Politik Eksperimen Anies-Sandi

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Saya ingin menulis sesuatu yang ada dalam pikiran orang atas apa yang Anies lakukan.Tetapi tepatnya apa yang dia lakukan adalah sebuah eksperimental. Mengapa? Karena dia melakukan langkah trial and error yang menurutnya kemungkinan suksesnya sangat besar. Penyebabnya adalah ketika partai gagal membangun nilai nilai yang bisa melahirkan kader pemimpin yang baik. Dan ketika masyarakat dalam keadaan bingung antara agama dan sekular. Apalagi gab kaya miskin sangat lebar di Indonesia. Sementara semangat gotong royong sudah mulai memudar dengan semakin berkurangnya empati kaum menengah kepada orang miskin.

Nah apa yang dilakukan Anies adalah suatu cara populisme. Namun populisme yang bagaikan bunglon , yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Baiklah saya sampaikan satu persatu gambaran yang ada, sikap dan kebijakan Anies. Dan bagaimana cara elite politik menghadapinya.

 

 

Pertama. Membela PKL, tukang Beca. Ini populisme wong cilik. Dia ingin menonjolkan diri kepada para rakyat kecil bahwa dia berpihak kepada mereka. Tapi bukan hanya sikap tapi juga memancing lawanya agar membenci kebijakannya. Sehingga semakin orang membenci , semakin wong cilik, pengusaha kecil, mengondisikan prasangka buruk terhadap middle class dan pemerintah. Langkah ini pernah sukses di terapkan Mao di china dan Hitler di Jerman. Makanya pemerintah maupun elite politik paham sekali langkahnya. Mereka engga ladenin sikapnya. Bahkan Jokowi cuek aja. Mengapa? Kalau pemerintah pusat atau elite politik berseberangan dengan dirinya maka semakin kuat narasinya terhadap musuhnya. Dan wong cilik akan militan mendukungnya.

Dengan diamnya elite poltik dan presiden , dia kehilangan amunisi untuk terus menyerang. Apalagi dengan smart ,Polri menolak jalan digunakan sebagai PKL. Jadi Anies nabrak fire wall yang disediakan oleh sistem aplikasi pemerintah dan dia adalah bagian dari sistem itu. Kalau dia paksa maka dia akan terbakar sendiri. Jadi upaya populisme nya tidak akan bertahan lama.

Kedua, dia menggunakan populisme patron agama. Dengan membangun opini soal pribumi dan non pribumi. Lagi lagi dia kena fire wall karena sudah ada UU melarang pejabat menyebut pribumi atau non pribumi. Lihat dia sibuk klarifikasi kesana kemari. Karana ancamannya pidana. Kemudian jargon kota bersyariah untuk menarik patron agama dalam barisannya ternyata gagal total. Terbukti sampai sekarang tempat hiburan malam semacam Alexis tetap buka dengan nama baru. Para tokoh agama yang murni mendukungnya sudah surut kebelakang. Apalagi massa 3 angka terangkut kasus sengketa dengan partai pendukungnya sendiri. Lagi lagi penyebabnya adalah fire wall. Sistem hukum.

Anies berusaha menciptakan populis masyarkat komunal dari nelayan, dengan janji membatalkan reklamasi. Sampai sekarang dia tidak pernah menggunakan wewenang kepres 1995 untuk batalkan reklamasi. Dia hanya menciptakan wacana berputar putar seperti tikus terjebak dalam sangkar. Sekali dia batalkan dia langsung melanggar hukum dan langsung jadi pesakitan.

Jadi semua eksperimental Anies itu tidak efektif untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi sesuai mimpinya. Apalagi para elite politik tidak melihat dia sebagai asset. Dia bukan kader partai dan bukan tokoh fenomenal yang punya basis massa seperti HRS. Dia hanya petualang yang ditempatkan diatas panggung asal bukan Ahok. Dia kesepian ditampat ramai. Tanpa disadari, ditengah effort nya para elite partai pesta lewat kebijakan APBD nya. Dah gitu aja...

 

(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)

Friday, January 26, 2018 - 23:45
Kategori Rubrik: