Posisi Allah Saat Bencana Menimpa Orang Baik

Oleh: Otto Rajasa
 

99% umat meyakini bahwa Allah itu ikut campur dg semua perkara termasuk hal2 sepele. Makanya banyak yg berdoa supaya anaknya yg ujian kenaikan kelas dapat nilai bagus. Banyak jg yg tes pegawai negeri berdoa meminta kelulusan pada Allah. Mereka meyakini Allah mengurus nilai mata pelajaran dan nilai tes PNS. Bahkan para supporter bola berdoa kepada Allah agar memberi kemenangan tim jagoannya. Diyakini bahwa Allah jg lagi nonton bola trus bikin scenario setiap goal yg tercipta. Para koruptor berdoa agar terbebas dari hukuman dari sang hakim. Orang yg meyakini Allah selalu ikut campur dalam setiap aksi reaksi sering disebut creationism. Dg pameo andalan Kun Fayakuun.

Keyakinan spt ini memiliki implikasi sangat luas dan beresiko besar dalam memperburuk reputasi Allah. Bagaimana tidak, kita semua mafhum kl bencana buruk tak selalu menimpa orang jahat. Orang yg baik bahkan para pengabdi Allah juga sering tertimpa bencana. Jika Allah adalah sang creator yg ikut campur dalam setiap peristiwa maka Allah adalah penanggungjawab penuh alias 100% setiap bencana, setiap keburukan dan setiap peristiwa kejahatan di muka bumi.

Ada ratusan jamaah yg sholat tarawih, tiba2 bencana banjir bandang menerpa membunuh 30 orang dan melukai sisanya. Jika kita meyakini Allah dalam setiap peristiwa, maka Allah kejam membunuh pemuja-Nya sendiri. Dia tak lagi pantas disembah.

Ada seorang anak perempuan kecil sedang berjalan sendirian di pematang sawah. Tiba2 segerombol pemuda ABG mengganggu dan secara bergilir memperkosanya dg biadab. 14 pemuda itupun membunuhnya setelah menganiaya dan memperkosa si gadis kecil. Jika Allah dalang dibalik setiap peristiwa maka Ia bertanggungjawab pada pemerkosaan dan pembunuhan itu. Allah membiarkan seorang perempuan kecil dianiaya, diperkosa, dibunuh, jenazahnya dibuang ke jurang. Allah bukan maha pelindung. Ia tak pantas disembah.

Lalu dimana sebenarnya posisi Allah?

Entahlah dimana ia berada kl memang ada. Tetapi saya setuju dg Einstein yg meyakini Ia adalah pencipta sistem yg maha sempurna. Dan tak mengutak-utiknya lagi dan tak mampu mempengaruhi krn Ia pun inherent dalam sistem itu. Allah menciptakan angka2, tetapi Ia bahkan tak akan bisa merubah angka empat menjadi bilangan prima. Menyitir kata2 mb Acha Wahyudi Allah itu adalah jiwa dari setiap sel tubuh kita, sel tubuh babi dan sel tubuh anjing. Ia adalah jiwa setiap atom penyusun segala sesuatu, jiwa setiap proton, electron, neutron, quark, foton dan boson hicks. Ia tak perlu kau cari di luaran sana, di kotak kabah, di pohon besar, di langit sap tujuh, di situs2 purba krn Ia ada disini, di setiap benda di alam semesta.

Jika demikian bagaimana kita berdoa? Berdoalah pada alam semesta. Ikutilah sistem yg telah ia buat. Kl pengin pinter ya belajar. Kl pengin rejeki yg banyak ya bekerja yg giat dan smart. Kl pengin bahagia ya berbuat baik. Kl pengin bikin gol ya latihan yg keras.

Dan least but not the last...

Kalau mau membunuh orang, jangan mengatasnamakan Allah. Dia bukan pembunuh kejam, maha penyiksa kafir spt yg kalian kira. Masalah spt itu terlalu kecil untuk kemuliaan-Nya - menyiksa dan membinasakan makhluk yg Ia ciptakan sendiri dg sistem-Nya.

Akhirul kalam...

”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”. (QS.al-Baqarah: 115)

 

(Sumber: Facebook Otto Rajasa)

Tuesday, July 5, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: