Politik Identitas Islam

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Politik identitas yang semakin menguat diberbagai lini kehidupan menjadi indikator "kegagalan" pendidikan agama Islam di Indonesia. Khususnya akibat gelombang "pembaharuan" Islam versi Abduh maupun pemurnian Islam versi Wahabi. Alih-alih membawa pada keterbukaan literasi (bacaan), pembaharuan Islam justru berimplikasi pada sensor besar-besaran buku ajar dan, dan ujungnya pembatasan, pemilahan dan penyeragaman bacaan.

"Jika orang Islam memilih sebuah buku... mereka mencari buku yang menegaskan kebenaran hal yang sudah mereka ketahui". Saya mengamini pernyataan Khalid Aboul Fadl itu. Lihat saja di event bazar buku Nasional (IBF) maupun daerah, buku-buku yang dijual 90℅ seragam. Kalau tidak membahas kesesatan Syiah, yang dijual adalah buku-buku agama yang telah disensor dan disunat. Anda akan menemukan terjemah Riyadhus Shalihin, dan Adzkar Nawawi rasa Ibn Taimiyah yang mujasimah (menganggap Tuhan berfisik dan anti tasawuf) bukan rasa An-Nawawi pengarang kedua kitab itu yang sufi dan Asyari.

Di pesantren tradisional yang tidak tersentuh arus pembaharuan dan pemurnian, kategorisasi kitab layak baca dan tidak juga ada, misalnya label mu'tamad (kredibel) dan gaoir mu'tamad (tidak kredibel). Akan tetapi sensor kitab-kitab sangat lentur, hanya diberlakukan pada santri tingkat dasar. Misalnya dalam kitab fawaid makiyah (majmu sab'atu kutub) disebutkan bahwa para ulama melarang membaca kitab tauhid umul barahin (induk argumen), namun di pesantren setelah santri menamatkan alfiyah dan kitab tauhid menengah, kitab Umul Barahin diajarkan. Bahkan di perpustakaan buku-buku Ibn Arabi yang sangat sukar disediakan. Buku pemikiran barat dan timur tengah seperti Arkoun, Hasan Hanafi, Jabiri dll juga bebas berkeliaran.

Sensor buku membabi-buta seperti diatas menyebabkan cara pandang umat Islam sempit. Bagaimana tidak sempit. Misalnya Wahabi mengklaim mengikuti madzhab Hanbali. Tapi sebenarnya Hanbali yang mereka baca adalah buku-buku Hanbali versi Ibn Taimiyah, Buku-buku Ibn Taimiyah yang sudah disempitkan lagi versi Muhammad bin Abdul Wahab, dan Buku Muhammad bin Abdul Wahab versi bin Baz dan Usaimin.

Betapa kakunya memandang keragaman budaya, agama, sosial, ekonomi di Indonesia, yang mempunyai ragam suku dan ratusan bahasa, 6 agama dan puluhan keyakinan, dengan kacamata bin Baz yang tidak pernah keluar dari Saudi Arabia, sementara kehidupan kita plural dan heterogen. Itulah kenapa Wahabi dkk di Indonesia panikan. Melihat liberal panik, lihat pki panik, lihat kejawen panik, lihat Ahmadiyah panik. Tidak mempunyai kesadaran bahwa keyakinan, agama, suku, bahasa bersifat given. Anugrah Ilahi.

Sikap terbuka Tabiin dan Atba Tabiin dalam memanfaatkan literatur dari lintas madzhab, lintas teologi, lintas agama, lintas keyakinan, lintas budaya, lintas teritorial yang diwariskan oleh generasi sebelumnya tidak kita tiru. Misalnya bagaimana Sayidina Umar bin Khattab membuat Diwan (catatan admistrasi negara) yang diadopsi dari Persia yang sebelumnya tidak dikenal dalam tradisi Islam, dan Sayidina Muawiyah mengadopsi pola pemerintahan Dinasti Sasania penyembah api. Ada ratusan contoh kasus sebenarnya, tapi singkat saja.

Genre dan jenis bacaan yang tunggal itu membuat umat Islam yang mulanya menjadi pemasok dan eksportir informasi ke barat saat mengalami era kegelapan untuk membangun peradabannya. Kini menjadi manusia kerdil yang berperang atas nama agama dan sekte yang dipahaminya secara sempit. Barat melesat kedepan sedangkan umat Islam rame-rame kembali ke jaman batu.

Barat yang sekuler dan Timur yang Islamis dengan realita kongkrit nya saat ini, menjadi gambaran terang bagi kita; bahwa ateis yang memiliki keterbukaan literasi (buku bacaan) bisa hidup dan berbangsa-bernegara lebih baik dari pada umat Islam yang tidak pernah membaca atau membaca dengan kacamata kuda. Lihat saja Siria, Libiya, Iraq, Afganistan, Pakistan, mereka berperang sesama umat Muhammad saw sedangkan barat menjadi suporter dan menyuplai senjata kepada kedua belah pihak dengan konsesi lahan-lahan minyak.

Nah demo series ini akibat jangka panjang umat malas membaca dan seandainya pun mereka membaca, maka membaca buku-buku yang mengamini pola pikir dan sikapnya, mereka membaca dengan kacamata kuda.

Kita belum lupa, almarhum jubir ormas yang tak boleh disebut namanya membaca kitab suci ormas tersebut tentang Amar ma'ruf Nabi Munkar, tetapi saat Kiai Mustofa Yaqub menyuruhnya membaca Amar ma'ruf versi Al-Ghazali dalam Ihya dia gelapan.

Jika demo Jilid III tidak membuat negara kacau, tidak sampai perang saudara dan asing tidak ikut serta berperang dinagara kita, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki gerakan membaca dan mengajak umat terbuka terhadap bacaan apa saja.

Saya membaca Tafsir Thabathaba'i yang Syiah, saya membaca ensiklopedi al-Mughi Qadhi Abdul Jabar yang Mu'tazilah, Membaca Qadariyah, Jabariyah dan Murjiah, tapi sebagaimana ulama-ulama al-Azhar, tidak membuat kehilangan akar dan jati diri, saya tetap penganut dan pecinta Asy'ariyah.

Omong kosong bicara "Bhineka tunggal Ika" jika kita buta aksara. Dan menurut Kotler, buta aksara di abad ini, bukan dia yang tidak bisa membaca melainkan mereka yang berhenti dan tidak terus menerus membaca dan membaca.

[Tulisan 25 November 2016, 3 tahun silam, tapi rasa-rasanya secara subtansi tanpa terkait aktivitas ormas itupun tetap relevan. Visi ormas itu diterima luas karena 'mono literal', tunggalnya subjek bacaan umat islam]

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Thursday, November 28, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: