Politik Genderuwo Dalam Pilpres 2019

Ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Genderuwa (dalam pengucapan Bahasa Jawa: "Genderuwo") adalah mitos Jawa tentang sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh. Genderuwa dikenal paling banyak dalam masyarakat di Pulau Jawa, Indonesia. Orang Sunda menyebutnya "gandaruwo" dan orang Jawa umumnya menyebutnya "gendruwo".

Habitat hunian kegemarannya adalah batu berair, bangunan tua, pohon besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap. Menurut mitos, pusat domisili makhluk ini dipercaya berada di daerah hutan belantara. Secara mitos GENDERUWO sangat gemar menakut-nakuti manusia. Hobinya menteror manusia agar ketakutan dan secara impulsif dia akan mempengaruhi manusia agar berpikir dan bertindak seperti yang diinginkan genderuwo. Dan menurut mitos, tidak jarang genderuwo masuk ke jasad manusia hidup sehingga akhirnya manusia tersebut berperilaku seperti genderuwo.

Lalu apa yang dimaksudkan oleh Presiden Jokowi tentang POLITIK GENDERUWO dalam Pilpres 2019 ? Mirip dengan yang dilakukan oleh sang genderuwo asli, dimana kontestan Capres-cawapres ada yang berperilaku mirip atau sama dengan yang dilakukan oleh genderuwo asli yaitu gemar menakut-nakuti rakyat dengan gambaran yang halusinatif yang terjadi di negara ini. Sebagai contoh : dikatakan negara ini akan bubar, negara ini akan bangkrut dan negara ini sudah dikuasai asing dan sebagainya dan sebagainya.

Tentu saja yang dikatakan Capres-Cawapres itu tidak benar. Namanya juga mereka sedang berhalusinasi. Mereka sedang berusaha membius rakyat dengan fatamorgana hitam yang penuh ketakutan dan horor. Pada saat sebagian masyarakat yang TUNA NALAR itu sudah terperangkap dalam biusan ala genderuwo yang mereka hembuskan, mereka akan kembali tampil bahwa seolah-olah hanya mereka berdua yang mampu menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Mereka dengan mulut licin akan berjanji tidak melakukan impor apapun, membebaskan tiket jalan tol, akan merekayasa teknologi agar petai bisa dijadikan wig bagi emak-emak. Tempe dijanjikan akan bisa digunakan sebagai HP dan lain-lainnya. Duuh dasar kadal burik !!!

Mengapa sang Capres-Cawapres itu melakukan politik genderuwo ?

Jawabannya sangat sederhana. Karena memang hanya itu yang mereka bisa lakukan. Mereka tidak punya program apapun. Mereka juga tidak punya rekam jejak apapun yang bisa dibanggakan. Pokoknya asal "nyleneh" dan menghantam apapun pencapaian kerja yang telah dilakukan oleh lawannya. Tujuan mereka hanya satu : menakuti-nakuti rakyat dan mendapatkan sorotan dari media massa.

Jokowi tidak salah mendeteksi bahwa saat ini sedang marak politik genderuwo. Karena dalam kenyataannya memang lawannya sedang gencar melakukan hal itu secara spartan alias secara gencar dari berbagai lini para politikus genderuwo ini terus menyerang dan menyerang. Yang diharapkan adalah terjadinya distorsi informasi di masyarakat dan mereka akan berusaha tampil menjadi Sang Penyelamat. Ini strategi kuno yang pernah dilakukan oleh Yang Bersangkutan pada Pilpres 2014 lalu. Meskipun waktu itu beberapa orang sempat terperdaya oleh ulah para politikus genderuwo tapi Alhamdulillah ternyata Kaum Waras Nalar jumlahnya lebih banyak di Indonesia. TUHAN telah menyelamatkan Indonesia dari cengkeraman para Politikus Genderuwo.

Apa yang bisa lakukan untuk menangkal derasnya arus Politik Genderuwo ?

Namanya juga genderuwo, mereka pasti hanya menggoda orang-orang yang Imannya sedang merapuh atau mengalami kekosongan jiwa. Jadi salah satu jalan adalah menguatkan iman kita dan menyehatkan jiwa kita. Caranya dengan beragamalah dengan baik dan sederhana. Agama itu tuntunan kearah kehidupan yang lebih baik BUKAN panduan yang mengajak kita jadi berbuat tidak baik, beringas dan penuh amarah. Cara menyehatkan jiwa adalah selalulah mengasah kepekaan sosial dan selalu belajar berpikir yang positif, sehat dan menggunakan nalar. Hati yang bersih adalah kunci yang akan membantu kita mempunyai Iman yang baik dan nalar yang sehat.

3H (Heart-Head-Hand) harus kita sinkronisasi agar selalu berbuat baik. Hati yang baik akan melahirkan nalar dan pemikiran yang sehat, dan pemikiran yang sehat akan menuntun perilaku dan tindakan kita menjadi lebih baik.

Inilah menurut saya salah satu cara yang jitu untuk menangkal maraknya politik genderuwo yang terjadi akhir-akhir ini. Para Relawan harus turun ke jantung hati masyarakat (bukan di mall-mall atau di gedung film) dan memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya kita mengasah 3H yang ada dalam diri masing-masing orang. Sehingga dengan kesadaran sendiri masyarakat dapat berpikir jernih dan obyektif untuk memilih Pemimpin Terbaik yang dianggap mampu membawa mereka ke tingkat kehidupan yang lebih baik.

Para Relawan tidak perlu berperilaku yang sama dengan yang para politikus genderuwo lakukan. Tidak perlu menjelekkan mereka. Toh kenyataannya mereka memang sudah jelek. Biarlah masyarakat mengembangkan logika mereka sendiri dalam menilai para politikus genderuwo itu. Kalau kita melakukan hal yang sama, masyarakat akan bingung mau ikut genderuwo atau ikut setan ya ?

Bagi yang merasa tersentil atas istilah politik genderuwo jangan marah ya. Masak genderuwo marah-marah. Tidak marah aja menakutkan, apalagi kalau marah. Emak-emak di Ponorogo pernah merasakan hal itu.

Jangan-jangan bukan politik genderuwo yang dijalankan, melainkan mereka sudah kemasukan genderuwo beneran. Jangan-jangan genderuwo juga suka pake wig petai ? Wallahualam

Salam SATU Indonesia,
Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Monday, November 12, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: