by

Politik dan Kehidupan

Oleh : Sunardian Wirodono

Setiap Desember, saya selalu punya keyakinan akan berganti tahun. Setidaknya, ganti angka tahun. Tapi apa artinya, kalau yang berubah Cuma angka-angka itu? Bukan hanya angka tahun, angka bulan lebih cepat lagi, per-30 hari. Tiap hari, bahkan angka jam berubah jauh lebih cepat, meski kalah cepat dengan menit, kalah cepat lagi dengan detik. Lantas apa hebatnya perubahan angka tahun dibanding angka detik? Perubahan itu terjadi setiap detik, setiap helaan nafas. Tak ada sesuatu yang terputus, sebelum putus hayat di kandung badan.

Lha wong bahkan para sahabat dan saudra kita yang johan pahlawan dan sudah marhum, sampai detik ini masih hidup dalam kenangan kita. Nikmat apalagi yang kau dustakan atas nama waktu yang terus bergulir tanpa henti? Bahkan, segala yang berbeda itu pada hakikatnya adalah sama. Yang dua dan tiga dan seterusnya, sejatinya adalah satu. Pusing saya pertama kali mendengar hal itu, dari seorang bhikkhuni yang bertapa di atas daun talas berembun, di pojokan sejarah beberapa meter dari Studio Mendut. Saya sempat membayangkan, Tanto Mendut kenapa tak mau pindah dari Mendut?

Mungkin antara lain karena nanti brand Mendut yang melekat pada namanya akan jadi sia-sia. Kasihan Candi Mendut. Kembali ke soal yang beda adalah sama, karena sebetulnya tak ada yang berbeda di dunia ini, kecuali kepentingannya sendiri yang ditonjolkan. Apa sih yang berbeda dari Rocky Gerung dan Jokowi? Keduanya sama. Berada dalam sintesa keberadaan mereka sebagai makhluk hidup di antara tesa dan anti-tesa. Soal siapa bersetuju dengan siapa, itu juga karena kepentingan yang berbeda, yang kemudian bisa diekspresikan dengan cinta atau benci. Tahukah sampeyan, cinta berangkat dari benci dan benci berangkat dari cinta? Tidak tahu?

Kalau cinta dari cinta, tak ada pergerakan dong? Benci dari benci? Tidak beranjak dong. Ya, kan? Enggak ya? Ya, sudah. Saya sendiri entah sudah berapa tahun main-main fesbuk. Mungkin sudah 14 tahun. Waktu itu saya hanya main internet untuk bikin situs blog. Kemudian seorang anak muda membujuk saya mbukak platform medsos yang lebih canggih bernama fesbuk. Saya setuju karena saya bebas berekspresi disitu. Meski pertamanya agak jengkel juga, nulis dibatasi jumlah karakter. Padal karakter saya unlimited. Tapi nggak papalah, dibanding twitter yang dulu juga pelit banget. Karena progammernya mungkin masih unyu-unyu juga.

Yang penting bagi saya, ada ruang untuk menulis. Menulis itu penting bagi saya, untuk senam jemari tangan agar tidak tremor, dan meditasi otak agar tidak cepat mengeras. Sewaktu muda, sebagai penulis saya sudah cukup bangga pernah menulis di media cetak, di seluruh Indonesia. Bersama teman-teman waktu itu, diantaranya Butet Kartaredjasa, untuk berlomba-lomba berbagi kegembiraan. Di media papan atas sampai papan bawah, yang kita ukur dari besaran honor. Meski honor sebetulnya bukan urusan kami. Kami nggak mikir. Karena yang mesti mikir bagian keuangan media itu. Kami mah nulis aja. Tapi, media yang paling memebaskan untuk free thinking dan free writing, adalah fesbuk ini. Lumayanlah, meski yang membatasi ya para fesbuker sendiri, disamping admin fesbuk yang kepinterannya artificial.

Terus apa hubungannya dengan Desember? Baik-baik saja saya kira. Seperti hubungannya dengan Januari, April, Agustus, dan seterusnya. Tak ada yang jelek. Bahkan yang tidak baik pun belum tentu buruk. Sampai akhirnya saya tahu, sayanya nggak bosan nulis tapi yang mbaca yang bosan. Maka, sebelum bulan Desember ini berakhir, saya mohon maaf tidak bikin resolusi, karena ada beberapa utang belum tersaur, beberapa tagihan belum terbayar, beberapa pesanan buku belum terkirim tapi duitnya sudah habis. Semoga tahun depan semua terlunaskan, asal angin sorga tak disamakan angin neraka. Meski sorga dan neraka ternyata sama saja. Sama-sama tak kita ketahui; di hati, di otak, atau di rekening kita. Sama-sama. Metharsel with love! |

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono III

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed