Politik Emosi

Oleh: Amin Mudzakir

 

Kemarin saya iseng melihat sebuah akun facebook yang aktif menyiarkan kebencian, termasuk terhadap sosok Jokowi. Akun itu sungguh ada, pemiliknya orang biasa seperti kita. Saya mengenal lingkungan di mana dia tinggal. Mutual friends-nya dengan saya bahkan ada beberapa. Pertanyaannya: mengapa dia melakukan itu?

Setelah saya cek, semua postingannya didasarkan pada berita hoax. Tanpa harus mengecek kesana-kemari, akal sehat kita bisa menilai berita seperti itu--berita yang di-share oleh akun itu--pasti bohong. Isinya sangat bombastis dan dramatis.

 

Tetapi berita-berita hoax yang di-share oleh akun penyiar kebencian itu memang sangat menyentuh emosi. Saya cukup yakin pembuatnya adalah orang yang sangat paham apa yang menjadi keprihatinan umat saat ini. Memang hampir semua bersifat keagamaan. Pada pokoknya Islam digambarkan berada dalam kondisi yang menyedihkan. Pihak-pihak di luar Islam, termasuk antek-antek Islam sendiri, seolah secara sengaja berupaya agar Islam hilang dari peradaban.

Padahal saya lihat pemilik akun itu bukan orang yang penuh nestapa. Dia mempunya keluarga, rumah, dan mobil--sebuah standar kuantitatif manusia normal. Tentu kita tidak paham ada apa di balik itu, apa yang dipikirkannya, apa yang digelisahkannya. Namun, kalau dilihat dari postingannya, cukup pasti orang itu mudah tersulut emosinya.

Saya kira orang seperti pemilik akun penyiar kebencian tersebut sangat banyak. Dalam politik praktis mereka umumnya pemilih Prabowo sejak 2014. Tidak ada petunjuk mengapa mereka memilih tokoh itu selain kebencian terhadap sosok Jokowi yang dianggap anti-Islam. Bahkan setelah Kyai Ma'ruf Amin dipilih menjadi calon wakilnya, kebencian terhadap sosok Jokowi tidak hilang. Masalahnya bukan Jokowi itu sendiri, melainkan antipati terhadap kekuatan yang dibayangkan berada di balik Jokowi: Kristen, Cina, asing, dst.

Terus terang saya kurang paham bagaimana menyembuhkan orang-orang seperti itu. Bagaimanapun hal ini bukan lagi wilayah politik yang rasional. Cara kerjanya sudah tertanam dalam emosi yang mendalam. Saya kira para ahli terapi psikologis harus turun tangan.

 

(Sumber: Facebook Amin Mudzakir)

Monday, September 24, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: