Politik Dagang Daging Menteri, Masih Relevankah?

Oleh : Muhammad Jawy

Salah satu kekecewaan besar saya terhadap SBY adalah ia lebih memilih membagi sebagian besar kursi menteri ke parpol pasca kemenangan besar tahun 2009. Dengan suara 60% lebih, meninggalkan jauh Mega-Prabowo dan JK-Wiranto, namun SBY tidak mengapresiasi suara rakyat.

Menteri parpol ada 20 dibanding 14 menteri profesional di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dengan mengatasnamakan kestabilan politik. Padahal dengan kemenangan yang fenomenal itu, posisi tawar SBY jauh diatas parpol.

Masyarakat yang sempat percaya dengan citra yang dibangun SBY, misalnya semangat anti korupsi dengan divonisnya besannya sendiri, kemudian mulai antipati ketika satu per satu menterinya mulai berkasus di KPK, bahkan termasuk yang ada di KIB jilid pertama. Kebanyakan yang menjadi narapidana adalah menteri dari Parpol seperti Andi Malarangeng, Jero Wacik, Suryadharma Ali dan Bachtiar Chamsah.

Yang tidak terkena kasus korupsipun, kinerja menteri dari parpol lebih banyak yang mengecewakan daripada yang berprestasi. Sudah menjadi rahasia umum, kementrian yang dipegang parpol dijadikan sapi perah untuk kepentingan partai, baik secara legal ataupun ilegal, via anggaran kementrian, ataupun BUMN yang ada di kementrian itu. Hal inilah yang membuat masyarakat muak. Partai Demokrat yang sempat menjadi partai favorit di 2009, dihukum oleh masyarakat dengan merosotnya elektabilitas hingga tinggal separuhnya di 2014.

Era Jokowi, terlihat ada semangat untuk mengurangi jumlah menteri dari parpol, 16 menteri parpol dibanding 18 menteri profesional. Bahwa realitas politik kita, menteri parpol masih tidak bisa dihilangkan, setidaknya penambahan jatah menteri profesional bisa memberikan ruang baru bagi mereka yang mau kerja keras tanpa terkotori titipan bantuan logistik untuk partai. Namun harus saya katakan, pun di era Jokowi, menteri parpol tidak banyak yang bisa menunjukkan etos kerja dan visi yang kuat.

Karena itu ide koalisi untuk Pilpres 2019 dengan semangat bagi-bagi menteri bagi parpol adalah hal terkutuk yang semestinya tidak lagi kita ulangi. Saya berharap jumlah kursi menteri parpol di kabinet mendatang bisa berkurang di bawah 16, dan terus semakin berkurang, dengan menempatkan hanya yang profesional di kementrian yang utama dan strategis, sehingga formasinya semakin mendekati kabinet "zaken" atau kabinet para ahli. Indonesia pernah memilikinya, dan satu hal yang mengancam kita tidak memilikinya lagi: egoisme dan pragmatisme parpol.

Indonesia akan cepat maju jika kabinetnya semakin "zaken", dan potensi kemajuan ini akan terhambat jika kabinet masih dijadikan ajang dagang daging menteri.

-AMJ-

Sumber : facebook M Jawy

Tuesday, July 10, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: