Polisi Bagian Sumbar

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Ditangkapnya Kang Toto atas kasus penulisan pelarangan Natal di Damasraya yll, mengagetkan kita semua. Dan polisi pasti sdh ada jawabnya, penangkapan itu sdh memenuhi syarat UU ITE. Kita ingat bagaimana ILC drama berjilid mengumpulkan mulut murah menyemburkan hal-hal provokatif, tapi fine-fine saja. Jadi kalau dipelototi satu-satu, banyak sekali bias yg di pakai dalam menggerus seseorang atas nama UU ITE.

Kang Toto adalah aktivis penyuara anti intoleransi, apakah dia membahayakan, apakah dia musuh negara, sementara pelarangan acara Natal dari pemeluk agama yg diakui negara dianggap sah-sah saja, apa gak lebih berat ngelarang orang beribadah daripada sekedar menulis bahwa di bumi yg katanya ada pancasila ini masih ada diskriminasi dlm melaksanakan ibadah yg harusnya dilindungi.

 

Kita lihat saja nanti, karena banyak jawaban dari polisi, ini akan sama halnya saat anda di tilang karena KIR nya mati, yg di tahan STNK. Sama juga hal nya perjuangan kami menuntut tanah fasum yg di makan pengembang, polda jatim menghentikan dgn alasan tak terbukti, padahal sudah kami ukur lahan fasum kurang 5 ha. Mungkin polisi punya ukuran sendiri atau meterannya buatan pengembang yg dibalut uang.

Kang Toto sabar dulu ya, karena di Sumbar polisinya beda dalam melihat anti toleransi, atau kita yg berjuang dianggap Malin Kundang.

APA KITA PERLU MELURUSKAN ARTI INTOLERAN VERSI POLISI YG LEBIH BISA DI MENGERTI.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, January 8, 2020 - 21:15
Kategori Rubrik: