Politik Masjid

ilustrasi

Oleh : Meilanie Buitenzorgy

Salah satu professor Australia kolega teman bobo saya adalah seorang muslim. Beliau dari ethnic Bangladesh, punya 2 putra hafiz Quran. Suatu hari iseng2 kami nanya beliau, "Boss, you kan sudah pensiun. Kenapa gak mengabdi jadi pengurus masjid XYZ aja?" kami menyebut nama masjid Bangladesh di Australia, tempat kami dan si Prof sering shalat.

"Ogah! Politik masjid tuh ya, bikin pusyiiing. Selalu ada perkubuan yang saling berebut pengaruh." jawab si Prof. Padahal anak si Prof yang hafiz Quran itu sering ditanggap jadi imam tarawih.

Masjid Indonesia di Sydney juga seperti itu nasibnya. Begitu kepengurusan dikuasai kelompok "You-know-Who", maka yang bisa ceramah di masjid tsb cuma ustadz2 yang sehaluan dengan pengurus.

Tersebutlah Prof Nadirsyah Hosen yang ilmu dan karya-karya ke-Islaman-nya luar biasa mumpuni. Putra ulama besar NU ini sempat lama tinggal di pinggiran Sydney karena bekerja sebagai professor di University of Wollongong. Etapi mana pernah Prof Nadir ditanggep ceramah di masjid Indonesia tsb semenjak kelompok "You-know-who" menguasai masjid. Tiap Ramadhan, pengurus malah ribet2 dan mahal2 mendatangkan narsum dengan keilmuan nanggung dari Indonesia.

Sekarang lau-lau bayangkan. Ngurusin masjid lokal aja masih rebutan dan kubu-kubuan. Gimana caranya nih orang-orang bisa amanah dan satu kata milih SATU ORANG untuk jadi Khalifah trans-nasional?

**PengenDosaTakutNgakak**

Sumber : Status Facebook Meilanie Butenzorgy

Monday, June 24, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: