Politik Tali Kutang

Oleh : Denny Siregar

"Sebenarnya yang semakin deg2an ketika Setnov terpilih jadi Ketua umum Golkar adalah PDI-P.."

Diskusi sore berlangsung dengan hangat ditemani bercangkir2 kopi, yang sayangnya tanpa ditemani tahu isi. Rasanya tahu isi sudah semakin hilang dari peredaran di meja diskusi. Karena itu saya berencana membuat tagar ‪#‎savetahuisi‬.

"Apa hubungannya dengan PDI-P ?" Tanyaku heran sambil menarik sebatang rokok dari bungkusnya.

"Jadi begini..." Temanku melanjutkan. "Di Golkar ini sebenarnya terjadi pertarungan antar elit. Biar bagaimanapun jelek rupanya, Golkar tetap punya posisi yang tidak bisa diremehkan. .. Disana ada Jusuf Kalla yang ingin memegang kendali Golkar.."

"Untuk apa ?" Tanyaku lagi.

"JK selama ini kan tidak ada kendaraan sehingga posisi tawarnya di pemerintahan lemah. Nah ketika orang2nya menguasai Golkar, maka ia akan menaikkan posisi tawarnya kepada pemerintah. Bahaya, bisa terjadi seperti ketika ia masih menjadi Wapres SBY, ada matahari kembar atau dualisme kepemimpinan di istana.."

Menarik juga pikirku.

Temanku melanjutkan, "Yang mewaspadai ini adalah Luhut Panjaitan. Sebagai sesama eks Golkar, Luhut paham sekali sifat oportunis kapitalis-nya Golkar, yang dulu membuatnya keluar dari partai itu karena gak tahan. Di Golkar itu modelnya harga lu cocok, gua ngangkang. Nah sekalian aja dibuat pertarungan kangkang2an... Luhut pegang Setnov yang di belakangnya ada Ical. Dua karakter yang mempunyai kesamaan visi, kemana rejeki Tuhan mengalir disitu aku bertobat. Dan seperti kita tahu, mereka akhirnya menang dan mendukung Jokowi untuk periode kedua... Bahaya kalau bukan mereka dan dipegang orangnya JK, karena nanti ia bisa main sandera kebijakan Jokowi..."

"Lalu apa hubungannya ma PDI-P yang deg2an ?"

Temanku tersenyum penuh arti persis seperti senyum tante Sonya di buku Enny Arrow waktu ia sedang menggoda Johan, pemuda belasan tahun yang belum pernah memyentuh perempuan.

"Ya jelas PDI-P deg2an... Luhut bisa menggunakan Golkar sekarang sebagai alternatif partai pendukung Jokowi di 2019, kalau Mama Mega masih terus memaksakan kehendaknya bahwa Jokowi petugas partai. Mama Mega jelas traumatis dengan membangkangnya Ahok di pilgub DKI, dan itu bisa terjadi lagi dengan Jokowi di pilpres nanti. Jelas PDI-P akan rugi besar... Pada situasi sekarang Golkar dibawah ketek Jokowi, PDI-P sudah tidak bisa lagi arogan dan macam2... "

Ah, bisa kulihat kemana arahnya membuat kopi semakin menarik untuk diseruput.

Memang politik itu seperti tali kutang. Terlalu ketat, bikin sesak... Terlalu longgar, merosot-lah itu barang. Karena itu, kancing yang teraman adalah di barisan kedua. Biar pas, mantap posisinya.....** (ak)

Sumber : Facebook Denny Siregar

Friday, May 20, 2016 - 11:15
Kategori Rubrik: