Politik Genderuwo

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Sejatinya teknik membingungkan masyarakat dan membentuk klaster-klaster dukungan sedang massif dilakukan kubu Prabowo. Mereka konsisten menggunakan isu rakyat susah, harga mahal, rezim pembohong dan lain-lain. Isu agama jangan dikira tidak dipakai. Mereka juga pakai.

Tim pemenangan Prabowo sudah menyiapkan SOP yang rinci, termasuk soal kostum, tata cara perilaku dan materi konter isu, yang mutlak dilaksanakan sesuai peran dan levelnya.

Disaat bersamaan, telah terbentuk klaster-klaster yang sangat bisa diperlebar dengan massa yang bertambah. Isu pembakaran bendera Tauhid oleh pendukung rezim Thogut telah ditanamkan di klaster-klaster yang berhasil dibina oleh tim-tim kecil yang trampil dan berpengalaman dalam mencari pendukung di akar rumput. Kasus Rizieq dan bendera telah berhasil di pelintir dan dimakan masyarakat yang telah berhasil " dibina" hingga menambah kemungkinan perolehan pundi suara.

Begini penjelasan soal teknik pengumpulan massa dan pembentukan klaster. Tim Prabowo mengirimkan ratusan anggota tim penggalangan suara. Anggotanya adalah pekerja yang sudah sangat terlatih dan berpengalaman menggalang jaringan massa di akar rumput.

Pengerahan pasukan ini dibuat agar tidak terdeteksi oleh khalayak.

Caranya, ditingkat nasional, dilempar isu remeh temeh termasuk isu "lebih enak di jaman Suharto. " Segenap isu ini langsung ditanggapi riuh rendah. Konsentrasi masyarakat di pusatkan pada isu-isu tadi.

Sementara itu, di tingkat masyarakat, disaat bersamaan, pembinaan klaster-klaster pendukung Prabowo makin intensif. Setiap anggota klaster mesti mendapatkan dukungan minimal tiga orang. Jika sudah dapat, anggota baru itu dibina dan diminta lagi mencari anggota baru.. Seperti MLM.

Dan mereka bergerak dengan senang hati. Mengapa? Karena kemungkinan dukungan dana dan logistik. Para anggota kluster tidak hanya dapat sembako gratis atau uang 100 ribu atau pulsa gratis. Tapi juga aneka kupon belanja dan fasilitas gratis sesuai hobi. Jika suka mancing, diberi kupon gratis menggunakan lapak pemancingan sepuasnya. Yang suka motor dikasih servis gratis sambil jalan-jalan...

Dukungan logistik tidak harus dikeluarkan dari calon sang Presiden. Tapi kolaborasi dengan para caleg dan juga pihak-pihak yang punya dana dan yang punya kepentingan jika Prabowo jadi Presiden. Kolaborasi ini dimungkinkan karena pileg dan pilpres nanti dilakukan bersamaan..

Tim pemantau klaster memonitor perkembangan binaannya dengan seksama. Anggota binaan tidak bisa asal lapor padahal tidak bekerja. Tim memastikan klaster binaannya tidak mati atau mengalihkan dukungan.

Dalam pada itu, setiap keraguan anggota terhadap konter dari kubu Jokowi tentang berita bohong dan remeh-temeh yang dilakukan tim media Prabowo, diluruskan dan dicari pembenarannya. Mereka akan menjawab keraguan itu bahwa rejim Jokowi adalah pembohong dan penindas Islam. Dua julukan ini dipakai tergantung jenis pertanyaan dan keraguan..

Karena klaster binaan rata-rata anggotanya saling kenal bahkan ada talian keluarga, persepsi yang ditanamkan pasukan tim pembina klaster biasanya seragam. Yakni, Presiden harus ganti. Dan mereka sepakat.

Tim pembina akan memilih anggota klaster yang paling militan untuk dijadikan pion menambah jumlah pendukung prabowo.

Syaratnya, tidak penakut, punya bakat mempengaruhi dan blak-blakan. Mereka inilah yang ditugaskan menebarkan kampanye negatif untuk Jokowi. Keberhasilan mereka terlihat dari bertambahnya jumlah anggota dalam klaster. Jika terlalu besar, dibentuk klaster-klaster baru. Tim pusat akan mengirimkan orang-orang yang sudah berpengalaman dan profilnya cocok dengan klaster baru tadi.

Dan seterusnya dan seterusnya hingga tercipta basis massa yang tidak hanya riel tapi bisa dihitung jumlahnya dengan tepat dengan margin kesalahan yang kecil.

Perkembangan klaster-klaster pendukung Prabowo ini semakin besar dan luas, tanpa banyak terdeteksi. Mengapa? Karena dikalangan masyarakat bawah adalah biasa menerima imbalan untuk suara mereka. Yang melihat juga merasa hal itu wajar saja.

Sementara tim Jokowi jika melihat aksi ini bisa jadi keluar keringat dingin dan wajah langsung pucat pasi.

Jadi jangan heran jika di saatnya nanti, tanpa perubahan teknik penggalangan massa yang lebih efektif dari kubu Jokowi, perolehan suara Prabowo justru mengungguli Jokowi.

Secara tiba-tiba..

Mengejutkan...

Dan menakutkan..

Seperti ketemu Genderuwo..

**) dicuplik dari percakapan dengan pakar tim pemenangan pilkada di satu daerah yang kepala daerahnya menang secara mengejutkan padahal banyak pihak yang memprediksi dia kalah. Yang bersangkutan mengatakan tim Prabowo mungkin menggunakan teknik ini. Perlu klarikasi dari tim Prabowo untuk mendeteksi kebenaran pengerahan tim yang anggotanya sudah sangat berpengalaman dan ahli dalam mengumpulkan massa.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Wednesday, November 21, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: