PR Pengendalian Laju Covid 19 di Jatim

ilustrasi

Oleh : Ita Yuanita

Kiranya telah kita ketahui bersama laju penyebaran COVID19 di Jatim semakin masif. Ini dibuktikan dengan tingkat penderita yang terinfeksi virus tersebut semakin tinggi, dan grafik menunjukkan penyebaran COVID19 ini semakin meluas terutama di daerah daerah. Contoh kasus di Sumenep. Kabupaten paling ujung timur pulau Madura ini semakin hari bukannya semakin berkurang tingkat penyebaran virus tsb, justru di hari hari terakhir ini semakin bertambah.

Lokasi-lokasi penyebaran COVID19 di kabupaten yang berjuluk kota keris ini juga semakin luas. Ada beberapa kecamatan yang sebelumnya berzona hijau kini memerah darah, misalnya kecamatan Batang Batang, kecamatan guluk guluk dan kecamatan Bluto. Di tiga kecamatan ini mereka yang terinfeksi virus tersebut justru dari kalangan medis, dan imbas dari itu harus ditutupnya Puskemas di tiga kecamatan tersebut dan pelayanan kesehatan dialihkan di puskemas kecamatan yang terdekat. Bahkan di puskesmas batang batang, pasein pasein yang rawat inap disanapun harus di rujuk di kecamatan gapura atau dungkek.

Hal ini tentu membuat keprihatinan kita semua. Dan sebagai salah satu warga yang hidup di kabupaten yang begitu indah ini saya jadi semakin bertanya tanya, ada apakah gerangan. Kabupaten yang sebelumnya bertahan sebagai kabupaten berzona hijau disaat kabupaten lain di Jatim sudah berzona merah ini semakin hari bukannya semakin berkurang tingkat penyebaran COVID19 tapi justru semakin bertambah. Adakah gugus tugas COVID19 kurang bekerja ekstra keras untuk gencar mensosialisasikan kepatuhan menerapkan protokol COVID19 dalam setiap aktivitas warganya, atau mungkin tokoh-tokoh masyarakat yang kurang peduli untuk bersama bahu membahu mengurangi tingkat penyebaran COVID19 di daerah nya masing-masing, pun ada kemungkinan kita sendiri sebagai masyarakat yang acuh dan tidak mau tau akan situasi dan kondisi saat ini yang imbasnya sangat mempengaruhi ritme kehidupan sosial kita sehari hari.

Di awal kabupaten Sumenep ini berzona merah, saya sudah memprediksi bahwa ini akan seperti fenomena gunung es. Pelan tapi pasti akan mencair, meski saya selalu berharap dan berdoa cairannya tsb tidak sampek menenggelamkan kabupaten yang sama sama kita cintai ini. Saya berteriak dan terus berkoar koar di medsos perlunya disiplin kita sebagai warganya untuk menerapkan Sosial Distancing juga Phisical Distancing. Waktu itu pemerintah belum mengeluarkan kebijakan kehidupan baru era COVID19 menjadi pandemi di negeri kita. Apapun coba saya tuliskan untuk mengajak saudara sesama warga Sumenep untuk bekerjasama dengan konsisten sebagai warganya mentaati aturan protokol COVID19 yang dianjurkan pemerintah, demi mengurangi laju penyebaran virus tsb di ujung timur pulau Madura ini. Tapi siapakah saya, dan dalam kapasitas apa saya ikut teriak teriak meski hanya di medsos untuk ikut mensosialisasikan penting nya mentaati protokol COVID19.

Karenanya, setelah saat ini laju penyebaran COVID19 semakin masif dan berharap semoga tetep terkendali saya hanya mampu menahan nafas. Sesak rasanya dada ini membayangkan mereka yang satu demi satu harus tumbang karena virus ini. Dan yang lebih menyedihkan lagi banyak saudara kita yang masih belum percaya adanya virus tsb dan menganggap ini semua hanyalah konspirasi. Duh Gusti entah bagaimana cara meyakinkan mereka, sedang deretan korban yang tidak mengenal strata, status sosial dan agama setiap hari semakin bertambah. Adakah ruang kosong dari tim gugus tugas COVID19 yang belum diisi misalnya menjawab setiap rumor yang berkembang di masyarakat tentang apapun yang tidak benar hingga masyarakat tidak mudah menelan berita hoax dan menganggap ini hanyalah sebuah persengkongkolan yang jahat.

Maka, ketika kemarin ada rakor bersama antara pemerintah di tingkat satu Jatim dengan bapak Mahfud MD yang membahas tentang cara penanggulangan penyebaran COVID19 ada sedikit angin segar dan harapan semoga laju penyebaran virus ini segera dapat teratasi. Tingkat harapan itu semakin besar ketika hari ini , Kamis, 26 Juni 2020 Bapak Jokowi selalu Presiden Indonesia datang ke Jatim untuk mengetahui secara langsung segala permasalahan yang di hadapi pemerintah daerah Jatim menghadapi pandemi COVID19. Beliau memberikan PR bahwa dalam dua Minggu ke depan Jatim sudah harus mampu mengurai dan memecah kan masalah yang dihadapi demi mengurangi penyebaran COVID19. Pertanyaannya mampukah pemerintah Jatim menyelesaikan PR tersebut sesuai tenggat waktu yang diberikan presiden. Pasti bisa bila ada kolaborasi yang signifikan antara pemerintah, tokoh tokoh masyarakat, kalangan akademisi, pengusaha, dan masyarakat untuk bahu membahu, bekerja sama mengurangi laju penyebaran COVID19 didaerah, begitu kata gubernur kita yang tangguh Ibu Khofifah Indar parawansa yang juga merupakan ketua Muslimat NU Indonesia.... terimakasih ( YWS )

Sumber : Status Facebook Ita Yuanita

Friday, June 26, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: