PNS, Duit Rakyat dan Budaya Malas

Ilustrasi

Oleh : Iyyas Subiakto

Pagi ini sy mules lagi akan ada penerimaan pns, dan pelamarnya diasumsikan akan tembus 10 orang. Padahal dengan yg ada sekarang APBN telah terpakai 70% untuk gaji PNS dan ASN. Artinya APBN makin sulit utk dipakai sbg dana pembangunan. Karena habis utk dimakan. Ini lama lama bisa ngutang utk bayar gaji PNS. Wassalam Indonesia.

Berkali kali saya menyoroti tidak adanya standarisasi rasio PNS terhadap jumlah warga disatu wilayah. Contoh Pemprov Jatim dgn penduduk 38 jt jumlah PNS 453 ribu. Rasionya 1,2% atau 1 orang PNS melayani 83 orang penduduk. Sidoarjo rasionya 0,7% atau 1 PNS melayani 152 penduduk. Pasuruan 0,87%, 1: 115 penduduk. Saya ambil sampel luar Jawa, Kab. Kutai Kertanegara Kaltim, disana rasionya 2,9 % atau 1 PNS melayani 34 penduduk.

Kebutuhan satu hal, rasional adalah keharusan, sehingga dari sana bisa didapat jumlah dan sekaligus kemampuan. Tidak lagi merekrut PNS yg jam 9.00 sdh nongkrong di kantin atau ngobjek, ngelayap, ke kantor cuma apel, cengengesan dan pulang.

Lihatlah video Mahathir yg menyoroti kinerja suku melayu dgn budayanya, budaya " cari aman " tidak mau susah. Coba tanya motivasi kenapa mau masuk PNS begitu kuatnya, rata rata jawabnya " dapat pensiun ". Untuk masuk menjadi PNS tidak sedikit yg pakai upeti, suap sana sini.

Saya pikir hal ini sudah ada di benak Pak Jokowi, makanya infrastruktur digenjot, dan rencana setelah itu mutu SDM di perbaiki. Mental kacung harus di rubah menjadi mental juragan. Jadi tidak lagi ngelamun ngemis uang APBN. Uang APBN lebih diperbanyak buat guru dan TNI saja. PNS bisa diganti sistim karena IT sudah makin baik.

Tinggal bagaimana menyatukan antara Kemampuan dan Kemauan menjadi keunggulan. Dengan itu dibutuhkan REVOLUSI MENTAL. Begitu Gus.

Iyyas Subiakto

Saturday, June 16, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: