Politik Demokrat

ilustrasi
Oleh : Dayun Manalu
 
Prabowo datang takziah (melayat) ke kediaman SBY dan sekaligus ingin membuat manuver murahan agar public meyakini kalau pemilu benar-benar curang dengan menyatakan kalau Ibu Ani yang sejatinya mantan ibu negara, memilih dia. Bayangkan.... mantan ibu negara saja menginginkan Prabowo jadi Presiden, apalagi rakyat? 
itulah kira-kira tujuan Prabowo. Tapi sayang, Prabowo analisis politiknya, dangkal. Wajar dia kalah melulu.
 
Ada 3 kesalahan yang dilakukan Prabowo ketika takziah, 
 
1. Dia melontarkan pernyataannya didepan public, sedangkan suasana dalam keadaan berduka. Seandainya dia melontarkan pernyataannya empat mata, SBY masih bisa terima, meski dalam keadaan berduka. Tapi apa gunanya disampaikan empat mata?
 
2. Dia kalah, ini kesalahan yang kedua. Seandainya dia menang, SBY tidak akan protes, karena SBY butuh anaknya didudukkan menjadi salah satu kabinet Prabowo. SBY harus berlagak menolak, agar Jokowi mempertimbangkan AHY menjadi salah satu kabinet beliau. Ini yang tidak terpikir oleh Prabowo.
 
3. Prabowo tahu jelas siapa SBY bahkan ketika mereka masih sama-sama di militer. Partai demokrat dibawah kepemimpinan SBY, politiknya abu-abu, Seandainya UU KPU tidak diubah di 2019, di mana partai yang tidak berkoalisi dengan salah satu partai, tidak bisa mencalonkan Capresnya di periode mendatang, Demokrat akan sama tingkahnya seperti 2014, menjadi “Partai Penyeimbang“ Tidak berkoalisi dengan partai manapun. Artinya, Demokrat tak jelas arah politiknya, mau ikut panen tanpa pernah ikut menanam.
 
Saya ingat sekali, 10 tahun partai demokrat berkuasa, tak pernah mereka merangkul lawan politiknya (PDI-P) menjadi salah satu kabinetnya. Bahkan, lebaran pun, SBY sebagai ketua partai demokrat, tak sekali pun pernah mau disaat lebaran bersilaturahmi ke rumah Bu Megawati sebagai oposisinya. Partai demokrat selalu berjalan dengan kepala tegak dengan pongahnya.
Tahun 2014 arah angin sudah berubah. Partai demokrat sekarang hancur berkeping-keping karena kinerja SBY yang bobrok. Siapa yang meninggikan diri, akan direndahkan. Sekarang partai Demokrat harus berubah wujud menjadi pengemis. Dimulai dengan pujian dua tokoh demokrat terhadap sikap Kaesan saat takziah dan pujian pidato Presiden Jokowi yang menyentuh hati, lalu memprotes pernyataan Prabowo kalau Ani Yudoyono 2014 dan 2019 memilih dia, kemudian silaturahmi ke rumah Megawati, dan lanjut ke istana negara silaturahmi kepada Presiden Jokowi. Seharusnya mereka masih berduka, bukan berpolitik. Tapi ya sudahlah... barang murahan memang harus diobral meski masih dalam keadaan duka.
 
Memang Jokowi selalu menggiring PDI-P tidak seperti Demokrat ketika berkuasa, pongah dan sombong. Tapi merangkul partai oposisinya. Jokowi selalu memoles partai PDI-P sebagai partai yang peduli masyarakat kecil, dan itu ia buktikan. Tapi kalau yang dirangkul manusia yang tak berbobot hanya demi meredam gonggongan oposisi, itu hanyalah usaha menjaring angin mengorbankan rakyat. Kalau partai demokrat ”Bisa“ tidak merangkul oposisinya ketika berkuasa, kenapa PDI-P takut melakukan seperti yang dilakukan demokrat ketika berkuasa? 
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kalau SBY saja kerjanya banyak yang mangkrak, bagaimana mungkin dia mampu mendidik anaknya bisa melakukan tugas penuh tanggung jawab? Harapan rakyat, jangan sampai momen duka dimanfaatkan keluarga cikeas untuk mengetuk hati Presiden Jokowi untuk mendudukkan AHY sebagai salah satu kabinet, rakyat pasti kecewa. Siapa yang ikut berjuang mendukung Pak Jokowi sebelum menang, dialah pilih... 
Bukan yang tidak ikut berjuang tapi mau memetik hasil yang dipilih... bukan! Mereka itu hanyalah duri dalam daging, selayaknya dibuang karena berpotensi menjadi penghianat, itu harus diantisipasi sebelumnya.
 
”Kami sebagai rakyat yang setia berjuang memenangkan Pak Jokowi, jangan jual perjuangan kami pendukung setiamu kepada ”Pecundang.“ Itu harapan dan doa kami. Ingat Pak Jokowi, politik demokrat, politik abu-abu. Tapi kalau itu yang terbaik, terserahlah....”
.

Sumber : Status Facebook Dayun Manalu

Thursday, June 6, 2019 - 17:45
Kategori Rubrik: