Politik Kuda Troya Golkar

Oleh : Semuel S.  Lusi

Sebuah kisah klasik yang gemar dikutip untuk menggambarkan ragam intrik dan modus peran di panggung politik adalah Kuda Troya (Troya Horse). Kisah ini menceritakan kecerdikan dan kecermelangan seorang Odisseus merancang strategi. Dikisahkan perang antara Yunani dan kerajaan Troya yang berlarut telah memakan waktu dan korban tak terhitung. Meski Troya berulang kali dikepung dari berbagai penjuru namun tentara Yunani (dengan dibantu Sparta) tidak pernah berhasil menembus benteng pertahanan kota. Bertahun-tahun bertempur tanpa hasil membuat pasukan Yunani frustasi. Odisseus kemudian memerintahkan pasukannya membangun sebuah kuda kayu raksasa, yang didalamnya bisa diisi sejumlah prajurit pilihan dan terlatih. Setelah itu pasukan Yunani pura-pura meninggalkan kuda di luar kota, seolah mereka mundur dari Troya. Melihat pasukan Yunani yang sudah pergi, pasukan Troya mengira Yunani telah menyerah. Patung kuda raksasa yang ditinggalkan itu dibaca sebagai pernyataan kekalahan Yunani. Maka, dengan sorak riang orang-orang Troya menggotong masuk patung kuda ke dalam kota, lalu merayakan kemenangan mereka. Pada tengah malam para prajurit Yunani yang bersembunyi di dalam perut kuda keluar lalu membuka pintu gerbang kota Troya sehingga pasukan Yunani yang telah kembali dengan diam-diam masuk dan menghancurkan seluruh isi kota Troya, hanya dalam sekejap. Troya pun takluk dan dikuasai sepenuhnya oleh Yunani.

 Instrumentasi kuda Troya di zaman politik modern ini telah mengalami banyak improvisasi dan modivikasi. Esensinya adalah simbol “sebuah kendaraan atau alat,” yang didalamnya disembunyikan berbagai maksud dan niat (biasanya dikaitkan dengan yang negatif dan jahat) pemiliknya. Pengalaman menunjukkan, misalnya UU MD3 yang diarsiteki KMP berhasil melumpuh-totalkan parpol pemenang pemilu sehingga mereka sepenuhnya menguasai parlemen. PDIP seperti pengemis di istananya sendiri. Kita bisa amati bahwa banyak juga produk politik yang di-kuda-troyakan demi kepentingan kelompok dan bisnis.

Pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini adalah, pertama; jangan gegabah menerima “hadiah” atau “pernyatan kalah” dari musuh. Kebanyakan musuh hanya “pura-pura kalah,” lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang pada posisi yang telak mematikan. Kedua; sebagai simbol kuda troya bisa didisain sangat menarik, disesuikan dengan selera dan gaya calon korban. Sedemikian menarik dan indahnya sehingga mustahil dikenali sebagai jebakan atau semacam kopi berkualitas beraroma menawan namun tercampur racun sianida.

Siapa tidak senang bila para politisi bersatu membangun bangsa? Pertarungan dan kisruh legislatif yang dibajak KMP dengan semua anteknya melawan KIH, yang juga didalamnya banyak figur brutus, si penghianat sejati? Situasi chaos tak berujung itu membuat pemerintahan Jokowi seperti dipaksa berlomba di lintasan kompetisi untuk memajukan bangsa, sambil menarik gerbong raksasa berisi sampah yang tidak saja super berat melainkan super busuk, juga super berisik. Rakyat sendiri, yang sempat terbelah oleh perbedaan preferensi politik pasca Pilpres sebagian besar sudah saling dukung oleh nalar obyektif melihat prestasi dan keseriusan kerja Presiden dan para pembantunya.

Maka, masuknya Golkar sebagai pendukung pemerintahan Jokowi-JK menjadi kabar sukacita yang patut dirayakan. Sangat menjanjikan. Setidaknya, rakyat, dan tentu saja presiden Jokowi berharap dengan dukungan tersebut, kadar kekisruhan yang membebani laju gerak eksekutif memutar roda pembangunan menjadi berkurang.

 Namun, sepak terjang Golkar dan para politisi KMP selama ini memperkuat “jargon politik tuna etika” khas Machiavelian yang menyatakan, “tidak ada musuh atau kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.” Ini semacam “gaya politik” yang sudah mendarah daging sehingga terbiasa dilakoni. Padahal, para politisi modern yang rajin merawat nurani dan memandu nilai-nilai moral etik, meski mengakui kebenaran praktis operasi fatsun itu di lapangan politik yang memang penuh ranjau, namun memiliki komitmen kuat untuk menghindari mempraktekkannya. Sayang, Golkar dan terlebih ARB (atau orang semacam Setya Novanto dan Nurdin Halid) sulit dimasukkan dalam kategori politisi modern itu.

Pengalaman-pengalaman riil dari pengamatan publik terhadap kiat-kiat Golkar di pentas politik memberi alasan, sekaligus alarm kepada pemerintah agar menyikapi sikap Golkar ini dengan meningkatkan status waspada ke level kritis. Dukungan Golkar cukup mudah terbaca setengah hati. Lebih dari itu, tidak ada salahnya diwaspadai posibilitasnya sebagai “paket buku berisi bom.” Alasannya sederhana, yaitu Golkar tidak pernah mengatakan keluar dari KMP. Bahkan, di dalam pidato politiknya di Rapimnas itu ARB menegaskan posisi Golkar: "Kepada sahabat saya dari KMP, harus kita katakan bahwa tali perkawanan kita tidak kendur sedikit pun. Kita tidak keluar dari KMP. Kita tetap berada di kubu kebangsaan, Koalisi Merah Putih."

Jadi, apa beda antara mendukung tetapi tetap di koalisi oposisi dengan tidak mendukung pemerintah? Politik dua kaki ini bukankah jelas sebagai intrik kuda troya? Ini juga mengandung arti bahwa keputusan Golkar tersebut direstui sepenuhnya oleh KMP. Kita ingat, mereka baru saja bersekutu dan kompak bulat mendukung Setya Novanto dalam kasus “Papa Minta Saham”di pengadilan etik MKD. Bahkan, masih juga solid melindungi Setya Novanto dari panggilan Jaksa Agung hingga detik ini, dan mungkin saja terhadap semua tindakan hukum yang akan menimpa salah satu ujung tombak andalan KMP itu. Tidak ada peristiwa luar biasa yang membuat kekuatan internal KMP terbelah dan soliditas terganggu. Para pimpinan KMP masih terlihat kompak hadiri acara pembukaan Rapimnas Golkar 23 Januatri 2016. Fadli Zoon, salah satu tokoh kunci Gerindra, yang juga tokoh yang selalu tampil antagonis di panggung politik Jokowi pun mengomentari deklarasi dukungn Golkar ke pemerintah, bahwa Gerindra juga mendukung Jokowi-JK. Komentar yang terkesan ringan dan biasa saja memperkuat dugaan bahwa “kepergian Golkar” itu tidak saja direstui, melainkan patut diduga sebagai bagian dari strategi KMP.

Alasan lainnya. Bukankah ARB adalah ketua presdium KMP, dengan kata lain “pimpinan tertinggi,” dan “panglima perang” KMP? Apakah dengan mendukung pemerintah, ARB pernah menyatakan diri mengundurkan diri sebagai pimpinan koalisi? Atau, dapatkah diterima nalar kalau seorang pimpinan koalisi oposisi pada saat yang sama menjadi pendukung pemerintah yang menjadi lawannya? Panglima perang macam apa yang begitu mudahnya menyeberang ke kubu lawan? Bagaimana bisa mengharapkan dukungan tulus dan total dari Golkar, padahal ARB sebagai pimpinan oposisi yang masih terbebani tanggungjawab berat atas berbagai kekalahan bertubi-tubi, dan juga bahwa perang politik masih akan menuju puncak di pilkada serentak tahap II tahun 2017?

Ingat, kuda Troya masuk ke istana yang memiliki benteng pertahanan kokoh dengan cara elok menawan. Tanpa korban. Tragisnya, justru dibawah masuk oleh bala tentara Troya sendiri. Tentu atas perintah kerajaan. Setidaknya, dengan pengetahuan kerajaan. Aburizal Bakrie (Ical) liburan bersama artis kakak beradik Marcella dan Olivia Zalianty ke Maladewa.

Demikian pula, cara Golkar masuk istana tidak kalah menawan dan elok. Dengan kelihaian seorang perayu sejati seperti ARB, yang kita ingat masih gemar menaklukan artis-artis muda macam kakak beradik Marcella dan Olivia Zalianty sukses diajak berlibur ke Maladewa, berpantun ria layak ABG kesurupan jatuh cinta dan menggoda gadisnya:

"Dari Solo sampai Jakarta, menang di sini menang di sana. Presiden Jokowi harapan kita, junjunglah hukum majulah bangsa," demikian kang Ical melempar umpan bualan, yang disambut tawa riang para peserta Rapimnas. Entah, para punggawa istana yang hadir.

Tetapi, sebetulnya secara implisit, entah disadari atau tidak, pantun berikutnya bila disimak dengan sabar akan ketahuan mengandung pesan teror berbahaya:

Laju-laju perahu laju, ombak meninggi anginnya kencang Pandai-pandai Golkar melaju, hindari biduk terhempas karang.

 Air menggunung datang dan pergi, perahu pinisi melawan badai Mari bung satu kembali, rebut kembali kejayaan partai

Di sini ARB mengakui berbagai badai masalah yang dihadapi, silih berganti tak putus-putus. Meski biduk Golkar masih lincah membelah gelombang, ketahanannya makin lemah lantaran tak habis-habisnya dihantam prahara. Itulah sebabnya, semua kekuatan perlu bersatu. Himbauan bersatu dari kang Ichal, sang komendan, mungkin tidak hanya ditujukan kepada semua kader Golkar, melainkan juga kader KMP. Yang telah kocar kacir, terkoyak oleh frustrasi kekalahan di berbagai medan tempur, juga kelelahan dan luka menganga saling tikam di antara para elit. Tentu saja, juga oleh belati kang Ichal sendiri. Dan, secara implisit tetapi jelas dan tegas, frase, “rebut kembali kejayaan” yang mengikuti himbauan “bersatu kembali” menyiratkan pesan kuat, bahwa “masuk ke istana” itu merupakan kesempatan dan pintu masuk, tidak saja untuk terlindung dari badai, tetapi terutama untuk merebut kembali kejayaan, yaitu kekuasan istana. Ini sebuah pesan simbolik.

Rayuan ARB tidak saja sebatas pantun dan puisi. Itu nanti terkesan sebagai gombal. Maka, untuk menunjukkan sikap serius sehingga bisa meyakinkan, rayuan itu diperkuat dengan deklarasi formal dukungan politik ke Istana. Deklarasi yang narasinya secara ekplisit ditulis menyolok di sebuah wadah kanvas terbingkai berukuran 1 meter itu dibacakan dengan gaya heroik dan suara menggelegar oleh Yorrys Raweyai, diikuti secara serentak oleh 34 pimpinan DPD Golkar seluruh Indonesia. Seperti layaknya mengucapkan sila-sila Pancasila di upacara bendera. Bunyi deklarasi tersebut sebagai berikut:

“Berdasarkan keputusan Rapimnas 23-25 Januari tahun 2016 dan sesuai panggilan doktrin karya, siaga, gatra, praja senantiasa berkarya dalam pembangunan serta atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Partai Golkar mendeklarasikan diri mendukung dan bersama pemerintahan Joko Widodo Jusuf Kalla, untuk melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.”

 Kanvas simbolik prasasti dukungan itu lalu diserahkan langsung oleh ARB kepada para sesepuh istana, yaitu Luhut Pandjaitan, Tjahjo Kumolo dan Yasonna Laoly. Dan, mungkin dengan gembira riang “patung kuda Troya” diboyong ke dalam istana pemerintahan Jokowi-JK?

 Luhut tentu bukan sembarangan. Dia seorang Jenderal dengan reputasi aduhai unggul. Sebagai demikian, ia sudah terlatih dengan insting natural, bahkan meski tanpa melirik bentuk fisik ornamen metaforik itu, ia sudah dapat mengendus totalitas isi dan potensi merusaknya. Di dalam istana, sang Jenderal tahu persis dimana sebaiknya “kuda Troya” itu ditempatkan supaya isinya tidak keluar untuk membuka gerbang bagi masuknya musuh-musuh negara dan musuh pembangunan. Ketidakterburu-buruan presiden Joko Widodo menanggapi deklarasi Golkar juga menunjukkan sikap kehati-hatian yang cerdas. Presiden membiarkan jeroan kuda troya itu terbaca sepenunya dulu barulah menyikapinya dengan pantas.

Kepantasan sikap presiden itulah yang patut kita tunggu. Sambil roda pembangunan tetap dipacu, kita berharap kuda troya Golkar lebih banyak membawa berkat daripada laknat.

Sumber: Kompasiana

Wednesday, January 27, 2016 - 12:30
Kategori Rubrik: