Politisi Tak Ubahnya Profesi Lain

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Pernah suatu waktu saya bertemu dengan petinggi Partai dalam satu rapat bisnis. Ada yang membuat saya tersentak yang sampai kini saya tak bisa melupakannya. Bahkan karena itu kadang saya paranoid dengan para politisi. Mengapa?. Dia mengatakan " Kita butuh kemiskinan. Kita butuh kebodohan. Lingkungan yang buruk dan tidak sehat. Kita butuh rasa takut kepada penguasa dan patuh kepada Patron. Kita butuh mereka lapar. Mengapa ? Karena itu mereka butuhkan politisi. BIla mereka pintar, cerdas, politisi bukan lagi lapo tuak tapi menjadi profesi seperti halnya dokter dan insinyur. Orang menghargai dokter karena dia menyembuhkan. Orang menghargai insinyur karena jembatan dan bangun tidak roboh."

Dalam bukunya, Mao pernah mengatakan kepada istrinya " Untuk apa revolusi Komunis kalau nyatanya rakyat kecil semakin miskin dan kaum feodal semakin kaya. Untuk apa?. Semua karena budaya menjajah antar kelas tidak pernah hilang di China. Tanpa revolusi kebudayaan, china baru tidak akan pernah lahir. China akan tetap seperti china dulu yang indah dari luar namun menyimpan aroma busuk didalamnya. Kita harus ciptakan kekacauan, dan bila perlu kita harus jadikan debu cina lama agar bisa jadi pupuk untuk cina baru". istrinya Jiang Qing hanya diam. Tapi dia tahu bahwa pertanyaan itu sebagai isyarat bahwa revolusi kebudayaan telah di ikrarkan dari balik kelambu. Apa yang dikeluhkan Mao , bukan hal yang aneh. Jiang Qing lahir dari rahim seorang selir. Ayahnya Tuan tanah di Shandong tapi kehidupan sebagai anak selir lebih buruk dari anak tiri. Dia merasakan kehormatannya sebagai manusia hampir tidak ada, bahkan lebih buruk dari seekor babi. Budaya seperti inilah yang harus di hapus di China.

Mao pernah bertanya tentang hal yang sama kepada teman temannya tentang mengapa kemakmuran rakyat selalu jadi alasan agar rakyat berkorban. Mengapa tidak ditanyakan kepada kaum feodal untuk berkorban lebih dulu" Dan teman temannya menjawab " Mereka menghidupi rakyat dan karena itu mereka harus kaya agar bisa terus menjaga rakyat". Tapi mengapa mengapa rakyat tetap miskin.? Teman temanya menjawab bahwa rakyat tidak miskin tapi bodoh, dan karena itu komunis di perlukan.". Manifesto komunis yang utopia untuk lahirnya masyarakat sosialis, hanya ada dalam tataran konsep dan pidato. Cara ampuh dan mudah menjadikan orang bodoh percaya kepada penguasa tanpa perlu kritis. Tak ubahnya dengan politisasi agama. Makanya antara agama dan komunis tidak pernah bisa berdekatan karena keduanya mempunyai cara yang sama merebut hati rakyat, yaitu populisme.

Revolusi kebudayaan China memang bau amis darah, menelan korban 25 juta orang kaum feodal mati dipengadilan rakyat. Namun berhasil mengubah total sudut pandang tentang komunisme, Bahwa komunisme bukan menjalankan cara Karl Mark berpikir tapi hanya metode mencapai tujuan sosialis. Setelah Mao wafat, Dengxioping mengembangkan paradigma baru komunis china melalui reformasi Ekonomi. Deng mengatakan bahwa dia tidak peduli mau kucing hitam atau kucing merah, selagi bisa menggenjot produksi maka itulah yang benar. Deng tidak membenci Agama dan tidak juga membenci kapitalisme, tidak juga mengidolakan Komunis. Bagi Deng apapun itu selagi rakyat bisa mendapatkan haknya berproduksi maka itu baik bagi China. Produksi berkaitan dengan aktifitas ekonomi mutual simbiosis antara si kaya dan simiskin, sipintar dan sibodoh. Dan lewat produksi rakyat di paksa cerdas untuk memakmurkan dirinya sendiri.

Manakala rakyat sudah makmur tentu mereka cerdas, maka pekerjaan politik menjadi hal yang tidak lagi heboh, seperti lapo tuak. Politik tak ubahnya dengan profesi lain. Engga qualified , ya ketendang dengan sendirinya.**

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Monday, May 8, 2017 - 10:15
Kategori Rubrik: