Politik Kekinian VS Politik Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Tidak salah kalau dikatakan bahwa Nabi SAW itu berpolitik, menjadi pelaku aktifitas politik. Wong nyatanya beliau malah jadi kepala negara.

Maka tidak salah kalau ada yang berpendapat bahwa Islam jangan dipisah-pisahkan dari politik. Juga tidak salah kalau ada yang memperjuangkan Islam lewat jalur politik. Silahkan saja dan tidak jadi masalah.

Namun juga perlu diingat bahwa lawan politik Rasulullah SAW itu umumnya orang kafir betulan. Trio Abu misalnya, Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sufyan sebelum masuk Islam.

Di masa damai jadi musuh dan dalam pertempuran halal darahnya boleh dibunuh. Namanya juga orang kafir.

Bedanya dengan konteks kita di Indonesia, lawan-lawan politiknya ternyata bukan orang kafir, tetapi masih beragama Islam. Mereka shalat, puasa, zakat dan pergi haji. Kalau wafat juga dishalatkan dan dikuburkan di pemakaman muslim.

Yang berbeda cuma pilihan kelompoknya saja, bukan aqidah dan agama. Dan kolompoknya pun amat dinamis, tiap hari ganti formasi. Tidak ada teman atau lawan abadi. Hari ini jadi teman, besok jadi lawan. Disini lawan, di provinsi lain teman akrab.

Satu-satunya yang membedakan adalah kepentingan sesaat dan bukan kepentingan agama, bukan kepentingan umat, bukan bela syariat. Yang jadi pertimbangan sekedar kepentingan kelompok, golongan, maslahat internal dan kesempatan merebut kursi kekuasaan.

Lha, kok mau disamakan dengan perseteruan zaman nabi yang murni bela aqidah dan syariah? Ya tidak sama dong.

Tapi nyatanya begitu lah. Kok sampai hati bilang kepada saudara sendiri dan teman sendiri : Lu kagak tidak ikut kelompok gue berarti elu kapir. Sampeyan mboten nderek kulo, sampeyan setan. You tidak ikut kita, you dajjal.

Musuhnya Nabi SAW itu orang kafir, non muslim, yang tegas memang musuh Allah. Mereka angkat senjata di medan tempur, lalu kita bunuh atau kita dibunuh mereka.

Tapi bagaimana dengan 'musuh politik' kita?

Nah ini dia biang masalahnya. Banyak kita lupa dan memandang bahwa semua lawan politik kita berarti kafir, setan dan dajjal.

Padahal kalau kita telaah lebih dalam dan jernih, bukankah kebanyakan mereka secara masih resmi beragama Islam? Masih shalat 5 waktu, masih baca Quran, bahkan berangkat haji umroh. Lha kok tiba-tiba diposisikan macam kafir habi yang halal darahnya, dicaci-maki, tidak dishalati?

Kalau mereka rada awam agama, mungkin iya. Kurang fasih baca Quran, mungkin benar. Kurang mengerti hukum syariah, mungkin tidak salah.

But . . .

Semua kekurangan itu manusiawi dan wajar. Nasib membawa mereka jadi tidak punya akses sejak kecil untuk belajar agama. Kalau mereka lahir di keluarga pesantren, boleh jadi malah sudah jadi kiyai.

Tapi sebagaimana orang Islam kebanyakan di negeri kita, banyak yang awam dan kurang paham agama. Solusinya kan tidak harus diperangi dan dianggap sebagai musuh juga. Ajari saja ilmu agama yang serius, intensif dan ramah. Semoga mereka paham dan lebih mengerti agama.

Bukankah mengajarkan ilmu agama dengan baik-baik itu malah lebih produktif, dari pada tiap pagi kita caci maki yang mengabiskan pahala kita juga.

Mari kita merenung sejenak menjelang Shalat Jumat ini.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat dengan judul Politik Nabi SAW

Friday, April 20, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: