Potensi

ilustrasi

Oleh : Agus Setyabudi

Politik adalah jalan untuk meraih kekuasaan. Sedangkan kekuasaan merupakan jalan untuk kemanusiaan. Tepat kiranya dawuh Gus Dur bahwasanya yang lebih penting dari politik adalah kemanusian. Apa guna berpolitik kalau tidak ada nafsu untuk meraih kekuasaan. Dan untuk apa pula mampu merengkuh kekuasaan bila tak didarmabaktikan untuk kemanusiaan.

Tentu saja untuk melayani kemanusiaan tidaklah melulu lewat jalan politik semata. Banyak jalan menuju Roma, begitu pun beragamnya jalan untuk memanusiakan manusia. Bisa lewat politik, bisa lewat budaya, agama, pendidikan dan lain sebagainya.

Sebagai jenis makhluk yang secara fitrah diciptakan beragam, harusnya manusia menyadari bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Ada yang kulitnya berwarna putih, hitam, kuning, merah dan lain sebagainya. Ada yang rambutnya lurus, ikal, keriting, botak dan lain sebagainya.

Selain perbedaan secara fisik, manusia pun memang didesain dibekali potensi yang berbeda-beda. Dari potensi inilah kemudian yang akan melahirkan berbagai jenis kemampuan manusia yang berbeda-beda pula. Ada yang ahli di bidang pertanian, tapi tidak paham soal kebudayaan. Ada yang ahli di bidang kedokteran, tapi sangat minim pengetahuannya tentang perpolitikan. Dan seterusnya, dan sebagainya. Intinya, tiap manusia punya keahlian dan kecakapan yang berbeda-beda.

Plato, seorang filsuf Yunani, pernah meyakini bahwa sebuah negara akan adil, makmur dan sejahtera bila yang memimpin adalah seorang yang bijak bestari atau filsuf. Dan untuk bisa mendapatkan sosok tersebut, kemudian Plato mengkonsep sebuah sistem pendidikan yang mana potensi manusia adalah penentu segalanya. Dengan kata lain, mereka akan berkontribusi pada negara lewat jalur apa dan mana, potensi mereka lah yang menentukan. Bagi yang potensinya cemerlang, tentu ia akan berhak jadi pemimpin. Dan bagi yang lainnya, bisa jadi tentara, pedagang atau yang lainnya sesuai kadar potensi masing-masing.

Gagasan Plato mengenai hal di atas, tentu masih sangat panjang dan mendetail penjelasannya. Namun dengan mencukupkan pada gagasannya di atas saja dan merenungkannya sebentar, maka riuh-rendah kita sebagai bangsa dua hari terakhir ini yang merasa berhak saling membicarakan politik, akan usai. Dan masing-masing kita akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan potensi, porsi, kecakapan dan keahlian kita masing-masing dalam berkhidmah pada bangsa dan negara ini. Yang berdagang akan kembali fokus berdagang. Yang karyawan atau pegawai akan konsentrasi bekerja. Yang ahli agama akan kembali mengajar umatnya. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Dan gagasan Plato ini ternyata juga sesuai dengan apa yang pernah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. sabdakan yang kira-kira artinya sesuatu hal apabila diserahkan (ditangani) oleh yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.

Dan saya menduga bahwa keriuhan bangsa Indonesia akhir-akhir ini tidak lain dan tidak bukan memang karena kebanyakan orang melakukan dan atau mengatakan apa-apa yang tidak sesuai porsinya/kecakapannya/keahliannya. Dan bila ini diterus-teruskan (semoga saja tidak), Indonesia sebagai bangsa dan negara pasti akan seperti negara-negara di Timur Tengah sana.

Salam.

Sumber : Status Facebook Agus Setyabudi

Friday, April 19, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: