Politisi Dan Klaim

ilustrasi

Oleh : Septin Puji Astuti

Sejak tahun 2018, mahasiswa saya kalau ujian aja diminta membawa semua kuesionernya. Siap-siap kalau ditanya penguji. Itu karena beberapa dosen menemukan kejanggalan.

Contoh,
Mahasiswa ambul preliminary sampling 30 sample tapi tidak dilanjutkan sampai ambil sample sejumlah yang direncanakan, misal 100 sample. Lha gimana dia bisa analisis data? Kata mahasiswanya, data 30 itu dia 'replikasi' alias digandakan. Pengujinya langsung keluar tanduknyalah.

Ada lagi mahasiswa yang ketika ujian diminta menunjukkan kuesionernya karena datanya janggal. Ternyata dia tidak melakukan survey. Lha datanya darimana? Ya sulapanlah.

Makanya, kalau ada yang main klaim dan gak punya data, dan tetap teriak-teriak punya relawan yang bagus, itu patut dicurigai.

Ngomong tentang quick count,
... jadi gini lho. Data sample meski jumlahnya lebih sedikit tapi sudah mampu mewakili populasi (representatif) itu lebih bagus daripada data banyak sekali tapi tidak representatif. Sampling itu ada tekniknya lhoh. Teknik sampling saat eksperimen jangan disamakan dengan teknik sampling saat studi sosial ya. Jangan pakai 'purposive' sampling.

Jadi gak bisa cuma lihat sekitar kita trus PD buat kesimpulan. Kecuali risetnya memang tujuannya untuk memotret sekitar kita saja. Generalisasinya ya hanya berlaku untuk sekitar kita. Jangan dibuat kesimpulan untuk semuanya.

Oh iya, statistika itu memang dipakai saat ada ketidakpastian (probabilistik) dan ada variasi. Makanya dalam menaksir angka dikasih margin error. Dalam Quick Count (quik quon katanya rang orang itu), angka yang ditampilkan itu adalah rata-rata yang punya margin error tertentu. Misal, ditaksir angkanya perolehannya 51:49 persen untuk A dan B.dengan margin error 1,5. Berarti, rentang perolehannya A berkisar 49,5 sampai 52,5 persen. Nah kalau ternyata A dapat di bawah 50, bisa jadi B yang menang kan?

Makanya dalam beberapa kasus quick count yang angkanya perolehannya keket (selisihnya sangat kecil), misal 49 dan 51, bisa saja malah pemenangnya berbalik. Ini pernah terjadi saat Pilgub Jawa Timur tahun 2008 saat Mbak Khofifah kalah oleh Pakdhe Karwo. Padahal quick count kesannya memenangkan Mbak Khofifah. Coba baca ulasannya di sini https://www.kompasiana.com/…/54f6bd2fa33311fb598b4737/belaj…

Kasus yang mirip Pilgub Jatim juga terjadi di kota tempat lahir saya, Lumajang. Saya lupa tahunnya. Yang jelas bapaknya yang kalah akhirnya meninggal karena sakit. Waktu itu selisih perolehan suaranya sangat tipis. Nah kalau ini saya kenal penyelenggara quick countnya yang juga senior saya. Gara-gara hasilnya 'kebalik' itu lembaga QCnya dituntut :) Padahal itu karena banyak yang tidak paham margin error.

Nggih pun, gitu aja. 
Baiknya kalau mau klaim ganteng atau cantik itu surveynya jangan ke penggemar saja. Coba survey ke hater juga supaya paham posisi diri dan untuk perbaikan diri, ya. Yang jelas, kalau mau klaim ya pakai data.

Bagi yang masih semangat koreksi Form C1 di KPU, tetap semangat ya. Kata Bang Sandi, tetap kawal pemilu.

Sugeng enjing, sederek sedoyo ...
Selamat liburan

Sumber : Status Facebook Septin Puji Astuti

Sunday, April 28, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: