Pinternya Elit atau Bodohnya Umat?

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Saya bilang juga apa. Yang menang dalam Pilkada Jakarta itu bukan umat Islam, apalagi jamaah Mamat dan Mimin, tetapi pengusaha dan politisi. Tidak ada "Muslim" versus "Kristen" atau "pribumi" versus "non-pribumi". Semua itu adalah gombal, bohong besar, dan hoax akbar!

Perhatikan siapa saja dalam video ini. Perhatikan obrolan mereka dalam video ini. Disitu ada Muslim, Kristen, China, Arab, dlsb, para elit partai dan pengusaha. Disitu ada pembicaraan tentang "umrah" ke Makah bagi Muslim dan "wisata" rohani ke Yerusalem untuk yang Kristen. Soal bayar sendiri atau bukan. Itu gak penting. Soal serius atau candaan juga tidak penting.

Poinnya adalah bahwa Pilkada hanyalah sebuah pertunjukan drama dan tontonan yang disajikan dan disutradarai oleh kaum elit, tak peduli apa agama dan etnis mereka. Sementara jamaah Mamat dan Mimin hanya menjadi supporter, penonton, dan penggembira saja. Dan seperti biasa penggembira, penonton dan supporter biasanya yang paling berisik dan ribut, kadang sampai berkelahi segala.

Para pemimpin ormas Islam, ustad, khotib, penceramah, dlsb itu hanya dijadikan sebagai "toa" atau "loudspeaker" doang untuk bengak-bengok mengintimidasi dan meneror umat Islam agar takut milih Ahok karena ada sanksi neraka, tidak diurus jenazahnya, dlsb, sambil mengarahkan mereka untuk memilih "gubernur Muslim" supaya masuk surga dan "syar'i".

Berkali-kali saya bilang, umat Islam jangan mau dibodohin dan dikibulin oleh elit politik, agama, dan bisnis, apalagi dengan isu-isu etnis dan agama. Tapi ternyata warga Jakarta, khususnya jamaah Mamat dan Mimin, lebih suka dibodohin. Pilkada Jakarta adalah pentas "sandiwara" kepintaran elit dalam membodohi rakyat kecil dan mengibuli umat Islam.

Sekali lagi, selamat kepada Pak Prabowo dan para elit partai lain, khususnya Gerindra dan PKS, dan juga kumpulan para pengusaha dan donatur (Tionghoa, Cendana, dlsb), karena jago Anda menang. Siapapun yang menang, suka-tidak suka, harus didukung sebagai konsekuensi dari hidup berdemokrasi. Saya hanya berharap, ke depan, kalian jangan menggunakan isu-isu SARA lagi yang sangat memuakkan dan memalukan itu setelah menjadi "nahkoda" Jakarta.

Kasihan jamaah Mamat dan Mimin yang tidak mengerti apa-apa tetapi kalian kibuli sepanjang massa pra-Kilkada. Kini mereka cuma bisa "plonga-plongo", tidak diajak pesta apalagi umroh mimpi kali yee. Mereka kini hanya mengharap surga yang tidak akan pernah mereka dapat sampai lebaran onta...**

Sumber : facebook Sumanto Al Qurtuby

Friday, April 21, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: