Politik Zonder Nurani

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Mobilisasi anak-anak berseragam pramuka meneriakkan yel-yel GANTI PRESIDEN yang mana dalam video tersebut terekam beberapa orang dewasa bersama anak-anak tersebut, betul-betul memuakkan, memalukan sekaligus menyedihkan. Anak-anak dijerumuskan untuk terlibat dalam politik praktis. Sementara citra Gerakan Pramuka Indonesia sebagai Gerakan Kepanduan yang Independen menjadi tercoreng oleh ulah segelintir oknum. Nampaknya sangat sulit bagi bani kampret menemukan cara-cara berkampanye secara simpatik dan beradab.

Nampaknya tidak ada masalah bagi bani kampret untuk berpolitik zonder nurani. Toh mereka bisa ngeles dengan mengatasnamakan dalil-dalil suci yang ditafsirkan dan dimutlakkan seenak perutnya sendiri. Pandangan hidup mereka monolitik. Dunia mereka hitam-putih. dan mereka mencoba memaksakan dunia dwiwarna itu kepada kita. Mereka tidak belajar dari kasus HOAX RS dan tentu juga tidak pernah mau belajar dari berbagai macam fitnah, ujaran kebencian dan hoax yang sudah mereka sebarkan.

Politisi, pengusaha, birokrat, aparat dan akademisi macam apa yang bersedia bekerjasama dengan dan memanfaatkan mereka ? Mereka mengira bahwa tujuan yang baik, mulia bahkan satu-satunya yang mereka anggap sebagai tujuan yang paling benar bisa dicapai dengan cara-cara yang salah dan buruk. Mereka tidak menganggap bahwa cara-cara yang benar dan baik itu tidak kalah pentingnya dengan tujuan yang benar dan baik.

Kejumudan mereka, ketidakmauan maupun kemalasan berpikir mereka serta kebodohan mereka ternyata dimanfaatkan dan dikapitalisasi secara sempurna oleh orang-orang yang menjadi patron maupun donatur mereka. Mereka ibarat zombie yang terus-menerus menebar konflik, perselisihan dan polemik. Kara damai terdengar asing di telinga mereka. Mereka tidak bermasalah sama sekali anak-anak meneriakkan ujaran kebencian bunuh kafir maupun bunuh Ahok. Kalau teriakan bunuh dan bunuh saja tidak dianggap sebagai masalah apalagi kalau hanya menitipkan pesan politik praktis kepada anak-anak berseragam pramuka.

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini ? Pertama, orang-orang dewasa yang terlibat memobilisasi anak-anak meneriakkan yel-yel ganti presiden perlu diusut tuntas dan diseret ke meja hijau. Kedua, Kementerian pendidikan selayaknya memberikan teguran secara serius terhadap sekolah tempat anak-anak tersebut menuntut ilmu serta menegakkan disiplin. Ketiga, Pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka perlu mengambil tindakan tegas membersihkan pramuka dari anasir-anasir jahat. Keempat, pemerintah perlu lebih serius melindungi anak-anak dari mobilisasi politik praktis dan inflitrasi anasir-anasir jahat.

Politik tidak berhati nurani sama saja dengan politik dengan cara-cara Machiavellis, politik menghalalkan segala cara yang harus kita tolak. Tidak ada kebaikan atau warisan yang patut dibanggakan apabila seorang politisi berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Sebab yang pertama dan utama menjadi korban adalah rakyat. Dalam hal ini anak-anak menjadi korban. Dan kita berharap bahwa mobilisasi anak-anak untuk kepentingan politik praktis ini adalah yang terakhir kalinya.

Berpolitik haruslah dengan hati nurani. Apabila anda tidak mampu memakai hati nurani dalam berpolitik, maka jangan terjun ke politik sebab hal itu akan menghancurkan anda. Dan konsekuensinya anda akan dikenang sebagai bagian dari kampret.

 

Sumber: facebook Guntur Wahyu Nugroho

Tuesday, October 16, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: