Politik Kafir dan Kafir Politik

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Kata itu tak bertulang jadi bisa dengan mudah dibelak-belokkan maknanya oleh siapa saja yang berkepentingan. Sebagaimana halnya kata-kata lain, kata "kafir" juga begitu: dalam implementasinya sangat beraneka ragam dan sarat dengan aroma politik dan kepentingan pragmatis.

Dulu, kelompok Islam yang anti Belanda, memanggil "kompeni" sebagai kafir dan mengobarkan perang kepada "si kapir". Pada waktu Jepang datang, berbagai kelompok umat Islam juga menggelorakan jihad melawan "si kapir" Belanda. Jepang pada awalnya tidak (atau belum) dianggap "kapir" karena mereka membantu umat Islam dan berjanji membebaskan mereka dari kolonialisme Belanda.

 

 

Di Maluku (dan juga kawasan lain), Jepang bahkan sangat aktif memprakarsai pembentukan berbagai ormas Islam dan kelompok milisi jihad untuk melawan "kompeni".

Dulu di Soviet, pada waktu Perang Dunia II berkecamuk, sebutan "kapir" merujuk ke musuh-musuh Soviet, khususnya kaum Nazi, imperialis Eropa, dan kapitalis Ngamerika, bukan untuk rezim Komunis Soviet. Salah satu pentolan "ulama komunis" Soviet Abdurrahman Rasulaev yang dikenal dengan julukan "Mufti Merah" menyerukan umat Islam seantero Soviet untuk berjihad dan mengibarkan "perang suci" melawan kaum "kapirun" itu.

Lucunya, kelompok Islam yang pro-Nazi dan Hitler menyerukan perang dan jihad melawan "kapirun komunis Soviet". Para ulama senior dan syaikh pro-Nazi dan Hitler seperti Jakub Szynkiewicz dari Lithuania atau Muhamed Pandza dari Sarajevo menyerukan kaum Muslim untuk berjihad melawan "kapirun" komunis Soviet.

Sementara ulama pro-Nazi lainnya seperti Amin al-Husaini dari Yerusalem yang merupakan "auliya" atau teman setia Fuhrer Adolf Hitler menggelorakan jihad melawan si kapirun Yahudi.

Saudi dan sekutunya dulu menyebut Turki Usmani sebagai golongan kapirun yang harus dimusnahkan sementara Inggris dianggap "teman setia" karena berjasa membantu Saudi melawan Turki Usmani (Ottoman).

Selanjutnya, Al-Qaida and the gangs menyebut Amerika sebagai kapirun, padahal dulu para pentolannya (seperti Osama dan Abdullah Azzam) adalah "teman setia" Amerika saat bersama-sama dengan kaum Afghan Mujahidin melawan dan mengusir "tentara Soviet" dari Afganistan. Pada waktu itu, sejak awal 1980an, sebutan "kapirun" ditujukkan untuk Soviet, bukan Amerika.

Nah, sekarang kalau di Indonesia, sebutan "kapirun" yang biasa dimantrakan oleh barisan Bani Mamat, Jamaah Mimin, dan kaum "Arab fiksi" itu kira-kira ditunjukkan kepada siapa atau kelompok mana? Silakan dijawab. Ini untuk mengetes "kecermatan analisis" Anda. Testing testing; air setetes bikin bunting.

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Saturday, May 5, 2018 - 22:00
Kategori Rubrik: