Politisi

ilustrasi

Oleh : Haryoko R Wirjosoetomo

Politisi pidato di depan orang ramai, mengatakan tidak bisa menerima hasil Pilpres ini dan menyerukan pendukungnya untuk turun ke jalan.

Apa yang kemudian terjadi adalah serangkaian rekayasa gerakan untuk memicu kemarahan massa, dengan mengerahkan orang2 bayaran, sengaja melawan aturan negara soal jam unjuk rasa dan sengaja menyerang aparat kepolisian agar terjadi konflik sehingga jatuh korban di pihak perusuh.

Ujung dari skenario opera sabun itu mudah diduga : martirisasi. Lalu dengan menunggangi medsos dan crocbrain pendukungnya, massa akan digerakkan dan bergerak melawan negara.

Maunya begitu, namun mejen saat aparat keamanan pemerintah sigap melakukan penangkapan2.

Lalu apa yang dibilang oleh para politisi tadi? Saya kan cuma bicara pipel power enteng2an, kok ditangkap? Akun twitter saya kan dibajak, kok ditangkap? Pegiat HAM dan pers bebas memekik, kok terjadi pembungkaman demokrasi melalui pembatasan medsos?

Beberapa client bertanya kepada saya, layakkah mereka ditangkap? Layakkah medsos dibatasi? Tegas saya jawab, layak. Karena kerusakan telah terjadi, mereka harus bertanggungjawab atas kerusakan yang ditimbulkan oleh kata2nya.

Dan bukankah kata2 itu lebih tajam daripada pedang?

Cinere, 1 Juni 2019

Selamat Ulang Tahun, Pancasilaku.

Sumber : Status Facebook Haryoko R Wirjosoetomo

Saturday, June 1, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: