Politik Islam atau Islam Politik

ilustrasi
Oleh : Ahmad Tsauri
Ustadz Abdu Somad itu fikrahnya Islam politik, dan sampai pada titik ini di usia dan pencapaiannya, dia tak akan goyah lagi dalam pendiriannya.
خذ ما صفاء ودع ما كدر
Ambil yang bersih dan jernih darinya dan buang yang kotor.
Perbandingan madzhab, Ulum hadis oke. Tapi kalau sudah bicara ormas, politik dalam negeri, politik luar negeri jelas ia tidak bisa lepas dari kecenderungannya; Islam politik itu.
Islam politik itu salah satu cara berfikirnya, menganggap pelaksanaan syar'iat tanpa mensyariatkan lembaganya, pemerintahannya, sistemnya tidak bisa berjalan baik.
Jelas berbeda sekali dengan cara pandang ulama ditanah air, dimana tanpa negara berlabel Islam, dan tanpa campur tangan negara kita bisa melaksanakan syariat dengan baik, sholat, puasa, zakat, haji, pernikahan, dll.
Islam politik itu sepanjang sejarahnya ya murni politik pada akhirnya, dan tidak ada nilai positifnya bagi sejarah kemanusiaan.
Menurut Ahmet T. Kuru dalam buku Islam otoritarianisme dan Ketertinggalan, justru umat Islam tertinggal karena pola-pola ini, Islam maju karena institusi pemerintahan terpisah dengan institusi keulamaan.
Islam sejak abad pertengahan tertinggal karena mulai terjadi dwitunggal institusi kekuasaan dan keulamaan.
Adagium yang mengatakan,
المُلك والدين توأمان، فالدين أصل، والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم،
"Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar...",
yang banyak dikutip dari Ihya Ulumidin Al Ghazali, tulisan-tulisan Habib Abdullah Al-Hadad sebenarnya bersumber dari kebijaksanaan tradisi dinasti Sasania yang beragama zoroaster.
Kalau Selo menarik sebenarnya membahas dan menguji akurasi tesis ini; kalau negara mau maju ulama tidak boleh berdekat-dekatan dengan penguasa dan kedua institusi ini harus terpisah.
Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri
Friday, February 26, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: