The Power of Love 212

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Lelaki itu termangu. Wajahnya kusut, pandangannya kosong menatap kejauhan. Ia membayangkan seseorang yang jauh di seberang.

Gawainya berbunyi. Dengan melirik sekilas, ia tahu siapa yang menghubunginya. "Aku tidak jadi pulang. Tidak lebaran kali ini."

 

 

Tidak ada jawaban dari seberang. Hanya terdengar isak tangis tertahan.

"Aku minta maaf, cinta..." tambahnya, sambil menghela napas.

Tetap tidak ada jawaban. Bahkan telepon itu terputus. Ia tidak heran. Karena ia tahu bagaimana rasanya kecewa.

Lamunannya melayang jauh pada peristiwa besar setahun lalu. Ia adalah lelaki yang memimpin ratusan ribu orang. Suaranya bergema bagai auman singa. Sorot matanya seperti hendak menerkam mangsa. Polisi, tentara, bahkan presiden seperti tak berarti baginya.

Ia adalah simbol perjuangan kebenaran melawan kebatilan. Orang-orang menyemut di bawah komandonya. Hari itu adalah puncak kejayaan. Perang paling besar yang dihadapinya. Dan ia setara Zeus di Olympus. Kemenangan yang indah diperoleh dengan mudah.

Namun segalanya berbalik begitu cepat. Kini deru angin gurun menemaninya. Cuaca terik seperti berada di dekat tungku adalah sahabat keheningannya. Jarak ribuan kilo melemparkannya di pengasingan. Dan lelaki itu tahu, yang lebih berat dari semua itu adalah rindu.

Ia teringat Wirantoh, orang yang pernah melambungkannya setinggi langit, sekaligus yang kini mencampakkannya demikian hina. Dan semua orang yang dulu membutuhkan jasanya, sekarang pura-pura lupa. Sedikitpun mereka tak mampu menolongnya

'Katamu, kau akan menghadapi seribu musuh demi aku. Tapi kenapa kau menyerah dengan jarak?' Suara itu kembali terdengar di lubuk hatinya. Ia tidak mengerti dengan perempuan. Kepulangannya akan mengakhiri segalanya. Nyawanya terancam, nama baiknya dipertaruhkan. Tapi ia mencoba memaklumi, mungkin itu karena desakan rasa cinta.

Terbayang senyum yang tersayang saat mengiringinya menembus lautan manusia di Monas. Ia yang begitu setia, polos, penyabar, telah mendermakan dirinya untuk gerakan 212. Cinta yang begitu agung dan tak ada bandingannya.

Darahnya tiba-tiba mendidih ketika ingat lelaki cina berkacamata. Ia telah membuatnya menderita, kehilangan segala-galanya, tapi di penjara ia tersenyum mengejek. Musuhnya itu telihat merdeka. Sedangkan dirinya yang bebas di tanah ini, terus dikutuk oleh rindu dan rasa bersalah.

Musuhnya itu terus disanjung dan dipuja. Bahkan mereka rela berseberangan dengan kawan seiring sejalan, hanya gara-gara SP3!

Betapa besar kecintaan mereka pada lelaki bermata sipit itu. Betapa hebat kebencian mereka pada dirinya. Padahal ia adalah pemimpin agung jutaan lasykar. Jubahnya adalah lambang kesucian, imamahnya adalah simbol luasnya pengetahuan. Sementara musuhnya hanya seorang narapidana.

Langit senja tampak pucat. Debu, di mana-mana debu. Termasuk di hatinya.

Ia berjalan menembus kekosongan padang pasir. Membayangkan Jakarta yang penuh kemacetan. Sesuatu yang dulu dibencinya. Namun sekarang ia merindukan itu. Termasuk nasi goreng gila, bakso urat yang lezat, dan senyum orang yang tersayang di dekatnya. Sementara di sini hanya debu, di mana-mana hanya debu.

Di penghujung jalan ia menghentikan langkah. Dadanya dipenuhi gemuruh. Siksa yang begitu berat harus ditahankan. Ia menunduk, mencoba bersikap setegar mungkin. Ia laki-laki, air mata tak boleh jatuh.

Kepalanya dipenuhi siasat. Dendam dan rasa benci mengharuskannya menempuh jalan paling gelap. Jakarta harus digoncangkan sekali lagi. Harus ada darah, lebih banyak air mata. Harga yang harus dibayar untuk menebus cintanya.

Namun sebelum datang hari itu, ia tak bisa berbuat banyak. Kini, di saat langit semakin gelap, di penghujung segala harap, ia hanya mampu berbisik lirih, "Maafkan aku, Firza..."

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Sunday, May 13, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: