The Power of Social Media

ilustrasi
Oleh : B Uster Kadrisson
Para pemilik applikasi sosial media ternama sekarang benar-benar unjuk gigi dengan berani menghapus akun pribadi orang nomer satu di Amerika. Menyusul setelah pembekuan akun Twitternya selama 12 jam pada hari Rabu minggu yang lalu akibat kerusuhan di gedung Capitol, Washington DC yang jelas diprovokasi oleh pidato si Oyen Trump beberapa jam sebelumnya. Selama masa hibernasi dan tanpa mengenal lelah, beberapa cara dia tempuh untuk berhubungan dengan para pendukungnya dengan meminjam akun asisten pribadinya. Setelah 12 jam berlalu, ternyata dia tidak juga jera dan kembali mengobarkan api peperangan untuk menentang proses penetapan hasil pemilu yang telah disetujui dan disahkan secara bersama.
Twitter, Facebook dan Instagram bekerja sama dengan menutup akun pribadinya sehingga dia dibungkam secara total dan tidak lagi bisa bersuara. Si Oyen Trump kemudian menelikung dengan menggunakan akun resmi milik President US yaitu @POTUS, yang kembali disensor karena lagi-lagi bertujuan untuk memprovokasi massa. Setelah itu selama beberapa hari terakhir, Amerika terasa lebih adem dan damai tanpa harus lagi dipaksa untuk mendengar celotehan-celotehannya. Jutaan orang yang mengikuti akun Twitternya menjadi sedikit kecewa, sebab kini tidak ada lagi bahan lelucon yang biasanya bisa membuat perut menjadi sakit karena kebanyakan tertawa.
Beberapa dari kepala negara sejawatnya seperti Chancellor Angela Merkel dari Jerman, atau sohib karibnya presiden Brazil, tidak terima atas tindakan para CEO sosial media yang mereka nilai sangat semena-mena. Yang herannya presiden Mexico Andres Obrador, juga ikut-ikutan bersuara membelanya, padahal dia sudah sering sekali dicaci-maki dan direndahkan oleh si Oyen Trump, apakah ini gejala S&M bagaikan budak yang menghamba kepada tuannya. Hanya China yang tidak bersuara, mungkin Xi Jinping sama sekali tidak tahu apa itu Twitter dan segala macam nama sosial media lainnya. Karena jumlah penduduk China yang sangat besar, sehingga mereka bisa membuat platform sosial media sendiri, seperti Weibo, WeChat, Renren, Youku dan dengan mudah merekrut ratusan juta hingga milyaran penduduknya sendiri sebagai peserta.
Banyak yang mengklaim kalau tindakan para CEO ini telah melanggar hak azasi untuk bersuara dan melangkahi konstitusi Amerika yaitu Amandement yang pertama. Tetapi telah disanggah oleh para ahli, sebab First Amandement hanya berlaku serta menyangkut urusan pemerintah dan tidak bisa mengikuti sertakan pihak swasta. Platform pihak swasta sudah sangat jelas menerangkan segala macam peraturan pada saat seseorang akan menandatangani kesepakatan ketika sebuah akun akan dibuka. Sialnya sering dengan bahasa yang njelimet dan sangat panjang serta bertele-tele sehingga sering di-skip saja hingga ke bagian tombol 'agree' yang ada di bagian paling bawah.
Twitter tidak berhenti sampai di situ saja, menyusul kericuhan yang terjadi ada 70 ribu akun yang disuspend, terutama para pendukung Trump dari kelompok QAnon dan Proudboys yang sering menyulut kontroversi. Seketika kelompok pengasong anarkis seperti ef-pe-i ini berteriak-teriak seperti kesetanan dan mereka mengalihkan acara kumpul-kumpul di media sosial yang tergolong baru yaitu Parler dan Gab, yang CEOnya termasuk domba gurun dan merasa kesenangan karena ketiban rezeki. Tetapi cuma bertahan beberapa hari saja, ketika Amazon, Apple dan Google Play memblokir applikasinya karena sosial media ini mengizinkan hate speech dan berafiliasi kepada neo-Nazi. Selanjutnya semakin diperparah ketika applikasi pembayaran PayPal dan beberapa situs untuk mengumpulkan donasi seperti GoFundMe juga menolak untuk bekerja sama dengan kelompok ini.
Banyak para wakil rakyat dari partai Republicans yang mendukung si Oyen, bersungut-sungut karena kehilangan follower di Twitter dengan grafik yang menungkik drastis. Mereka tampaknya tidak begitu perduli dengan kehilangan 4 nyawa pendukungnya yang mati sangit secara mengenaskan dan sangat tragis. Tidak ada sedikitpun kata belasungkawa dari junjungan mereka, karena para idola mereka lebih meratapi kehilangan follower dengan ngejogrok di pojokan sambil menangis. Berkebalikan dengan anggota partai Republicans, dari kubu Democrats seperti presiden dan wapres terpilih malah menuai hasil dengan grafik kenaikan pengikut yang cukup manis.
Sebegitu hebatnya pengaruh sosial media yang telah merasuki kehidupan setiap individu pada saat ini sehingga bisa mengatur dan mengarahkan opini massa. Telah terlihat dengan jelas kalau di tangan seorang yang tidak waras dan gila, sebuah akun dengan jutaan follower bisa menjadi sebuah alat untuk menimbulkan bencana. Sejak beberapa hari terakhir ada beredar tulisan tentang kekhawatiran kalau sosial media akan menggunakan data pribadi pemakai, sepertinya sudah saatnya warga +62 mempunyai platform sosial media sendiri yang dimiliki oleh anak bangsa untuk dipakai berghibah. Apalagi dengan kebiasaan membuat double atau triple akun, yang akan membikin pusing kepala petugas sensus, karena melebihi jumlah total penduduk yang 260 juta jiwa, serta dengan memasang photo dara cantik berjilbab tetapi sang pemilik ternyata punya jakun-jakun di lehernya.
Tabik.
Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson
Thursday, January 14, 2021 - 07:30
Kategori Rubrik: