PKI dalam Film The Year Of Dangerously (1982)

ilustrasi

Oleh : Prasetyo BoediFrast

Ini adalah salah satu film yang mengangkat Mel gibson di kenal di kalangan perfilman Internasional. Film ini di ambil dari novel karya Christopher Koch berjudul sama, The Year of Living Dangerously (1982) . Menurut saya pribadi film ini banyak kelemahan, riset sosiologis & sejarahnya payah.

Peter Lindsay Weir, sineas asal Australia tertarik dengan kisah novel itu. Dia pun mulai merancang memproduksi film ini. Ketertarikan Wier disambut hangat perusahaan film MGM, dengan menggelontorkan dana sebesar enam juta dollar. Produksi film pun berjalan pada tahun 1982.

Film ini menceritakan kisah cinta antara Guy Hamilton(Mel Gibson) , wartawan dari Australia yang datang ke Jakarta jelang peristiwa G-30-S. Di sanalah ia berkenalan dan menjalin cinta dengan staf kedutaan Inggris cantik, bernama Jill Bryant (Sigourney Weaver).

Film ini diawali ketika Guy Hamilton (Mel Gibson), koresponden asing untuk jaringan Australia, tiba di Jakarta untuk tugas. Dia bertemu dengan anggota komunitas koresponden asing termasuk wartawan dari Inggris, Amerika Serikat, dan Selandia Baru, personil diplomatik, dan orang kerdil Cina-Australia dengan kecerdasan dan keseriusan moral tinggi, Billy Kwan (Linda Hunt).

Billy Kwan di kambarkan bertubuh pendek (cebol) sekitar 135 Cm di sini di gambarkan sebagai orang yang anti Soekarno karena Billy melihat keterpurukan & kemiskinan rakyat Indonesia. Billy Kwan berusaha mendirect pikiran Guy Hamilton agar sepemikiran dengan dia akan tetapi idealisme sebagai wartawan muda tidak begitu saja Guy Hamilton mengikuti mindset Billy Kwan (yang dalam film ini akhirnya terbunuh oleh inteljen Indonesia jatuh dari lantai atas sebuah Hotel).

Itu tergambar saat ada dialog yang berkaitan Isyu angkatan kelima seperti yang diusulkan oleh Aidit, Aidit menyebut angkatan kelima ini sebagai "Tentara Rakyat" di samping ketiga angkatan lain AD,AU, AL dan Kepolisian. Dan Aidit menyatakan angkatan kelima ini akan mempersenjatai Petani & Buruh di bawah Komandonya -- Angkatan kelima di tawarkan oleh Aidit karena tau Presiden soekarno lagi kesulitan untuk membiayai peperangan "Ganyang Malaysia". Soekarno, walaupun dalam pidato "Vivere Periscolo" pada hari Kemerdekaan akan tetapi sebetulnya secara politis menolak usulan Aidit itu.

Dalam Film ini Guy Hamilton mendapat kesempatan wawancara dengan Aidit, Aidit menyatakan jika Soekarno sudah setuju & ini yang kemudian menimbulkan keributan di kalangan Diplomatik. Idealisme guy Hamilton akhirnya menguak banyak Hal -- Pertemuan Wawancara dengan Aidit menimbulkan tanda tanya -- ini yang menyebabkan Guy Hamilton "tidak disukai oleh kalangan Wartawan asing mainstream".

Guy Hamilton di gambarkan sekilas bahwa dia adalah orang berpikiran simpel & kaku ; dia tidak mengabaikan jika pemegang kekuasaan sebuah negara adalah kekuatan bersenjatanya ( beda dgn Billy Kwan yang njlimet terkontaminasi mindsetny mirip Mahasiswa angkatan 66 yg sudah kemakan banyak propaganda)

Scene yang sangat menarik perhatian saya adalah ketika isyu senjata dari China yang di kirim oleh RRC kepada Indonesia sampai di Tanjung Priok, Guy Hamilton dengan menggunakan kontak asistenya Kumar yang WNI ( saya agak terganggu dgn nama Kumar yang sangat India ; andai di ganti Komar mungkin tidak akan mengganggu saya) ke pelabuhan untuk investigasi senjata kiriman dari China itu ternyata TIDAK PERNAH ADA ( ini yang kemudian menimbulkan tanda tanya saya kenapa China daratan kok jadi kambing hitam) padahal Geopolitik saat itu China walaupun sesama Komunis lagi ada konflik beda pandangan dg Uni Sovyiet. Dan Indonesia justru lebih dekat dengan Cekoslovakia & Sovyet itu bisa kita lihat dari Utang Luar Negeri Soekarno ke Cekoslavakia utk bangun Istora & Bantuan alat tempur Uni Sovyiet yang di pakai oleh Angkatan Bersenjata kita.

Kenapa Aidit justru berupaya mendekatkan Soekarno ke Peking???

Terlalu Hollywood & riset yang payah ini sebetulnya yang membuat saya kurang menikmati film ini semisal saat Billy Kwan menunjukan wayang sosok Pandu dewanata ayah Pandawa pada Guy Hamilton di katakan sebagai Srikandi itu sangat mengganggu, juga penggambaran demontran yang berpakaian ala-ala Negro Amerika tapi berwajah India, Penggambaran Gerwani di puncak saat Guy Hanilton di jamu asistenya yang Kumar yang komunis wow sangat vietcong sekali perempuanya dan ada lagi banyak scene yg cukup bikin saya gak nyaman nontonya.

Lepas dari itu film ini tetapsaya tonton karena setidaknya ada nilai Informasinya -- minimal pandangan sineas Australia terhadap Indonesia di tengah-tengah situasi Aneksasi timor2 yang mulai bikin renggang Hubungan Indonesia-Australia tahun 1980-an.
Dan yang bikin penasaran lainya adalah saat itu film & novel The Year of Living Dangerously di larang beredar oleh Orde Baru.

Sumber : Status Facebook Prasetyo BoediFrast

Tuesday, June 2, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: