Politik Ketakutan

ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Politik Ketakutan alias The Politics of Fear adalah strategi politik yang menciptakan rasa takut yang berlebihan bagi orang, sehingga dengan didorong oleh alam bawah sadar mereka, mereka akan mencari pemimpin yang diyakini mampu memberi rasa aman, atau meromantisasi kepemimpinan dahulu yang dirasakan pernah memberi rasa aman.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah dengan konflik dan kekerasan yang berkepanjangan, terutama yang diakibatkan oleh konflik maupun perang akibat pergantian kepemimpinan dari rezim diktator ke pemerintahan baru, akan berharap untuk kembali ke rezim diktator sebelumnya.

Di Iraq dan Yemen misalnya, banyak warga masyarakat yang membayangkan betapa terkontrolnya stabilitas saat dipimpin oleh Saddam Hussein dan Ali Abdullah Saleh dulu. Bagi mereka, pemimpin yang korup, keluarganya yang korup, tidak adanya pemerintahan yang bersih, ketiadaan sarana dan pelayanan publik itu bisa ditolerir, sepanjang ada stabilitas.

Indonesia pasca runtuhnya rezim diktator Soeharto yang memerintah dengan sangat otoriter selama 32 tahun, mengalami berbagai konflik, ekstrimisme dengan kekerasan, sampai pada terorisme. Disamping itu ada kegaduhan politk di tingkat daerah, maupun di tingkat nasional. Semuanya ini membuat orang merasa tidak nyaman dengan 'kehidupan baru', dan cenderung tidak melihat perbaikan di sektor pembangunan, di pelayanan publik, di penataan birokrasi, di penataan pemerintahan yang bersih sebagai sebuah progress pasca runtuhnya rezim otoriter.

Ketidaknyamanan itu berimbas pada kembalinya romantisme terhadap kondisi stabilitas di jaman pemerintahan otoriter yang sangat terkontrol bahkan represif dan tidak menghargai hak asasi manusia.

Kondisi psikologis ini yang biasanya dimanfaatkan oleh politisi-politisi yang ingin mengembalikan cara-cara memerintah dengan otoriter. Mereka permisif bahkan berkontribusi dalam meningkatkan ketidaknyamanan tersebut dengan tujuan membuat orang menjadi bertambah takut, dan dalam ketakutan itu, mereka menawarkan solusi seperti yang dilakukan oleh rezim otoriter sebelumnya.

Dalam pertarungan pilpres 2019 ini, politik ketakutan itu sangat terlihat jelas dipergunakan oleh kubu 02. Mereka mengkampanyekan toleransi kepada intoleransi dengan menggandeng kelompok-kelompok ekstrimis, mereka menyebar hoaks dan ujaran-ujaran kebencian bahkan tidak segan-segan menunjukkan kebohongan secara publik. Semuanya ini dipergunakan agar rakyat menjadi tidak percaya kepada penegakan hukum yang sedang dilakukan oleh pemerintahan sekarang, dan disaat itu, rakyat mencari sosok yang dirasa mampu mengembalikan stabilitas seperti jaman dulu, yang mereka tawarkan.

Pilihannya ada di rakyat sekarang. Apakah ingin kembali ke jaman dulu dimana stabilitas semu itu diciptakan tapi kepastian hukum itu hanya berlaku kepada mereka-mereka yang dekat dengan kekuasaan saja, sedangkan para pengkritik pemerintah dipersekusi, ditahan tanpa proses hukum yang transparan, dikarungin, diculik dan dihilangkan paksa?

Salam,

#IndonesiaTanahAirBeta

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Thursday, January 24, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: