Pork Festival: Tetangga Makan Enak Kok Kita yang Ribut

Oleh: Aldy M Aripin

Baru-baru ini di kota Semarang, Jawa Tengah, dalam rangka menyambut Hari Raya Imlek diadakan Pork Festival (Festival Daging Babi).  Dari sisi penyelenggaraan festival ini sukses besar, tapi sayang meninggalkan tapak dan jejak tanggapan yang kurang bersahabat dari kaum kerabat, handai taulan yang tidak mengkonsumsi daging babi.

Tidak semua anti pati, tidak semua memalingkan muka, tapi ada saja suara minus dan bernada manja dari sebagian orang. Bahkan tidak kurang dari Ketua MUI Jawa Tengah Achmad Daroji menyayangkan diselenggarakannya Festival ini, karena mayoritas penduduk beragama Islam. 

Sebagaimana dilansir oleh rappler.com, senada dengan ketua MUI Jawa Tengah, Ketua Pemuda Muhammadiyah Semarang AM Jumai, menilai Festival tersedut tidak etis dilaksanakan karena berdekatan dengan Kampung Arab Kauman. Sebenarnya, disinilah sikap toleran kita sebagai penganut ágama Islam sedang diuji.  Saat yang besar memberikan perlindungan dan kebebasan kepada mereka yang lebih kecil untuk menikmati hidangan, menyelenggarakan keramaian sesuai dengan kebolehan yang mereka punya.

Melarang bukanlah solusi terbaik, apalagi sikap menyesalkan sesuatu yang sudah terjadi dan berakhir.  Alangkah lebih baik, jika kita tidak hanya sekedar menunggu tapi sesekali lakukan langkah jemput bola untuk mengatisipasi kemungkinan terburuk yang dapat ditimbulkan dengan adanya Ferstval ini.

Kedepan, panitya juga perlu memikirkan masyarakat sekitar yang secara kebetulan tidak mengkonsumsi daging babi, walaupun panitya sudah berupaya sedemikian rupa, dengan mengantongi ijin dari aparat berwenang, menampilkan tulisan yang mudah dibaca dan melarang kaum muslim untuk datang, sekiranya upaya ini masih menimbulkan resistensi, mungkin sebaiknya dirembukan terlebih dahulu dengan pemuka-pemuka ágama tempatan agar didapat solusi yang saling menguntungkan.

Jika prosedur tersebut sudah dilakukan dan disepakati semua pihak, ternyata masih ada yang nyinyir juga, ya sudah anggap saja sebagai sebuah dinamika dalam  bermasyarakat. Kita sebagai umat Islam, idealnya dapat memberikan rasa aman kepada mereka dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan, bukan malah terbalik, kita justru yang menjadi manja untuk selalu dihormati dan meminta rasa aman dari kaum yang seharusnya kita lindungi.

Sebagai bahan perbadingan (walau sebenarnya tidak sebanding), pada saat puasa ramadhan, kita yang seharusnya menahan diri dari segala macam godaan, justru meminta mereka yang berdagang makanan untuk membuat tabir (tak perduli mereka Islam atau tidak) bahkan ada yang meminta warung makanan mereka ditutup selama ramadhan, agar puasa kita berjalan dengan lancar dan minim godaan, padahal warung itu merupakan urat nadi ekonomi keluarga.

Mengedepankan tepa selira, tenggang rasa dan saling asah, asih asuh tidak ada yang rugi, semua diuntungkan.  Tetapi jika dengan tanggapan negatif dan penyesalan, yang dihasilkan justru rasa tidak puas pada diri sendiri yang bisa jadi berujung pada tindakan anarkis. Sederhananya, mengapa harus rusuh dengan tetangga yang makan enak? Kalau sudah tahu makanan itu tidak dibolehkan agama, jalan terbaik adalah menghidarinya, bukan menciptakan polemik agar terbentuk image kepedulian. 

(Sumber: Kompasiana) 

Tuesday, February 9, 2016 - 12:15
Kategori Rubrik: