Politik Hoax si Grasa-Grusu

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Ratna Sarumpaet resmi ditahan oleh Polisi pada jumat, 5 Oktober 2018 karena dijadikan sebagai tersangka atas kasus penyebaran informasi bohong atau hoaxs penganiayaan terhadap dirinya. Publik sangat mengapresiasi kerja aparat kepolisian dalam mengungkap kebohongan kabar penganiayaan. Tak terbayangkan betapa gaduhnya jagad perpolitikan di Indonesia serta polemik berkepanjangan di medsos pasca blow up kasus tersebut oleh Prabowo dan bala kurawanya. Kasus tersebut sangat seksi dijadikan sebagai amunisi politik untuk mendiskreditkan dan mendelegitimasi kepemimpinan dan pemerintahan Jokowi jika tidak dibendung oleh polisi dengan data dan fakta yang obyektif.

Penahanan Ratna Sarumpaet beserta penyitaan barang-barang elektronik berupa laptop, hp serta barang2 lainnya diharapkan menjadi modal yang kuat bagi aparat kepolisian untuk menganalisa apakah kasus ini sekedar hoax "by accident"atau "by design". Yang jelas, banyak yang harus menelan ludah, mengasah kepiawaian bersilat lidah, menyelamatkan diri serta meninggalkan RS seorang diri sambil secara serampangan tetap menggunakan ajian salawi (salah jokowi). Argumentasi yang dilontarkan oleh Prabowo dan Fadli Zon makin menunjukkan ketidakpekaan dan kebebalan mereka. Nampaknya kedua orang itu harus diselamatkan dari diri mereka sendiri. Namun nasi sudah menjadi bubur. Karena ambisi kekuasaan menutup nalar, mereka menjadi budak kekuasaan dan kepentingan. Bgm dengan rakyat ? Hanya sebatas sebagai obyek.

Mari kita bersikap jujur. Sampai detik ini rakyat belum mendengar Prabowo dan timnya memaparkan program-program kerja untuk dikomparasi ataupun dijadikan sebagai alternatif solusi dari kritik-kritik yang diarahkan pada realisasi dan kinerja pemerintahan Jokowi. Nampaknya si Grasa-Grusu lebih suka rakyat tetap bodoh dengan memilih mengusung isu-isu yang menguras energi dan emosi, mempertebal ketakutan dan pesimisme dikalangan rakyat. Informasi hoax pun tidak luput disambarnya. Ini menegaskan satu hal bahwa klaim dirinya jauh lebih baik dari Jokowi serta pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia terbantahkan secara meyakinkan.

Pemimpin yang grasa-grusu tidak layak menjadi pemimpin 250 juta lebih rakyat Indonesia karena akan membahayakan rakyat, negara dan bangsa Indonesia. Apalagi pemimpin yang menggunakan hoax sebagai senjata politik untuk memenangkan kompetisi pilpres 2019. Prabowo telah gagal menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin bangsa Indonesia.

 

Sumber : facebook Guntur Wahyu Nugroho

Monday, October 8, 2018 - 13:45
Kategori Rubrik: