Poligami, Hukum yang Menjadi Senjata

Oleh: Denny Siregar
 

Ada bab tentang poligami dalam bukuku..

Dan pertanyaan terbanyak di inbox yg tdk sempat kujawab adalah, "Apakah bang Denny mendukung poligami ?"

Daripada capek menjawab satu persatu, lebih baik saya jawab disini saja..

Ketika saya berbicara tentang poligami, jangan kemudian saya di cap mendukung, menentang ataupun ingin berpoligami. Sama seperti ketika saya berbicara tentang kematian, bukan berarti saya ingin mati.

Saya hanya berbicara tentang fenomena yang terjadi, terutama pada sisi kaum hawa yang di poligami. Dan saya ingin menggambarkan bagaimana hukum itu terbuat, supaya mudah dipahami bahkan oleh mereka yang menolak hukum itu sekalipun.

Inspirasi itu saya dapat ketika ada seorang yg curhat kepada saya ketika ia di poligami.

Sebagai catatan, hukum poligami itu di keluarkan pada masa jahiliyah, dimana pada waktu itu perkawinan dilakukan tanpa batas istri. Tujuannya bukan hanya seks semata, tetapi juga utk membangun klan sbg bagian dr penguasaan wilayah. Karena itulah Nabi Muhammad Saw mengatur perkawinan dalam jumlah yg terbatas, supaya seorang lelaki tetap bisa berlaku adil pada pasangannya.

Apakah relevan pada situasi sekarang ?

Relevan atau tidak, kita tidak bisa mengukurnya melalui diri kita karena manusia itu banyak modelnya. Dan kitab suci mengatur secara general hukumnya. Titik terpentingnya bagi seorang lelaki adalah berlaku adil.

Hanya antara hukum dan manusianya memang jauh berbeda. Banyak hukum dimanfaatkan untuk kepentingan seorang manusia. Hanya karena nafsu semata, dijadikanlah hukum itu sebagai senjata. Hukumnya benar, niatnya yang salah.

Karena itu wajar ketika poligami dipaksakan hanya karena "berdasarkan hukum Tuhan", banyak wanita yg tersakiti hatinya karena ia sudah merasa berbakti kepada suaminya, tetapi suaminya ingin ia lebih berbakti lagi dengan membagi perasaannya. Seorang wanita harus belajar ikhlas sampai tingkat tertinggi dan itu perjuangan yang sangat berat.

Dalam konsep poligami, disitulah hal yang paling menarik bagi saya.

Sebuah ketaatan tanpa batas seorang wanita, sebuah pengorbanan, perjuangan hanya untuk mendapatkan cinta Tuhan. Pada titik ikhlas tertinggi, seorang wanita hanya melihat suaminya sebagai tangga-nya untuk menuju surga, yaitu keikhlasan-nya kepada sang pencipta.

Sesudah mendengar ceritanya, saya tidak mau lagi menjadi hakim bagi wanita yang di poligami. Malah saya menaruh hormat yg tinggi padanya, yang tidak semua orang mampu melalui situasinya.

Enak dong laki2nya kalau begitu...

Saya biasanya tersenyum kalau mendengar pernyataan itu. Teringat nasihat Imam Ali as : " Ketika seorang wanita menangis karena perbuatan seorang lelaki, maka malaikat akan mengutuk setiap langkah lelaki itu.. "

Hati-hatilah... Jangan sampai hukum itu menjadi senjata yang memakan tuannya..

Menunggu sahur, secangkir kopi panas rasanya bisa menjadi teman yang tepat.. Seruput dulu, ah...

(Sumber: dennysiregar.com)

Thursday, June 9, 2016 - 10:00
Kategori Rubrik: