia bisa ada walau banyak orang tau dia berbahaya, hanya saja, melepas harmonisasi orba terhadap orang yg ada sekarang tidak gampang, dan butuh waktu, karena hrs jujur, orang-orang orba juga masih banyak yg setia kepada Cendana dan kroninya, termasuk PS didalamnya dengan segala harta yg bisa membayar siapa dan apa saja.

Dalam pilpres 2019 dia masih mendapatkan suara 44,5 % atau 68 juta suara bukan hal yg dapat di pandang sebelah mata, walau kita tau kumpulan suara itu datang dengan ragam selera, seperti yg disampaikan diatas. Ada pertanyaan tentang pendukungnya setelah manuver junjungannya yg mengarah merusak bangsanya. Apakah mereka merasa bersalah ikut memilih orang yg berbahaya, bisa iya, bisa juga tidak, karena lapisan suara bawah kebanyakan cuma ngekor saja. Yang perlu dikejar adalah kepalanya, atau siapa otaknya. Rencana makar dan pembunuhan beberapa pejabat negara itu bukan sebuah kebetulan, tapi itu sebuah perencanaan yg sudah disiapkan.

Output adalah hasil proses, sehingga, kalau kita sekarang menghadapi manuver berbahaya dengan memakai narasi dia menang lawannya curang. Orang gila saja tau kalau menang itu pakai hitungan, bukan ngarang menang terus hitungannya gak ada sumbernya, dan bilang lawannya curang, ditanya curangnya dimana, gak bisa menunjukkan, jadi semua itu adalah kegilaan terstruktur yg dipaksakan.

Kondisi ini menjadi pelajaran buat bangsa dan negara, menyiapkan pemimpin tidak bisa asal intip sana-sini, asal ada duitnya dia yg didudukkan, akhirnya ini yg kita terima, negara dan bangsa jadi permainannya, karena dia bukan orang yg punya kapasitas, mana ada pecundang bisa menjadi pemenang, sekarang kalah ngajak perang. Orang mulai bertanya, kenapa dia tega dengan bangsanya, ya tega karena mertuanya adalah gurunya. Negara ini pernah dihancurkan oleh Soeharto dan sekarang akan diteruskan oleh Prabowo, untung saja dia gagal, kalau saja dia menang, negara ini bisa dijual.

Jadi, mari kita bersyukur, kita telah melewati masa sulit menghadapi sebuah hasil pilpres yg membuat kita nyaris terbelah. Kedepan, negara besar ini jangan lagi diisi oleh orang yg gak siap berkontestasi tapi cuma besar ambisi. Terima kasih TNI - Polisi, semoga kalian selalu diberkahi.

Ah..ini akibat modal ngences ikut pilpres, otakpun jadi tak beres.

 

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, May 29, 2019 - 23:45
Kategori Rubrik: