Politik tetaplah Politik.

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Begitu hebatnya kita mengatakan Ahok kafir dan bahkan ada ulama yang mengharamkan bersalaman dengan Ahok. Tapi seorang Raja Salman yang di takdirkan sebagai raja penjaga dua tanah suci, menyalami Ahok. Padahal Arab menjadi inspirasi perjuangan bagi sebagian umat islam untuk menegakkan syariat islam di Indonesia. Begitu hebatnya kita mengatakan China itu musuh laten karena komunis anti Tuhan. Begitu hebatnya kebencian kita kepada China, bahkan lebih benci dari Jepang dan Belanda yang jelas jelas pernah menjajah kita. Tapi Raja Salman justru menjalin kemitraan permanen dengan China. Bahkan tumpuan terakhir Arab mendapatkan solusi dari krisis anggaran setelah di cuekin sahabat lamanya.

Kita mendengungkan kalau memilih Anies-Sandi maka Jakarta akan bersyariah. Jakarta akan menjadi kota Islami.. Tidak ada lagi tempat pelacuran karena akan ada aturan gubernur yang menghukum bagi pezina, Sementara negeri ini berdasarkan Pancasila, dan Gubernur tidak berhak menentukan aturan yang bersifat umum tanpa izin dari DPRD. Sementara DPRD dikuasai oleh mayoritas Partai sekular. Terbukti Anies-Sandi di usung Partai Gerindra yang salah satu anggota dewan pembinanya beragama Kristen, dan salah satu Partai yang paling kuat mendukungnya Parindo juga di pimpin oleh non Muslim. PKS yang mengusung Aneis di wilayah lain juga mengusung calon non muslim.

Begitu hebatnya semangat perjuangan menjatuhkan Ahok dan menjadikan Anies-Sandi sebagai Gubernur tapi pasangan Anies_Sandi sampai kesulitan mengumpulkan dana kampanye. Padahal berjihad itu salah satunya ya dengan harta. Mengapa untuk mendapatkan dana Rp 60 miliar untuk Anies sulit sekali. Kemana jutaan massa kolosal itu?. Kita mensucikan Firman Allah namun ayat Al Quran kini di pakai oleh petualang bisnis untuk mendapatkan pasar sabun, minimarket, tamasya, wifi. Bukan tidak mungkin besok besok berbagai nama ayat Al Quran akan di pakai orang untuk nama produk menguasai pasar. Maka jadilah AL Quran bagian dari bisnis kapitalis : kampanye simbol menarik untung. Pasar di create pakai nama ayat Al Quran dan juga di pakai untuk menjadi gubernur melalui sistem sekular.

Apa yang saya sampaikan diatas merupakan rekaman peristiwa yang terjadi sehari hari dalam proses politik menuju Jakarta memilih. Saya tidak yakin Anies-Sandi adalah pribadi yang mau menghalakan segala cara untuk menang. Apalagi menggunakan jargon agama dengan standar intelektual rendah. Engga mungkin. Tapi apa yang terjadi adalah cara brutal team sukses masing masing paslon untuk menarik massa. Mengapa ? berdasarkan Survey, Data menunjukkan bahwa hanya 35% penduduk Jakarta yang menjadikan isu agama (identitas) sebagai rujukan utama dalam memilih pemimpin. Artinya pemilih konservatif banding pemilih modern 35:65. Jadi silent mayority itu adalah pemilih modern

Jadi isyu agama yang ada lebih banyak merugikan Anies-Sandi daripada merugikan Ahok-Djarot. Walau hasil survey menunjukan Anies -Sandi unggul namun last to minute, swing voters bisa saja menghukum Anies-sandi dengan kekalahan yang menyakitkan dengan selisih suara tipis sekali, sama dengan kekalahan PS ketika pilpres..Siapapun yang menang dengan cara engga intelek yang rugi tetap rakyat...tapi apa mau di kata, Politik tetaplah politik.. **

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Friday, April 7, 2017 - 11:30
Kategori Rubrik: