Pola Berulang

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Tidak pernah terpikir memasuki dunia politik, dan akhirnya tetap dia jalani karena desakan teman-temannya, walau keluarganya tidak mendukungnya, namun tetap mendoakannya. Jokowi akhirnya menapaki karir politik atas izin Tuhan dengan pesat diluar nalar.

2005 memenangi pilwali Solo dgn meraih 36,6 %. Pada priode kedua pilwali dia meraih angka yg tidak pernah terjadi di Indonesia, 90,1 %, apa faktor yg bisa diukur dgn angka itu. Dia menjadi pengabdi rakyat Solo, merangkul semua pihak, bahkan pemindahan pedagang pasar tidak diperlukan Satpol PP, pedagang diajak dialog, disiapkan lapak yg baik, akses belanja, dsb. Akhirnya ribuan pedagang pindah sendiri, luar biasa.

 

 

Baru menjabat walikota Solo priode kedua hanya dijalani 2thn 2010-2012, karena beliau diminta bertarung di Jakarta, menjadi gubernur DKI, dua putaran pemilihan dia menang dgn angka 53,8%.

Dua tahun menjabat gubernur DKI 2012-2014, dia harus serahkan ke Ahok, karena diminta maju sebagai capres, menang lagi dgn angka 53,15%, dan menjadi presiden RI ke 7.

Apa yg dilakukan Jokowi, dalam kurun waktu 9 thn berpolitik dia bisa menjadi presiden. Yang pasti semua hal yg dia capai bukan turun dari langit tanpa proses, walau izinNya dari langit, bahwa Jokowi disiapkan jadi presiden RI ke 7. Terlahir dari keluarga miskin, hidup dirumah kontarakan dibantaran kali, kemewahannya kalau bisa makan 3kali sehari, namun orang tuanya bertekad anaknya harus sekolah agar bisa merubah jalan hidup. Dia Ir. Kehutanan UGM, yg menolak 21 kali pemberian gelar HC dari beberapa Universitas. Dia berprinsip hidup harus diasah, bukan hanya dari ijazah.

Kekuatan karakter dan akhlaknya yg ditempa dari lingkungan sederhana membuatnya kuat dalam tekanan, walau dia pendiam. Bila saja dia berkarakter berangasan ditengah serangan, fitnah, caci maki, bangsa ini sudah lama perang saudara. Bagaimana kita diaduk-aduk oleh isu agama, fitnah murah, pembohongan yg terus digelontorkan oleh orang yg tak siap kalah. Kenapa dia kuat, karena dia selalu tau membawa dirinya dimana saja, dia adalah presiden yg tau mengartikan amanah, dan paham berbenah, bukan yg gaya sok kuasa, yg penting bisa kaya, rakyat dibiarkan saja, melarat diurus nasib.

Tidak usah dibicarakan panjang lebar kalau soal hasil kerja, Jokowi adalah orangnya, karena dalam darahnya hanya kerja, kerja, berbagi dan berempati. Kalau partai sebelah sampai lidah berdarah tak akan bisa berbenah, selain tak mengerti amanah, gennya tak lumrah. Makanya mereka hanya bicara kekuasaan, dengan segala cara, dan menghalalkan apa saja. Ini berbahaya kalau sampai berkuasa.

Kembali ke Jokowi, ada pola berulang yg akan terjadi (maaf ini analisa saya). Dia memulai karir politik sebagai walikota Solo masuk dua priode, dgn trend sebagai pemenang priode awal 36,6%, dan priode kedua 90,1%, angka positif ini adalah hasil totalitas kerjanya yg bernadi mengabdi, bukan mencuri.

Memenangi kontestasi pilgub 53,8% dan pilpres 53,13% adalah buah karya akhlak dan etos kerjanya, walau sekali lagi dan harus selalu diingat, daun kering yg jatuh saja atas izin Tuhan, Jokowi tidak terlepas dari campur tangan keghaiban itu, itu pasti. Dan Tuhan masih menyayangi Indonesia, yg gemah ripah loh jinawi.

Solo dimulai dan dibenahi, masuk dua priode, lompatan kepercayaan masyarakat Solo tiga kali lipat pada pemilihan kedua. Sekarang dia akan menyelesaikan priode pertama sbg presiden, dan akan mengikuti pilpres priode kedua. Melihat animo rakyat, dan menjadi negara no wahid didunia dimana 80% rakyatnya percaya kepada pemerintah, maka tidak ada celah kalau Jokowi bisa kalah, INSYAALLAH.

Dia mengawali karir politik yg luar biasa, dan dia akan mengakhiri sebuah amanah pada dua priode menjadi presiden dgn sangat luar biasa, sehingga pencapaian mendulang dukungan diatas 70% pada pilpres 2019, bukan hitungan mengada-ada. Mari kita berdoa untuk Indonesia, bangsa, dan pancasila.

#MARIJOKOWILAGI

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, January 8, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: