Politik Gerontologi

Oleh: Sunardian Wirodono

Waktu ditanya tentang kriteria calon presiden Indonesia 2014, BJ Habibie menjawab pada Najwa Shihab, “Pokoknya, antara 40 – 60!”
 
Yang dimaksud mantan Presiden RI ke-3 itu, batasan usia untuk capres pilihannya. Ketika disodorkan beberapa foto, termasuk foto Prabowo, dengan diplomatis Habibie mengatakan, “40 – 60!”
 
 
 
Penonton acara televisi Mata Najwa di studio (dan di rumah saya) ketika itu, ketawa. Kita tahu, Prabowo waktu itu sudah di atas 60. Celakanya, Habibie tak kenal Rhoma Irama, ketika disodorkan foto pendhangdhut andalan yang benci banget Inul Daratista itu. Habibie hanya mengenal artis remaja yang lagi nge-hit.
 
Kini, lima tahun kemudian. Pilpres menyodorkan nama yang sama. Itu bukti partai politik sama sekali tak berperanan dalam rekrutmen dan kaderisasi kepemimpinan bangsa? Parpol dikangkangi kaum oligarki. Cuma jadi tukang comot.
 
Kepemimpinan sipil, dilahirkan di luar partai, seperti Nurdin Abdullah, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, dan beberapa nama lagi. Jokowi dan Ahok pun, lahir dari luar partai.
 
Celakanya, di Indonesia jarang kita temu yang tua yang teladan. Lihat saja bagaimana makin tua Amien Rais, SBY,... (mau nyebut Prabowo nggak berani, nanti dikira menghina). Masih mending Megawati yang memilih Jokowi jadi kandidat di 2014, meski PDIP pemenang Pemilu dan kekuasaan Megawati absolute di partainya. Tentu ini tak bisa dibandingkan dengan upaya SBY atas AHY.
 
Kemarahan SBY di acara Kampanye Damai kemarin, menunjukkan betapa tak mudah jadi gaek. Salah-salah dikit, kuping tipis mudah teriris. Hasilnya walk-out. Terus baper ke mana-mana. Terus ngancam-ngancam.
 
Amien Rais, ketika mendengar himbauan KPK soal politik uang, justeru bereaksi negatif. Mengatakan KPK suka tebang pilih, dan ia akan bikin perhitungan dengan lembaga anti korupsi itu. Kenapa kok lebih cepat bereaksi daripada merespons? Reaksi dan respons itu beda. Reaksi karena niatan me-negasi, sementara respons menanggapi lebih positif.
 
Orang-orang tua yang diharap merespons, tapi lebih sering berreaksi, mungkin manifestasi situasi psikologis, yang entah karena senior, superior, atau post power syndrome? Tapi juga harus ingat, ini bukan soal umur, melainkan karakter. Yang muda yang brengsek juga ada. Sebut saja 10 nama paling hit dalam berkomentar ngasbak. Barangkali memang soal karakter. Wong demo mahasiswa saja bisa nggak jelas, yang dibela itu apa ataukah siapa?
 
Jika tak ada perubahan dan pembaruan, politik gerontologi akan makin menguat. Padahal, di mana-mana superman dan superoldman itu bak bumi langit, apalagi oldman nggak wise. Yang suka ngancem-ngancem pakai agama atau PKI lu!
 
(Sumber: Facebook Sunardian W)
Wednesday, September 26, 2018 - 14:00
Kategori Rubrik: