Politisasi Agama

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Saya posting isu politik ingin menunjukan politisasi Islam dan politik Islam itu berbeda. Yang kedua Islam jadi pedoman, sedangkan yang pertama Islam dijadikan tunggangan.

Postingan saya tujukan untuk sama-sama melihat bahwa kesudahan dari politisasi agama dengan ragam bentuknya, adalah kegaduhan, perpecahan, dan kerusakan baik moril maupun materil bangsa dan negara.

Satu persatu telah kita saksikan.

Sejak jaman Nabi saw politisasi agama itu sudah dimulai. Yaitu menggemakan pendapat seorang sahabat untuk menjatuhkan sahabat Nabi yang lain, tujuannya agar persatuan diantara mereka terkoyak.

al-Qurthubi mengisahkan, pada saat tuduhan 'perselingkuhan A'isyah' (hadis ifki) belum dibantah al-Quran, Nabi cukup terpukul dan Sahabat Ali berkata " النساء سواهن كثير"، wanita bukan hanya Aisyah yang lain banyak.

Ucapan imam Ali membuat Sayidah Aisyah tersinggung. Ucapan Ali ini jadi senjata kaum munafiq untuk menyerang Imam Ali, padahal mereka jugalah yang menyebarkan isu perselingkuhan itu.

Mereka sadar pedang dan pertempuran tidak bisa memberikan mereka kemenangan, cara satu-satunya mengadu umat Islam dari dalam.

Untuk membela Ali, Nabi saw bersabda, 
من كنت مولاه فعلى مولاه

"Siapa saja yang mengakui Aku sebagai tuannya, maka Ali juga menjadi tuannya."

Kisah ini dikemukakan oleh al-Qurthubi dalam al-Jami Liahkam al-Quran Juz I hlm 225.

Saya dan mungkin juga yang lain yang dianggap Jokower, tidak pada posisi kubu Jokowi atau bukan, tapi berada pada kubu manapun yang menjadi antitesa politisi, partai politik yang melakukan politisasi agama.

Politisasi agama seperti kasus Imam Ali ini, adalah politik memecah ombak, mengoyak pertahanan dan soliditas umat dengan cara keji untuk mengambil keuntungan sesaat.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Saturday, January 13, 2018 - 23:45
Kategori Rubrik: