Politik Identitas

ilustrasi

Oleh : Jihan Davincka

I remembered more than 6 years ago, came here (in Ireland) for the first time. Bengong. Sekolah publiknya kok sekolah Katolik semua.

But soon, belum juga keluar sepatah kata untuk meminta kelonggaran terkait pelajaran agama, melihat kerudung di kepala saya, Ibu Kepsek langsung menegaskan di pertemuan pertama, "He doesn't need to do Religion."

Tapi terus ada 'kehebohan' soal makanan halal.

Sekolah di sini tidak punya kantin. Makanan bawa sendiri. Tapi karena subsidi dari pemerintah berlebih, sekolah memutuskan untuk menyediakan makan siang gratis. Duh Buk, mbok ya kalau ada kelebihan dana dikorupsi aja gitu biar kami yang muslim gak pusing #eh.

Alhamdulillah Bu Kepsek sangat-sangat akomodatif. Semua orang tua murid dibagikan surat untuk memilih sendiri makanan apa saja yang boleh diberikan kepada anak. Guru di kelas bersedia membantu mengawasi.

Merepotkan sekali minoritas ini. Sungkem dulu sama Bu Kepsek di sekolah *ciyumTangan*.

Anak-anak kan susah, yaow. Lihat sosis ginuk-ginuk dikit langsung ngelap iler hahahaha.

Beberapa tahun terakhir ini, kantin di kantor suami juga sudah menyediakan makanan daging halal. Di acara-acara kantor apalagi. Memang tidak sedikit engineer muslim di kantor suami, tapi yaela, 10% pun belom nyampe lah.

Padahal kata suami enggak ada yang protes atau kritik gimana-gimana. Minoritas ya tahu diri saja. Ambil makanan vegetarian. Kalau bule-bule Eropa selalu otomatis prepare vegetarian food. Untuk menghormati orang-orang bule yang memilih jadi vegetarian karena alasan gaya hidup/kesehatan, bukan agama.

Salah seorang sahabat anak saya di sekolah berasal dari Lithuania, Eropa Timur. Setiap akhir pekan dia bersekolah khusus untuk mempertahankan bahasa asli mereka + belajar budaya Lithuania.

Ternyata, pemerintah Irlandia juga membantu subsidi untuk hal-hal seperti ini. Nah, kelompok belajar mengaji anak-anak muslim di sini juga sedang di-encourage untuk mengajukan proposal untuk dana subsidi penyewaan gedung dari pemerintah. Doakan biar lancar dan mendapat approval, ya, hehehe.

Acara buka puasa dan lebaran Di Ireland tidak ada masalah, kami bebas menyewa gedung-gedung/aula-aula yang ada.

Di Texas pun, saya teringat pas hari lebaran, di Islamic Center Kota Plano, beberapa petugas polisi berjaga. Ada yang stand by ada yang membantu mengatur lalu lintas karena lumayan banyak kan mobil lalu lalang masuk keluar area masjid karena jam Shalat Ied dibuat 3 kloter.

Isn't it beautiful?

I know, kita tidak boleh menutup mata terhadap kasus di Xianjiang, di Myanmar, dan segala macam.

Tapi ada banyak tempat di dunia ini yang terus menerus mencoba dan berusaha keras untuk menciptakan tempat yang 'nyaman' BUAT SEMUA PIHAK (etnis, agama, warga negara dsb).

Hampir tidak ada lagi semacam, "Hadeeeehhhh, tau diri dong lu yang minoritas, udah tau bakal jadi minoritas mau minta dispensasi macam-macam. Hargai mayoritas! Adaptasi, dong! Jangan banyak cing cong!"

Istilah ADAPTASI mulai memudar, berganti dengan INKLUSI. INKLUSI? Go googling it yourself .

Makanya lumayan tertusuk dengan kasus penutupan restoran yang menyediakan daging babi di Mal Pipo (Phinisi Point Mall). Alasannya, menjual makanan berbahan daging babi melanggar 'kelaziman'.

Jadi datanglah 'Aliansi Jaga Moral' apalah-apalah meminta agar restoran ditutup. And it did happen.

Saya bingung juga. Aturan buat muslim kan DILARANG MEMAKAN DAGING BABI. Apa memang ada aturan DILARANG MELIHAT MASAKAN DAGING BABI? Atau DILARANG MELIHAT ORANG YANG MAKAN DAGING BABI?

Aturan dari mana

Katanya lagi, "‘’Semestinya pengelola Mal Pipo menghormati ummat Islam sebagai kaum mayoritas di Kota Makassar. Apalagi, mayoritas pegunjung ke mall umumnya ummat Islam,” ujar Ketua BMI (Brigade Muslim Indonesia) Sulsel, Muhammad Zulkifli --> https://infosulsel.com/bmi-temukan-jajanan-berbahan-babi-d…/

KOK YA SEGITUNYA 

Salah satu komentar, ""Saya setuju makanan haram bagi daerah yang isinya mayoritas tidak berjualan di muka publik secara terang-terangan. Bukan masalah bakal beli, keciprat ata kecium asapnya. Tapi ini lebih ke masalah mencederai perasaan kaum mayoritas," tulis @nenkpurba.

((MENCEDERAI PERASAAN KAUM MAYORITAS)) .... hoooo, yang punya perasaan yang mayoritas doang? BHAIQUE.

Yang bikin sedih, kok tidak ada pernyataan ulama mana gitu ya. Pemerintah terkait juga tidak ada suaranya? Atau sudah ada kah? Apa karena berakhir 'damai'? Ya siapa juga yang mau cari ribut kalau didatengin rame-rame gitu 

Serba salah memang sekarang ini. 'Birokrasi' kita sedang terperangkap dalam POLITIK IDENTITAS yang makin menjadi Shame on them.

Kita seharusnya bekerja lebih keras untuk menyiarkan kedamaian. Memperlihatkan bahwa kita itu bisa lho hidup damai dalam perbedaan.

Menunjukkan kalau ada tempat-tempat di dunia ini di mana kalian bisa berjalan bebas tanpa mesti menyembunyikan identitas agama kalian dan kalian tetap mendapat kedamaian dan penghormatan dari orang lain.

Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslimah berjilbab di negara mayoritas Katolik di sini.

Lah 'situ', sama asap daging babi aja takut. Lihat daging babi, perasaan tercabik.

Itu saudara-saudara muslim-mu berjibaku dengan bom dan peluru di Suriah tempo hari.

Kalian tahu, terkait melubernya pengungsi, Angela Markel sempat dikritik keras dan diolok-olok bersikap sok-sok seperti Bunda Theresa dengan julukan "Mutter Angela".

Angela berseru lantang saat banyak pemimpin Eropa memilih diam atas kasus pengungsi Suriah,

“Apakah kita ingin hidup di benua di mana martabat seluruh manusia bahkan mereka yang minoritas tetap ditegakkan? Ataukah kita ingin berada dalam dunia di mana nasionalisme digunakan untuk intoleransi dan membiarkan kegelapan sekali lagi mengalahkan kita?”

Bahkan media-media arus utama tidak mau (atau belum? telat amatt memberitakan soal ini.

Your silence is deafening

Friday, August 2, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: