Pisau Berlumuran Darah Itu Mungkin Sumbangan Anda

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Apa yang tersisa dari gerakan 411 dan 212? Mungkin sekadar romantisme karnaval dan jihad selfie di Monas.

Tapi ada kisah lain yang sekarang masih terus berkembang.

 

Begini. Saat gerakan itu digagas, GNPF-MUI sebagai motor gerakan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Dipakailah rekening atas nama Yayasan Keadilan Untuk Semua guna menampung dana-dana dari para donatur. Milayaran sumbangan mengalir.

Tapi, belakangan polisi mencium ada yang tidak beres pada pengelolaan keuangan. Ada sejumlah besar uang yang ditarik dan digunakan untuk kepentingan lain. Bahtiar Nasir sebagai ketua GNPF-MUI kini bolak balik diperiksa polisi.

Polisi telah menetapkan dua orang sebagai tersangka, yaitu orang dekat Bahtiar Nasir yang juga karyawan bank tempat dana itu disimpan, Islahudin Akbar. Kedua adalah Adnin Armas sebagai ketua yayasan. "Masih terbuka peluang ada tersangka lain," ujar pihak kepolisian.

Serunya, polisi menemukan indikasi adanya transfer dana sebesar Rp 1 milyar ke Turki.. Dananya diambil dari rekening yayasan oleh Ishadul lalu diserahkan kepada Bahtiar Nasir yang kemudian mengirimnya ke Turki. Belum bisa dipastikan untuk apa uang tersebut dikirim.

Menurut Kapolri Tito Karnavian, ada media internasional yang melacak bahwa dana itu diperuntukkan untuk membantu ISIS di Suriah. "Ketika dilacak ke belakang ada aliran sampai ke ISIS," ujar Tito, dalam rapat dengan DPR-RI.

Soal hubungan Bahtiar Nasir dengan kelompok teroris dunia ini memang sedang didalami. Selain kasus dana 411 dan 212 ini, polisi juga sedang mengusut berbagai bantuan hasil mengumpulkan bantuan dengan tema Save Allepo, yang dikirim dari Indonesia kepada kelompok teroris di Suriah.

Jika penyelidikan polisi ini benar, tentu akan membuat rakyat Indonesia yang pernah menyumbang untuk gerakan 411 dan 212, merasa dibohongi. Mungkin ketika memberikan sumbangan mereka hanya ingin membantu saudaranya sesama muslim yang berdemonstrasi di Jakarta. Itu dilakukan dengan ikhlas saja.

Tapi, jika saja mereka tahu, dananya dikirim untuk menyokong ISIS, apakah mereka akan sama ikhlasnya?

Kita pasti tahu bagaimana biadabnya ISIS. Soal ribuan perempuan Yazidi di perkosa itu pasti membuat bulu kuduk Anda bergidik. Atau ketika kita menyaksikan video leher orang yang dogorok lalu tubuhnya dibiar menggelepar di tanah berpasir. Jika Anda manusia normal pasti gambaran itu membuat Anda mual.

Apakah kita tidak menjadi bertambah mual --ketika tahu-- mungkin saja pisau yang digunakan untuk menggorok leher orang itu dibeli dari dana bantuan kita? Darah yang menempel di bilah pisau itu menyaksikan bahwa nama Anda tertulis ikut juga mendukung kebiadaban ini?

Atau mungkin saja ikat pinggang yang dilepas lelaki biadab anggota ISIS saat mengangkangi para perempuan Yazidi itu, dibeli dari dana hasil sumbangan kita? Jerit tangis para perempuan itu juga memekikkan nama kita dengan perasaan muak.

Anda pasti tidak mau membayangkan. Lebih baik pergi tidur.

Esok, sehabis subuh, Anda akan kembali menikmati suara burung yang berkeciap. Sambil mengucapkan rasa syukur : Leher kita masih utuh dan perempuan-perempuan kita tetap terjaga kehormatannya.

 

(Sumber: Status Facebook Eko Kuntadhi)

Thursday, February 23, 2017 - 21:00
Kategori Rubrik: