Politik Identitas Dan Kampanye Rekonsiliasi

Ilustrasi

Oleh : ABhumi

#Excerpt

Persatuan dan kesatuan bangsa d negara yg, entah anda suka atau tidak, lebih dari 80% penduduknya Muslim ini lebih penting dari rasa empet ku, lebih besar dari egomu, dan tentunya lebih bermanfaat bagi anak cucu kita semua.

#Content

Keputusan pakdhe, memilih KMA sebagai wakilnya, cukup menggemparkan, membingungkan, termasuk bagiku.

Sama bingungnya dengan ketika dia pecat om Anies.

Tapi pelan2 aku bisa liat arah jalannya.

Belajar dari pilpres 2014 dan pilgub 2016 DKI, efek dari politik perpecahan adalah hambatan pembangunan yg akan d alami siapapun pemenangnya.

Ya, memang kadang ada kritik ataupun sindiran yg valid pada penguasa. Tetapi jumlah maupun bentuknya tertutup oleh banyaknya sindiran, nyinyiran, bahkan hoax.

Dan ya, akupun doyan nyinyir. Kemungkinan besar, dengan atau tampa anda sadari, andapun begitu.

Bahkan dengan atau tampa anda sadari, kemungkinan andapun pernah ikut berpartisipasi menyebarkan (atau bahkan membuat) hoax.

Aku ambil contoh dari tokoh yg paling tidak aku sukai aja dulu biar fair yah. Om Anies.

Pidato awalnya saja, tentang "pribumi", sebetulnya hal kecil yg remeh temeh. Hanya karena asosiasi "pribumi" dengan kampanye perpecahan yg membawanya k singgasana DKI, kesalahan kecil mungil dalam pidato bisa menjadi topik hangat pembicaraan d medsos selama berhari2.

Usul tentang becak mendapatkan bau negative beraroma kentut selama berminggu2. Padahal sama seperti DP 0 Rupiah, itupun gak terwujud sampai sekarang.

Tindakannya menutup balaikota dari keterbukaan dan transparansi menuai sindiran, dan terus menerus d banding2kan dengan pendahulunya yg be'ol pun kalau gak kunci pintu mungkin d foto paparazi.

Penutupan jalan Tanah Abang, kali Sentiong, terotoar, pembentukan bejibun tim segala rupa, semua jadi bahan sindiran.

Ada jg hoax satu dua biji yg sempat ku debunk, tapi aku lupa bentuknya.

Ada satu dua kritik yg valid dan masuk akal, tetapi fog of war dalam bentuk sindiran, nyinyiran, bahkan hoax jauh lebih banyak.

Harus d pahami, bahwa dalam berbagai nyinyiran dan sindiran terhadap sebagian besar gerak gerik om Anies, aku ikutan.

Krn aku pikir dalam 3 tahun pendahulunya berkuasa, nyinyiran dan sindiran terhadap pemimpin DKI adalah norma yg sudah d anggap "normal" dalam culture warga DKI dan warga Indonesia.

Sampai yg terakhir terjadi adalah teriakan trolling dalam pidato peresmian Lapangan Banteng. D mana ketika om Anies menyampaikan apresiasinya pada om Yori Antar, sang arsitek, dan mendapat hadiah jari tengah yg ngaceng menjulang tinggi dari banyak simpatisan pendahulunya.

FAK U GABENER!!!!

Begitu mungkin pikir teman2 sebelum mendengar dan mencari keseluruhan pidato om Anies tampa tau konteks yg d bicarakan.

D sini terlihat jelas efek domino dan aftertaste dari politik perpecahan. Hasil dari 3 tahun Jakarta d tangan sang penista yg terus menerus d terpa caci maki d tambah setahun kampanye kebencian. Hal2 seperti ini menjadi "normal" bagi warga Jakarta.

U either one of us, or one of them.

Gak ada tengahnya.

Dan kalau keberpihakan sudah terukir pada image seseorang, kuping masih bisa mendengar ucapan org itu, tapi otak secara otomatis memilah dan tebang pilih, mana informasi yg d olah dan d simpan dalam memory, mana yg d buang lewat pantat bersama pup.

BOHONG kalau om Anies bilang sindiran dan perbandingan itu gak ngaruh baginya, krn kalau bener gak ngaruh, dia gak akan segan2 memberi apresiasi pada pendahulunya ketika pembukaan Lapangan Banteng.

Jadi aku sebenarnya paham mengapa cara kerja om Anies bagaikan modem dial-up d era fiber optik. Sedikit banyak, efek perpecahan akibat luka kampanye kebencian sebelumnya mempengaruhinya, dan itu gak bisa sembuh dalam satu dua tahun.

Hikmah yg dapat ku ambil dari kampanye kebencian pilpres 2014 dan pilgub 2016 adalah betapa sulitnya menbangun kota yg terpecah belah.

Tapi ada yg jauh lebih sulit dan mengerikan.

Membangun negara dari bangsa yg tercerai berai.

Dari sinilah, menurutku keputusan pakdhe menggandeng MA jadi masuk akal. Politik identitaspun jadi masuk akal.

D akui atau tidak, bangsa ini sudah terpecah antara mereka yg menginginkan kekuasaan dengan cara mengendarai agama, dan mereka yg mendahulukan program kerja maupun prestasi.

Terlepas dari siapa yg menang pilpres 2019, kenyataannya hambatan yg sama akan d alami presiden 2019. Kabut tebal yg menutupi fakta pencapaian maupun kritik cerdas terhadap penguasa 2019.

MA, sebagai salah satu tokoh central dalam kontestasi pilgub Jakarta, berada d tengah2 kubu "mereka" dari sudut pandangku. Lebih mungkin d dengar daripada tokoh lainnya.

Tujuannya mulai terlihat.

Rekonsiliasi harus d awal. Bukan ketika kemenangan sudah d raih. Bukan ketika kita sudah harus sibuk menghadapi ke tidak stabilan dunia persilatan d jaman Donald Trump.

Bila tdk rekonsiliasi d awal, impian om Wowo tentang perpecahan Indonesia d tahun 2030 bukanlah khayalan belaka.

Ini bukan soal siapa yg menang dan siapa yg kalah.

Persatuan dan kesatuan bangsa d negara yg, entah anda suka atau tidak, lebih dari 80% penduduknya Muslim ini lebih penting dari rasa empet ku, lebih besar dari egomu, dan tentunya lebih bermanfaat bagi anak cucu kita semua.

"Kwek, dari tadi lu ngomongin nyinyir dan hoax k Anies. Emang Jokowi gak ngalamin?" tanya temenku Nadewsab Seina.

Enggak bro, pakdhe mah emang PKI, antek Mamarika, antek Russia, antek Wahyudi, keturunan China, kafir, planga plongo, boneka, krempeng dan lain sebagainya. 

Temenku yg satu ini emang semprul 

(kwek)

Friday, August 17, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: