Politisasi Nilai Tukar Rupiah dan Persfektif Rakyat Jelata

Oleh : Rudi S Kamri

Saya bukan ahli ekonomi dan saya juga tidak pernah sekolah di bidang ekonomi. Keterkaitan saya dengan ekonomi adalah hanya saya harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga saya. Dari waktu ke waktu. Siapapun presidennya, siapapun menteri keuangannya. Saya selalu bergulat dengan masalah ekonomi domestik keluarga saya.

Sebagai rakyat jelata, saya telah mengalami gejolak kehidupan mulai dari Presiden Soekarno sampai Presiden Jokowi. Pada saat jaman Presiden Soekarno saya terlalu kecil untuk mengerti situasi ekonomi. Tapi di rezim Soeharto saya khatam dari A to Z. Saya menyaksikan Oil Booming tahun 1970-1980an. Saya menyaksikan Soeharto membangun kerajaan bisnis melalui kroni-kroninya dan anak-anaknya. Kebetulan saya cukup lama bekerja di salah satu perusahaan P3 (Putra-Putri Presiden), jadi sedikit banyak saya tahu permainan bisnis yang mereka lakukan. Karena waktu itu saya di jajaran 'middle management' jadi saya cukup sering "terpaksa" harus terlibat dalam bisnis patgulipat mereka.

Dan akhirnya terjadi krisis moneter tahun 1997 - 1998. Nilai tukar dolar terhadap rupiah menggila tak terkira. Nilai tukar Dollar di akhir Agustus 1997 berada di kisaran 1 USD senilai Rp 2.500,-. Dalam waktu tidak lebih dari 10 bulan dari jelang akhir Agustus 1997 hingga rentang Januari - Juli 1998 nilai tukar Dollar melejit melonjak mendekati Rp 16,800. Banyak pabrik yang mengandalkan bahan baku impor terpaksa harus gulung tikar waktu itu. PHK massal tidak terhindarkan. Rakyat Indonesia terkapar. Daya beli masyarakat anjlok.

Saya tidak terlalu tahu pasti secara teknis ekonomi. Tapi yang saya tahu waktu itu yang terjadi adalah komplikasi bobroknya rezim Soeharto dan ketidak-mampuan menteri-menteri ekonomi kabinet Soeharto serta pembusukan politik selama bertahun-tahun membuat situasi ekonomi-sosial-politik saat itu liar tak terkendali. Yang lebih konyol lagi saat situasi genting terjadi, anggota kabinet Soeharto bukannya solid tapi justru ramai-ramai mengundurkan diri. Dengan dimotori oleh Ginanjar Kartasasmita, Akbar Tandjung dll mereka kompak mundur dan tidak mau ikut tenggelam di perahu yang akan karam. Soeharto ditinggal sendirian.

Indonesia, khususnya Jakarta tahun 1998 sungguh porak poranda. Masalah bertubi-tubi. Kehebohan nasional dimulai dengan terjadinya penculikan beberapa orang aktifis pergerakan yang yang ternyata terbukti diotaki Prabowo Subianto. Kemudian terjadi tragedi penembakan mahasiswa Trisakti. Lalu demo mahasiswa meluas dimana-mana. Membuat Jakarta seperti ilalang kering yang mudah terbakar. Begitu disulut api kecil saja Jakarta terbakar. Kerusuhan masif dan berbau rasial terjadi dimana-mana. Pendek kata saat itu fundamental ekonomi Indonesia hancur lebur dan fundamental sosial politik remuk redam. Jadi sangat masuk akal kalau akhirnya Soeharto menyerah dan turun tahta.

Situasi tahun 1998 AMAT SANGAT BERBEDA dengan situasi 2018 saat ini. Saat ini menurut BI cadangan devisa kita aman, menurut Darmin Nasution fundamental ekonomi kita kokoh, daya beli masyarakat masih lumayan kuat. Saat ini TIDAK terlihat antrian orang beli sembako seperti tahun 1998. Secara mikro ekonomi masih aman. Tidak ada demonstrasi mahasiswa. Rakyat aman dan nyaman. Salah satu Indikator yang nyata terlihat saat euforia masyarakat terhadap Asian Games 2018. Contoh saat menjelang Closing Ceremony, pada saat penjualan tiket online dibuka 3 juta orang serentak berniat membeli tiket padahal tiket yang tersedia hanya 55 ribu tiket. Hadiah bagi para atlit pun seketika dicairkan Presiden saat pesta belum usai. Tidak terlihat kesulitan ekonomi di masyarakat. Rakyat masih terlihat tersenyum dimana-mana termasuk saya.

Saya punya keyakinan kuat, Pemerintah, BI dan OJK mampu menahan laju penguatan dolar terhadap rupiah. Dari hasil saya membaca ulasan beberapa pakar ekonomi, terjadinya penguatan dolar yang gila-gilaan lebih banyak disebabkan oleh faktor luar bukan karena masalah dalam negeri. Seperti terjadinya krisis di Argentina, Venezuela, Turki, perang dagang US vs China dan beberapa negara yang berdampak pada penguatan dolar secara global. Kalau ditanya apa kaitannya dengan rupiah, saya tidak bisa menjelaskan karena saya tidak ahli di bidang itu.

Secara makro perekonomian Indonesia masih aman terkendali. SAYA SANGAT YAKIN !!!

Lalu apa yang saya khawatirkan ?
Yang membuat saya khawatir dan prihatin adalah kondisi seperti ini terjadi di tahun politik. Kondisi seperti ini hampir pasti akan menjadi gorengan gurih lawan Jokowi. Mereka serasa mendapat amunisi kuat untuk menyerang Jokowi. Mereka yang sejatinya tidak punya program untuk menandingi prestasi Presiden Jokowi seperti mendapatkan durian runtuh untuk digunakan menyerang Jokowi. Mereka seperti anjing kudisan yang kelaparan kemudian mendapatkan daging busuk. Mereka pasti dengan rakus melahapnya dengan ganas.

Politisasi nilai tukar rupiah saya prediksi akan menjadi menu utama kubu lawan Jokowi. Mereka akan membanjir masyarakat dengan distorsi informasi dan aneka informasi yang diolah secara menakutkan. Mereka akan menakut-nakuti rakyat. Mereka tidak peduli akan terjadi chaos atau kegaduhan di masyarakat. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana bisa berkuasa.

Hanya ada dua kemungkinan kenapa ada ada orang orang yang menyamakan nilai tukar Dollar hari ini sudah segenting 20 tahun lalu :
PERTAMA
Mereka itu hanya melihat angka Dollar tapi tidak mengetahui angka angka lainnya termasuk UMR artinya data yang di miliki orang orang itu sangat minim sementara nafsu bicara mereka sangat besar.

KEDUA
Mereka paham data data tersebut di atas tapi mereka mencoba mendramatisir situasi seolah menakutkan dan berbahaya. Opini ini bisa jadi di desain untuk tujuan politik

Ini nyata-nyata hanya upaya PENYESATAN INFORMASI KEPADA MASYARAKAT.

Hanya kecerdasan masyarakat yang secara obyektif menangkal terjadinya pembusukan informasi. Pada kondisi ini kita akan bisa melihat dengan jelas, mana tokoh bangsa yang nasionalis sejati dan mana tokoh politik yang tega memanfaatkan situasi.

Ada yang masih ingat siapa yang bicara seperti ini : "Rampoklah harta tetanggamu yang sedang kebakaran" ?

Saya selalu ingat dan tidak akan pernah memilih dia jadi Pemimpin negeri ini !!!

Salam Satu Indonesia,
Sumber ; facebook Rudi S Kamri

Saturday, September 8, 2018 - 16:45
Kategori Rubrik: