Plausibilitas Ilmiah

ilustrasi

Oleh : Albiner 'Rabar' Siagian

Saya baru saja membaca tulisan seorang ahli virus (virolog) perihal coronavirus yang saat ini tengah mewabah di Wuhan, Cina, di media sosial ini. Tulisannya diawali oleh pernyataan "Memang ada batas tipis antara percaya diri dengan kesombongan. Lalu, dia mengutip peristiwa tenggelamnya kapal Titanic, sebagai contoh.

Kemudian, pada alinea kedua penulis mengutip pidato Xi Jinping, PM Cina, yang menyatakan Cina tak dapat dihentikan oleh kekuatan apa pun. Masih di alinea yang sama, dan ini yang membuat saya risau, penulis menyatakan "Meskipun konteks pidato Jinping adalah pesan tegas ke kekuatan geopolitik tertentu, kita sulit untuk tidak melihat kontras pidato tersebut terhadap peristiwa 3 bulan setelahnya, yakni pemandangan jalan sepi di Kota Wuhan. Ini yang menjadi soal.

Tulisannya kemudian dilanjutkan untuk membahas panjang lebar soal virus. Akan tetapi, kita juga tak sulit menebak ke mana arah tulisannya: Mengaitkan sains dengan takdir.

Bahwa pidato Jinping itu pernah terucap benar saja adanya (kita tak perlu mempersoalkan kebenarannya). Bahwa pidato itu mengesankan kesombongan, bisa 'Ya', bisa 'Tidak'. Itu tergantung cara kita merespons dan memaknainya. Katakanlah itu memang pernyataan sombong. Lalu, bahwa jalan di Kota Wuhan menjadi sepi (yang mau dikatakannya adalah wabah coronavirus melanda Kota Wuhan) juga benar adanya. Bahkan, WHO sudah menetapkannya sebagai kedaruratan masalah kesehatan global. Kembali, yang menjadi soal adalah bagaimana kita mengaitkan itu sebagai kejadian yang berhubungan sebab-akibat, apalagi akibat murka Tuhan? Dengan kata lain, adakah plausibilitas ilmiah bahwa kedua kejadian itu sebagai hubungan sebab-akibat (kausalitas)?

The Cambridge English Dictionary mangartikan plausibility sebagai 'the quality of seeming likely to be true' or possible to believe' (tingkat kebenaran atau tingkat peluang untuk meyakini kebenaran, suatu klaim, misalnya). Dan, kita jangan lupa, yang dimaksudkan The Cambridge English Dictionary adalah keyakinan ilmiah, bukan keyakinan agamawi.

Penjelasan plausibilitas ilmiah kira-kira demikian. Suatu waktu seorang peneliti ingin menguji keterkaitan antara migrasi kelelawar dengan angka kelahiran manusia di sepanjang jalur migrasi kelelawar itu. Setiap hari selama sebulan, dia mencatat jumlah kelelawar yang terbang di angkasa dan jumlah anak yang lahir di bumi. Maka, dia memiliki data jumlah kelelawar dan jumlah anak yang lahir untuk tiap hari yang bersesuaian selama sebulan. Lalu, dia mengorelasikannya. Hasilnya, keduanya berkorelasi sangat erat. Itu bermakna makin banyak kelelawar yang migrasi makin banyak anak yang lahir.

Kemudian dia juga ingin menguji hubungan antara banyaknya kereta api yang lewat dengan angka kelahiran di permukiman di sepanjang jalur rel kereta api itu. Sama dengan yang sebelumnya, dia menyimpulkan ada hubungan yang erat antara banyaknya kereta api yang lewat dengan jumlah anak yang lahir (koefisien korelasinya, r, mendekati 1).

Dia belum puas. Yang terakhir, dia meneliti hubungan antara harga alat kontrasepsi dengan angka kelahiran. Kembali, hasilnya berkorelasi erat dan positip. Artinya makin tinggi harga alat kontrasepsi makin banyak anak yang lahir.

Saya ajak pembaca untuk menyimak kembali ketiga penelitian si peneliti di atas, lalu jawablah pertanyaan berikut. Manakah dari ketiga penelitian tersebut yang berhubungan secara kausalitas? Artinya bahwa tinggi atau rendahnya angka kelahiran diakibatkan oleh, masing-masing, jumlah kelelawar yang bermigrasi, jumlah kereta api yang lewat, dan harga alat kontrasepsi.

Apakah BKKBN begitu saja memercayai hasil penelitian itu, lalu menghalau semua kelelawar yang migrasi untuk menekan angka kelahiran? Atau, mereka mengalihkan jalur kereta api untuk menjarangkan kelahiran? Ini adalah persoalan kausalitas dan plausibilitas ilmiah.

Terkait dengan hubungan kesombongan dengan wabah coronavirus sebagai murka Tuhan itu, pertanyaan yang sama juga harus dijawab: "Adakah penjelasan yang masuk di akal bahwa itu 2 (dua) peristiwa yang berhubungan sebab-akibat? Bahwa orang sombong akan mendapat upah dari kesombongannya bisa dijelaskan secara ilmiah, jelas adanya! Ambil contoh pengendara sepeda motor yang sombong yang karena kesombongannya dia tidak berhati-hati berkendara di jalan. Dia berkemungkinan besar mengalami kecelakaan. Itulah upah kesombongannya. Lalu, itu akibat murka Tuhan? Pembaca boleh saja meyakininya, tetapi sains tidak!

Sains menganut asas universalism, keyakinan agamawi tidak. Jangankan oleh yang tak beragama, yang beragama pun tak memiliki keyakinan yang sama soal sesuatu hal. Lalu kita mengklaimnya sebagai kebenaran ilmiah yang berlaku universal?

Kepada kaum terdidik saya menghimbau agar teguhlah di keilmiahanmu! Itulah yang dikenal sebagai integritas ilmuwan. Itu pulalah jati diri dan kebanggaanmu sebagai ilmuwan (baca: saintis). Bedakanlah keyakinan ilmiah dari keyakinan agamawi! Silakan meyakini suhu neraka itu mahapanas! Jangan sebut itu keyakinan ilmiah! Bisa-bisa Anda dimintai kaum ateis untuk membuktikannya. Repot, kan?

Sumber : Status Facebook Albiner Siagian

Wednesday, February 5, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: