Politik Kucing Kurap

Oleh: Biakto

Istilah Kucing Kurap banyak dipakai di wilayah Sumatera, arti kiasannya adalah Kucing terlantar dgn penyakit kulit yg merontokkan bulunya, dan merusak kulitnya, bau anyir dari lukanya membuat orang enggan memegangnya.

Kondisi perpolitikan Indonesia saat ini yg begitu tidak mendidik khususnya dari paslon no 2 yg selalu melontarkan isu picik, menjijikan, menyerang lawan politik seperti sapi yg kupingnya kemasukan jangkrik. Kalap, sampai nafasnya megap-megap.

Menyerang dengan kebohongan yg berkepanjangan mereka pikir inilah cara effektif untuk menang. Mereka pikir semua orang berotak curang seperti mereka. Mereka lupa keburukan sikap itu akan melekat menjadi stigma. Di saat pemerintah dgn presiden yg berkompeten sdg menata carut marut negara yg pondasinya nyaris sudah tak ada, bahkan pancasila hampir dihilangkan, sumber daya alam jadi bancaan, sumber daya manusia di telantarkan. Jangankan menuju menjadi negara maju, mengekor saja nyaris tak mampu. Semua itu karena kita terlalu kemayu menerima subsidi dan janji palsu dari pemerintah sebelumnya yg ternyata lebih parah dari lintah darat.

Kondisi memasuki 5 tahun terakhir yg kita rasakan, mata siapa yg tak melihat penataan dan pemerataan pembangunan, begitu kita rasakan khususnya saudara kita dibelahan Timur Indonesia yg lama dibiarkan bak saudara tiri yg terpinggirkan. Bila ada usaha menolak kenyataan ini, maka sudah pasti dia bukan manusia tapi bisa saja hantu, memutarbalikkan fakta, menakut-nakuti, atau bahasa kerennya " gondoruwo". Ya mereka gondoruwo yg bisanya menakut-nakuti, tanpa bisa memberi solusi. Bagaimana mungkin hantu bisa membantu, ujudnya saja tak menyatu.

Keterbelahan nafsu dan akal pada tataran manusia pasti ada, dan itu nyata. Kebodohan yg di dramakan kaum picisan berpolitik kucing kurap ini masih juga banyak pengikutnya. Kita tidak perlu gusar karena penyakit itu akan menggerus kulit dan membuat luka menganga serta merenggut nyawanya.

Kita luaskan saja samudra kebaikan utk menenggelamkan keburukan. Tidak akan ada kesalahan yg bisa dipaksakan menjadi kebaikan, satu-satunya jalan, mengajaknya baik atau membiarkannya mati nelangsa dgn sakit bathinnya.

Indonesia sedang masuk persneling 3, didepan masih banyak tanjakan, untuk naik, kita tidak bisa hanya melihat lambaian tangan dari pinggir jalan, kita harus fokus kedepan agar kita sampai ke puncak tujuan, maju dan mapan.

JANGAN DENGARKAN OCEHAN MURAHAN, WAKTU KITA AKAN SIA-SIA BILA TERUS MELADENI ORANG GILA YG TAK BISA APA-APA, BUAT APA..

BIARKAN MEREKA TETAP DISANA DGN PILIHANNYA, PINGGIR JALAN ADALAH TEMPATNYA SAMPAI WAKTU YG AKAN MENENTUKAN APAKAH KESEMBUHAN ATAU KEMATIAN YG MENGENASKAN.

INDONESIA HARUS DIGDAYA, JOKOWI PILIHAN KITA.

#JOKOWILAGI

(Sumber: Facebook Biakto)

Tuesday, November 13, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: