Politik Tingkat Tinggi Jokowi

 

Oleh: Alif Kholifah

Mundurnya Setya Novanto dari kursi Ketua DPR sebenarnya bukan karena tekanan yang dilakukan Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR. Namun piawainya Presiden Jokowi memainkan pertarungan. Baru kali ini Indonesia memiliki Presiden dengan kecerdasan perilaku dan budaya yang luar biasa. Dulu memang ada Presiden yang memiliki kecerdasan religiusitas yang tinggi, Abdurrahman Wahid namun kalah oleh "preman-preman" parlemen. Jatuhnya Presiden KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur sungguh memilukan rakyat Indonesia. Politisi-politisi jaman dulu sampai sekarang sama busuknya namun kini mereka ketemu batunya.

Joko Widodo, asli kelahiran dan dibesarkan di Solo benar-benar banyak memahami falsafah Jawa. Dalam kebudayaan Jawa, ada banyak falsafah yang masih menjadi pegangan hidup. Baik dalam menuntut ilmu, bekerja, berkeluarga hingga berpolitik. Kesantunan keturunan Jawa benar-benar menjadi ciri khas presiden ke 7 Indonesia tersebut. Kita mudah melihat dilayar kaca betapa presiden masih mau menuangkan air minum ke mantan Presiden Megawati, mengoleskan minyak wangi pada mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan berbagai perilaku lainnya. Sebagian masyarakat pun terkecoh hingga ada yang menjuluki dengan klemar klemer atau plonga plongo.

Bagi yang tidak memahami falsafah Jawa antara tegas dengan santun jelas berbeda konteks. Cukup banyak contoh yang bisa kita lihat selama 1 tahun kepemimpinan Jokowi. Lihat istana negara yang didatangi tidak hanya kalangan pejabat negara namun juga rakyat kecil mulai sopir taksi, sopir angkot, tukang ojek, petugas sampah, mahasiswa dan lainnya. Artinya presiden tahu posisinya, sebagai kepala negara atau presiden rakyat beliau bersikap melindungi, menghormati, melayani dan mendengarkan apa keluhan mereka.

Tapi bila ketegasan sikap terkait prinsip baik aturan hukum, etika dan moralitas, beliau sangat menjaganya. Meski sebagai orang nomor 1 di republik ini, beliau masih tetap sowan ke para kyai. Menjaga diri dengan ritualitas tingkat tinggi juga dilakoninya seperti puasa senin kamis. Masih mempertanyakan ketegasannya? lihat soal usulan Calon Kapolri Komjen Budi Gunawan yang diusulkan semua parpol di DPR bahkan didukung Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati, Jokowi keukeuh, menolak melantik. Yang memperkuat ketegasannya, apa yang terdengar dalam rekaman Papa Minta Saham dikemukakan oleh Setya Novanto.

"Presiden ini agak koppig tapi bisa merugikan semua". Koppig (kopeh dalam bahasa Belanda) artinya keras kepala. Hal itu menunjukkan konsistensi, prinsip dan keteguhan hati atas mandatnya sebagai kepala negara. Namun jangan dikira Presiden akan melawan secara langsung apalagi menjatuhkan. Lihat kasus Budi Gunawan, siapa yang mengira kemudian hampir "tidak ada perlawanan" sama sekali. Jangan salah, banyak yang bergerilya namun tak berdaya.

Kini, giliran Setya Novanto yang menjuluki Koppig kepada Jokowi kena batunya. Seperti dinyatakan dalam sebuah kesempatan, beliau secara pribadi mau dijuluki apapun akan terima namun ketika lembaga negara dibuat main-main akan ada tindakan tegas. Entah strategi apa yang dimainkannya dibelakang layar. Yang jelas, kini Setya Novanto sudah jadi anggota DPR biasa dengan berbagai fasilitas dicabut bahkan menanggung malu luar biasa. Pembelajaran pentingnya, rakyat jadi tahu bagaimana kelakuan pejabat-pejabat itu. Siapa yang seharusnya dipercaya dan siapa yang bersilat lidah mengaburkan fakta. Jokowi faham, ada banyak persoalan di negara ini dan harus diperbaiki secara perlahan. Karena kalau frontal, semua musuh akan bersatu menyerangnya sehingga yang dialami Gus Dur bisa terjadi padanya. Persoalannya bukan kehilangan jabatan presiden tapi rakyat yang akan menanggung kesengsaraan jauh lebih lama.

Dalam kasus Setya Novanto, Jokowi "bermain" politik dengan falsafah Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake. Hal ini berdasarkan penuturan Butet Kertaredjasa yang hadir di Istana Negara Rabu (16 Desember) malam. Disaat Setya Novanto dengan berat hati membuat surat pengunduran diri sebagai Ketua DPR, Presiden Jokowi malah makan malam dengan 17 pelawak kondang dan tertawa lepas. Jumlah hakim MKD juga kebetulan 17 orang. Tentu ada pesan yang hendak disampaikan oleh presiden bahwa kelucuan sidang MKD mengalahkan kelucuan 17 pelawak kondang yang dihadirkan di istana. Meski begitu beliau tetap memegang teguh Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake (Berperang tanpa teman dan menang tanpa membuat malu lawan).

Thursday, December 17, 2015 - 18:30
Kategori Rubrik: