Poligami dan Kezaliman terhadap Jomblo

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Sendiri adalah pilihan, tapi jomblo adalah sebuah perjuangan. Bayangkan, ketika orang sibuk berdebat tentang dalil poligami, ternyata tak satupun ayat-ayat suci berpihak padanya. Jomblo sejak jaman nabi selalu dipinggirkan, hanya disuruh puasa, atau paling banter memperbanyak olahraga. Itupun paling balapan onta. Kebangetan.

Poligami dianggap sunah nabi. Maka berburu istri muda dianggap ibadah. Pemahaman nenek lu! Poligami itu tradisi baheula, dari banyak kebudayaan, termasuk arab. Tidak aneh orang arab tempo doloe beristri banyak, karena mereka mewarisi istri bapaknya. Iya, istri jaman dulu termasuk harta warisan. Belum lagi budak-budaknya. Poligami itu gaya hidup hedonis para juragan. Sebagai lambang kejantanan dan kekuasaan.

Nah, gaya hidup hedon inilah yang direduksi dengan pembatasan. Agama tidak melarangnya, tapi mempersulitnya, dengan syarat harus adil. Padahal sulit sekali untuk bisa adil. Masih ingin mengikuti nabi? Tuh janda-janda tua banyak yang nganggur. Yang anaknya banyak, yang bodynya tidak menarik, yang tidak berkecukupan secara ekonomi. Yakin mau meniru nabi? Ayo jangan ngeles seperti bajai.

Anehnya, para ustadz itu memberi teladan berbeda.

Ketika ustadz Arifin Ilham dengan bangga memamerkan istri-istri cantiknya, orang-orang langsung koor, subhanallah. Mestinya mereka istighfar. Tanpa disadari ada pihak yang terzalimi. Mereka yang selalu update status penuh kata-kata menggugah ala Mario Teguh di Facebook. Mereka yang sering share berita penuh nasehat bijak. Padahal hanya kamuflase dari hatinya yang gersang, halah.

Poligami adalah persoalan besar negara. Oknum yang sering kampanye poligami biasanya sudah beristri. Ya jelaslah, masak jomblo kampanye poligami? Terang sudah, mereka adalah pemilik modal (yaitu istrinya). Mereka memiliki pengalaman, siap risiko, tahan uji. Sementara para jomblo tertindas, mereka hanyalah aset olok-olok. Ayat suci saja tidak membelanya, apalagi negara? Ini jelas adalah pertentangan kelas antara pemodal dan proletar asmara.

Di titik inilah para proletar asmara itu harus menyatukan suara perlawanan. Kalau perlu membentuk partai, misalnya bernama Partai Kejombloan Indonesia alias PKI. Bikin saja lambang gunting dan sisir disilangkan karena palu-arit terlalu mainstream. Lagipula nanti dikejar-kejar aparat malah repot. Pasang poster di mana-mana. Cukup dengan slogan pendek: bersatoe ganjang poligami!

Di partai itu nantinya para jomblo bisa menyatukan suara untuk membuat petisi. Panggil saja pihak-pihak yang bertanggung jawab atas reklamasi hati. Ahok, Jokowi, kalau perlu gunakan hak angket pada Tuhan. Jomblo harus disetarakan. Harus dianggap eksistensinya. Cukup dengan menurunkan satu ayat pendek saja. Kalau permintaan itu terlalu sulit, amandemen saja UUD 45. Bahwa jomblo-jomblo terlantar dipelihara oleh negara!

Revolusi belum selesai. Kini saatnya para jomblo bersatu melawan bahaya laten kapitalisme asmara bernama poligami. Para proletar musti dibangunkan. Revolusi merah jambu mesti dikobarkan. Karena poligami adalah kezaliman terbesar terhadap para jomblo. Wahai jomblo-jomblo sedunia, bersatulah, kibaskan ponimu!

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Friday, May 13, 2016 - 00:30
Kategori Rubrik: