Politik Khotib

Ilustrasi

Oleh : Iwan H Suriadikusumah

Pelan tak terasa, halus tak terkira, memabukkan dan menghanyutkan, tapi Perppu Ormas boleh dibikin, missi Ormas Radikal mah jalan terus.

Di mesjid tadi Khotib dengan cerdas dan cerdik memelintir keterangan Mendagri yang menerangkan mengenai Perppu Ormas yang baru disahkan DPR dan ditandatangani Presiden.

Kisahnya sangat mirip dengan anekdot yang baru-baru saja beredar ini:

DRAMA INDAH MASA KINI

WARTAWAN: Pak Menteri, Bapak lebih suka makan ayam goreng atau gulai kambing?
MENTERI: Wah, saya suka ayam goreng, Dik.
W: Ayam goreng pakai tepung atau tidak, Pak?
M: Ya, Pakai tepung saya suka.
W: Seperti model KFC atau McD itu ya, Pak?
M: Ya, kurang lebih mirip begitulah.

HEADLINE DI MEDIA: "Menteri Anu Lebih Suka Ayam Goreng KFC Model AMERIKA dan Tidak Suka Gulai Kambing Tradisional dari Indonesia."

KEMUDIAN Wartawan Media online MENULIS: "TERLALU! Gaya Hidup Menteri Anu Kebarat-baratan!"

Si Fulan membaca, lalu bikin status di FB: "Hati-hati dengan Menteri Anu yang mendukung bisnis Liberal-Kapitalis
daripada pertumbuhan ekonomi kerakyatan."

Wartawan Online Abal-abal menulis: "Menteri Anu benci kepada daging kambing makanan Rasulullah SAW."

Si Konyol menulis Tweet: "Astaghfirullah. Ada upaya penyesatan Akidah! Kambing yang disukai Rasul dianggap tidak baik oleh Menteri Anu. Kita sedang digiring kepada cara pandang kafir."

Akhirnya Si Menteri, bludreg alias darah tinggi. Jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit.

Tapi Si Bonyok nulis pesan di Grup WASAP: "Mampus lo menteri Anu! Kualat! Berani-beraninya membenci Rasulullah."

Dalam kisah khotib di mesjid tadi, MENDAGRI itu sebetulnya menerangkan bedanya Perppu Ormas yang baru ini dengan ideologi Marxisme/Komunisme yang jauh-jauh hari sudah dilarang melalui TAP MPRS No. 25 Tahun 1996 dulu.

Yang khotib tekankan malahan: "Mendagri mengatakan bahwa ideologi Komunisme dan Marxisme itu tidak bertentangan dengan UUD '45 dan Pancasila!"

Gerilya pelintiran semacam ini kelihatannya sudah mulai gencar masuk lewat mesjid-mesjid di pinggiran-pinggiran dan perkampungan. Sasarannya memang masyarakat yang sederhana, awam dan bodoh politik.

Ini bukan dakwah agama, melainkan politik hitam yang menunggangi Agama Islam. Permainan asli para politisi radikal yang menumpang Islam. Yang pekerjaannya mempermainkan nama Allah sesuai dengan kepentingan politik mereka.

Yang penting sukses Pilkada DKI Jakarta terulang massif di seluruh Indonesia pada Pilpres 2019 nanti.

Pakai Cara Machiavellist: THE END JUSTIFY THE MEANS. Alias Tujuan Menghalalkan Cara.

Sumber : Status Facebook Iwan H Suriadikusumah

Saturday, October 28, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: