Pluralisme dan Sekularisme

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Dalam pengajian bersama Buya Syakur Yasin dan Mbak Yenny Wahid sempat terlontar pembahasan pluralitas dan sekularisme. Kata Buya pluralitas itu bukti kekuasaan Tuhan. Kita justru perlu merawat pluralitas untuk menghargai perbedaan.

Pluralitas bukan berarti ibadah ke mesjid bersama umat lain atau ke geraja bersama umat lain. Tetapi menghargai perbedaan untuk menjaga common society tetap tertib dan hidup bersama..

Menurut mbak Yenny pulariltas justru akan jadi tameng jik apmerintah melakukan diskriminasi. Denganmenghargai pluralitas penguasa tidak bisa semena-mena menekan perbedaan dalam masyarakat.
Saya setuju sekali. Jelas pluralitas adalah sunatullah. Tuhan tidak menciptakan satu jenis manusia, tapi beragam baik dalam warna kulit, karakter dan keyakinan.

Menurut Buya sekularisme bukan berarti pemisahan urusan agama dan politik pemerintahan. Tapi mestinya didefiniskan sebagai upaya merawat agar negara atau pemerintah tidak mengintervensi pelaksanaan agama oleh masyrakat. Pernah terjadi sejarah kelam dalam pemerintah islam di masa lalu. Ketika penguasanya berpaham mustazilah maka penganut sunah wal jamaah jadi korban dan begitu juga sebaliknya. sampai pada pembunuhan massal para penganut paham yang berbeda. Makanya negara harus merawat agama dengan tidak ikut campur tangan.

Saya setuju bahwa sekularisme itu penting. Dalam pikiran saya sekularisme itu menyerahkan urusan agama kepada masyarakat. Masyarakat harus dianggap sebagai makhluk dewasa yang bisa mengurus agamanya sendiri. Negara hanya akan hadir jika para penganut/kelompok agama tertentu sudah mengganggu ketertiban umum atau penganut agama/kelompok lain.

Sekularisme ini dipahami sebagai penghargaan terhadap kedewasaan masyarakat dalam beragama. Jangan negara terus menyuapi atau campur tangan terhadap urusan agama warganya. Apakah tidak kacau? Justru itu belum pernah dicoba dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat ketika warga negara diberi kebebasan dalam menjalankan ajaran agamanya. Tapi harap dicatat negara harus hadir ketika sudah ada kelompok yang mengancam, atau mengganggu ketertiban umum.

Jadi sekularisme tidak harus ditakuti. Pada praktek kenegaraan justru negara2 Eropa, AS, Jepang, China yang maju menganut konsep sekularisme. Energi negara tidak habis untuk mengurus hal-hal yang bukan domainnya dan bisa fokus pada hal-hal yang bisa mensejahterakan rakyat, menjaga ketertiban rakyat, menemukan inovasi dalam teknologi.

Sumber : Status facebook Budi Santoso Purwokartiko

Saturday, May 23, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: