Pola Pendidikan Di Indonesia Dan Beberapa Negara Luar

ilustrasi

Oleh : Septin Puji Astuti

Selama ini Finlandia jadi acuan. Karena sistemnya beda dan katanya orangnya paling bahagia.

Beda dengan negara Singapura, Jepang, atau Korsel. Meski berkali-kali negara tersebut nilainya bagus, tapi dari sekian orang Indonesia (bahkan dunia) gak ada yang mempromosikannya.

Di Finlandia, waktu belajar lebih sedikit. Di masa anak-anak hanya bermain saja. Tapi hasilnya bagus. Kok bisa? Kabarnya, orang Finlandia itu memang cerdas-cerdas dan orangtua punya tanggungjawab pendidikan yang luar biasa. Kabarnya lagi, penduduknya sedikit.

Singapura, Jepang, dan Korsel penduduknya juga sedikit. Ada pendapat, kalau Shanghai jadi negara sendiri, bisa jadi masuk rangking atas juga.

Cerita seorang teman dari Korsel. Anak sekolahan di Korsel pulangnya malam. Habis sekolah kemudian dikirim ke tempat kursus. Kalau gak, gak akan bisa suksea. Kalau mereka merasa gagal, meraka bisa saja 'terjun' dari gedung. Katanya, biasanya karena merasa menjadi orang tidak berguna. Tentu ini jadi bahan kritik dan tidak akan dijadikan 'kiblat' pendidikan bagi negara lain meski hasil tes PISA tinggi.

Kalau di Jepang? Sebagai jajahan Jepang saya kira sudah banyak tahu. Karakter orang Jepang itu sebelas dua belas dengan Korea. Kalau urusan mendidik anak di Jepang apa ada anak sekolahan belajar sampai malam dan kursus bimbel kayak di Korsel (di Indonesia juga)?

Kalau Singapura? Negara kecil dengan upaya pendidikan yang luar biasa. Ngetop? Wajar.

Kalau Indonesia, andai yang dites PISA adalah anak-anak kota, misal Jakarta saja, hasilnya apa masih jeblok? Kalau lihat hasil NEM SMA banyak berasal dari SMA Jakarta. SMA luar Jawa yang masuk 100 besar nilai UN terbaik itu kalau saya gak salah hitung hanya 8 SMA saja. Lainnya SMA di Jawa dengan Jakarta tetap mendominasi. Makanya tidak heran jika banyak orang dari Luar Jawa (yang mampu secara keuangan) menyekolahkan anaknya ke Jawa sejak SMP (Ponpes).

Tahu kualitas pendidikan dari mana? Kita masih menggunakan nilai UN sebagai output dari pendidikan. Bisa saja prosesnya dinilai. Tapi lama. Koreksi soal ujian yang isinya hitungan angka lebih mudah dan lebih singkat daripada koreksi ujian yang isinya kalimat.

Sumber : Status Facebook Septin Puji Astuti

Monday, June 24, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: