PKI Sudah Mati Mayjen Kivlan!

Ilustrasi

Oleh : Iohanes Rakhmat

Mayjen Kivlan Zein (purnawirawan) baru saja berkomentar, “Tak akan ada lagi seminar tentang PKI. Kini kami siap memerangi PKI yang sedang tampil gaya baru. Budiman Sudjatmiko, dulu pendiri PRD, memperlihatkan PKI gaya baru lewat program pemberdayaan kawasan pedesaannya. Kita sedang siapkan barisan pembela Pancasila sebagai ideologi garis lurus!”

Ada sejumlah sumber berita yang memuat kutipan parafrasis pernyataan KZ itu. Di antaranya, ini: https://m.tempo.co/read/news/2016/05/23/078773397/kivlan-zein-tak-ada-seminar-lagi-kami-siap-perang.

Budayawan Goenawan Muhamad lewat akun Twitternya (@gm_gm) menulis kepada Kivlan Zein, “Nasihat utk Kivlan Zen: berhentilah memakai pikiran yang sudah berkarat untuk melawan ideologi yang sudah berkarat.” (pukul 9.21 AM, 18 Mei 2016). Terhadap GM, respons KZ antara lain berbunyi, “Kalaulah fikiran saya berkarat, tentu masih bisa dibuat mengkilap dengan cara dibraso, namun orang-orang Komunis fikirannya itu seperti batu, tak bisa jika hanya dibraso, tapi masih tetap bisa diubah dengan cara diasah, dipahat, dan digerinda setelah itu baru terbentuklah wujud yang baru. Mudah-mudahan anda tidak termasuk orang yang fikirannya seperti batu.”

Tentu saja, ada berbagai tujuan dan latarbelakang KZ membuat pernyataan-pernyataan semacam itu. Bisa untuk mengalihkan isu besar lain dari perhatian publik, bisa juga untuk menunjukkan KZ tak sejalan dengan pemerintahan Presiden Jokowi yang sedang mencari kebenaran dan mengupayakan rekonsiliasi nasional terkait G30S, alias KZ mau membangkitkan kembali suatu rezim lama yang sudah almarhum, atau bisa juga KZ dkk sedang memulai “suatu rencana besar lain” yang masih belum jelas benar. Apapun juga, kali ini saya tidak mau menyoroti motif dan latarbelakangnya; orang lain pasti ada yang akan atau sudah menganalisisnya. Saya hanya mau menyambut dengan positif ajakan KZ untuk kita perang!

Tapi, Pak Kivlan, ada jauuuh lebih banyak musuh kita bersama, alih-alih PKI yang sudah jadi sebuah mendiang partai. Bukankah Bapak juga tahu kalau komunisme sudah ambruk di sebagian besar kawasan dunia?! Sosialisme (Marxis) bertahan kini paling kuat hanya di Korea Utara, sebuah negara yang terkategori negara gagal jika diukur dari standard keberhasilan sebuah negara di dunia modern sekarang ini.

Musuh yang Pak Kivlan bayangkan, hemat saya, hanyalah ide-ide yang sedang banyak diwacanakan belakangan ini di negeri kita. Tapi Pak, ide-ide bisa didebat dan dikalahkan hanya lewat ide-ide tandingan yang lebih baik, bukan lewat bedil laras pendek atau bedil laras panjang untuk membunuh manusia sebagai makhluk pemikir.

Orang yang berpikir bisa dimusnahkan, Pak Kivlan, tapi semua pemikiran tidak bisa dibunuh, baik pikiran yang dibangun di zaman kuno maupun yang disusun di masa kini, dan terus di masa depan tanpa batas. Ada pikiran yang bisa lenyap, tentu saja, tapi bukan karena si pemikirnya dibunuh, tetapi karena orang melupakan pikirannya dengan sengaja karena pikirannya salah atau tidak relevan lagi, atau karena sesuatu hal terlupakan untuk kurun yang sangat lama, atau karena tidak sempat dipublikasi dan dipelajari dan dirawat dan dibarui, atau karena sumber-sumber utama yang menyimpannya lenyap ditelan bencana alam atau perang.

Tetapi pikiran sebagai pikiran tidak bisa lenyap. Pikiran yang terbukti salah pun tidak bisa lenyap; bahkan banyak kali membantu para pemikir ulung untuk membangun berbagai pikiran baru bertolak dari pikiran yang salah ini. Juga kita perlu tahu, jagat raya yang tanpa batas ini memuat pikiran dan ide, atau informasi, yang tidak terbatas yang menunggu kita gali dan temukan dan sinkronisasi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya melahirkan sebuah mahateori.

Nah, mahateori ini akan bisa menjelaskan interkoneksi segala hal, berbagai wujud materi (padat, cair, gas dan plasma) dan energi, juga puluhan ekstradimensi, yang ada dalam alam semesta kita atau dalam multiverse atau jagat-jagat raya paralel. Mahateori ini dinamakan the theory of everything, yang kini sedang diupayakan disusun para fisikawan lewat sebuah persamaan matematis yang cukup simpel. Dalam dunia kita, begitu sebuah ide besar terbentuk, ide ini segera berubah menjadi sebuah “meme” kultural yang terus menjadi viral, tersebar tanpa kendali ke seluruh Bumi.

Dulu di era pra-Internet persebarannya sangat, sangat lambat. Kini di era Internet, sebuah meme kultural segera saja dalam hitungan detik dan menit menyebar ke seluruh dunia. Di era Internet nyaris mustahil mengurung apa lagi memusnahkan sebuah ide. Jika seseorang mau mengerangkeng ide-ide besar yang sedang bebas menyebar lewat Internet, yang lazim terjadi malah hal sebaliknya: orang itu jadi terkurung, dan dituding telunjuk milyaran netizen global dengan nyelekit! Tapi, saya ulangi, saya sepakat dalam satu hal dengan Pak Kivlan Zein: kita memang harus bersatu untuk berperang sekarang ini! Tapi musuh-musuh kita yang real sekarang ini jauh lebih berbahaya dan jauh lebih mematikan dibandingkan PKI. Jika kita tidak memerangi musuh-musuh real bersama kita sekarang ini, NKRI nanti bisa hanya tinggal nama yang dikenang. Menjadi almarhum. Begitu juga Pancasila, Pak Kivlan! Kita sedang berada dalam kondisi “SOB” karena musuh real kita kini sangat banyak, menjalar, pandemik dan mematikan, mengepung kita di mana-mana!

Kemiskinan di antero Indonesia menampilkan sejumlah realitas yang menjadi musuh bersama kita yang mengerikan dan menginfeksi segala sesuatu, dan sedang mengepung kita di semua sudut dan semua jalan, dari Sabang hingga ke Merauke dan lebih jauuh lagi! Mari, Pak Kivlan, kita perangi semuanya bersama-sama, bukan dengan bedil atau bambu runcing atau politik devide et impera, atau stigma-stigma ideologis, tapi lewat pembangunan dan penataan kembali kota-kota, desa-desa dan NKRI, dan semua bentuk kehidupan dan aktivitas di dalamnya, dengan metode-metode modern yang cerdas, efektif, efisien dan konsisten, serta dilandasi moral dan jiwa yang agung para pemimpin dan guru bangsa dan semua rakyat negeri luas ini.

Inilah perang real semesta yang tanpa gentar, dan dengan nyali yang besar, dan dengan otak yang cerdas dan otot yang kuat, harus kita kobarkan! Bedil hanya boleh negara gunakan kalau sedang terlibat perang real militeristik di dalam atau di luar negeri. Tapi PKI sudah lama musnah, juga ideologi sosialisme marxis sudah tak laku lagi, bahkan sudah jadi puing-puing saja. Partai apapun, apalagi yang sudah almarhum, dan juga ideologi apapun, yang laku atau yang tidak laku, ya tidak bisa diberondong peluru. Oh ya, satu hal penting perlu saya kemukakan di akhir tulisan saya ini. Menurut para guru kebijaksanaan segala zaman, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri sehingga setiap manusia wajib memerangi dirinya sendiri lewat disiplin ketat pemeriksaan diri, pemeriksaan akal, pikiran, suasana hati, kalbu, suara batin, watak jiwa, kelakuan, sikap serta perbuatannya sendiri.

Filsuf beken segala zaman, Sokrates, lewat mulut muridnya yang paling cerdas, Plato, menegaskan bahwa seorang insan tak layak menjalani suatu kehidupan jika kehidupannya ini tidak dikaji lewat introspeksi. Selain itu, hidup ini memang sebuah pertempuran yang harus kita menangkan di jalan kebenaran. Nah, mengalahkan diri sendiri jauh lebih berat ketimbang mengalahkan seribu musuh. Begitu juga, menemukan kesalahan pikiran sendiri dan memperbaikinya sangat jauh lebih sulit ketimbang menemukan kesalahan pikiran orang lain dan berusaha memperbaikinya. Kata Gautama Buddha, “Apa yang kamu pikirkan, itulah dirimu yang sebenarnya.” Sebuah pepatah Zen menyatakan, “Kepada pikiran yang teduh dan tenang, jagat raya menundukkan diri.” Saya berdoa, semoga Pak Kivlan Zein di masa pensiun dan usia lanjut ini dapat memiliki pikiran yang teduh dan tenang; alhasil, hidup jadi sehat dan umur bisa sangat panjang. Jakarta, 25 Mei 2016 Salam saya, ioanes rakhmat

Kompasiana
 

Thursday, May 26, 2016 - 16:45
Kategori Rubrik: