Populisme dalam Gambus

ilustrasi
Oleh : Munawar Khalil
Saya termasuk jenis yang hampir tidak mempunyai patron atau idola. Karena sangat meyakini mengidolakan seseorang itu hanya halusinasi. Kita bermimpi ingin menjadi orang lain dengan segala kelebihan dan keberuntungannya, tapi tidak mau menerima kekurangannya.
Nah, netizen +62 itu sangat rigid memandang sesuatu dari cover, gaya berpakaian, wajah kamera, suara, genre musik, lirik arabic, dan stigma religi lainnya. Kemudian tidak tanggung-tanggung bisa menyerbu akun IG sang idola sampai hampir 17 juta followers, termasuk menjadi liker dan subsriber akun youtube-nya dikisaran 6 juta an.
Sebenarnya ya sah-sah saja menjadi liker dan subscriber untuk mendapatkan notifikasi ketika ada lagu baru, lalu menikmati lagunya sebagai hiburan melepas penat. Tapi jika berlebihan menyukai orangnya, kita akan kepo terhadap aktifitas hidupnya yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk kita.
Kenapa ingin menjadi orang lain dan bukan diri sendiri itu menjadi penting saat ini? Salah satu penyebabnya adalah kita menganggap hidup kita tidak asik dan menarik. Kita tidak mampu membuat perbedaan dan menemukan kelebihan kita. Akhirnya kita melihat bahwa ada sesuatu dalam hidup orang lain diluar sana itu sangat menarik, lalu berangan-angan kita seharusnya seperti atau menjadi dia.
Padahal, dengan ketidaksempurnaan sang idola sebagai manusia, kita pasti akan kecewa. Begitu dia gagal menjadi sempurna seperti yang kita harapkan, kita akan berbalik melakukan unfollow kemudian mencari patron baru. Dan itu berlangsung begitu cepat dalam sekejap.
Perjalanan hidup orang kedepan itu tidak ada yang tahu. Saat ini orang lain kita anggap buruk nasibnya, tapi bisa saja suatu waktu kita yang mengalami. Yang kita anggap buruk itu adalah persepsi kita. Jika kita percaya bahwa ada yang mengatur takdir, harusnya kita tidak perlu mengomentari takdir yang sedang dijalani oleh orang lain. Sesederhana itu.
Bukankah, semua yang dilakukan individu itu sebenarnya hanya bersubjek kepada relevan atau tidak relevan saja?. Ia akan berubah bermasalah menjadi benar dan salah jika dipasangkan menggunakan metode, sudut pandang, ukuran, kacamata, dan persepsi pribadi kita
Sumber : Status Facebook Munawar Khalil
Tuesday, February 23, 2021 - 11:15
Kategori Rubrik: