Pilpres Jangan Sampai Membelah Kita

ilustrasi

Oleh : Made Supriatma

Hasil Pilpres 2019: Ketika melihat hasil Hitung Cepat beberapa lembaga survei, saya diliputi kekuatiran yang mendalam. Saya perlu mengendapkan pikiran saya selama beberapa hari sebelum memberikan komentar.

Hitung cepat memang tidak memberikan hasil yang definitif. Namun, sejauh pengalaman menyatakan, akurasinya cukup terukur.

Hasil pemilihan ini memperlihatkan kita sedang menuju perpecahan yang sangat serius. Ia menunjuk semua mimpi buruk kita sebagai bangsa.

Sangat kentara bahwa bangsa ini memiliki pandangan yang berbeda mengikuti garis geo-kultural yang ada.

Ada tiga hal yang saya lihat. Ketiganya adalah: antagonisme Jawa-luar Jawa; agama mayoritas yang terbelah; kelompok minoritas yang sangat termobilisasi hingga memilih dengan suara 90an persen ke petahana.

Hal yang juga sangat jelas adalah kedua kubu menguatkan kemenangan mereka di wilayah-wilayah dimana mereka pernah menang. Ini artinya, kedua kubu tidak berusaha bergerak ke tengah, mencoba merengkuh dukungan dari daerah-daerah dimana mereka pernah kalah.

Keadaan menjadi makin gawat untuk negara seperti Indonesia karena geografi bertumpuk dengan identitas etnis. Dengan demikian, apa yang kita lihat dari hasil pemilihan ini adalah apa yang oleh para sosiolog dikatakan sebagai 'cumulative cleavages.'

Pembilahan ini mengental. Jika Anda orang Minang, Anda tentu Muslim, kemusliman Anda hampir pasti tidak terlalu 'tradisional,' Anda cenderung untuk memilih partai politik yang menekankan identitas keislaman, dan Anda cenderung memilih Prabowo Subianto sebagai Presiden.

Jika Anda orang Jawa, besar kemungkinan Anda Muslim, namun kemusliman Anda tidak terlalu ketat dan 'tradisional,' Anda cenderung memilih partai politik yang lebih sekuler, dan Anda cenderung memilih Joko Widodo.

Dan, seterusnya.

Tentu ada banyak varian disini. Namun pada intinya, pembilahan-pembilahan yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini semakin mengental. Tidak semakin melintas (cross-cutting).

Mengapa ini terjadi? Mengapa Jokowi tidak bisa menarik konstituen di Ranah Minang? Mengapa Prabowo semakin tidak populer di tanah Jawa? Mengapa Jokowi yang berusaha menonjolkan identitas keislamannya tidak populer di Aceh? Mengapa Prabowo yang memiliki latar belakang keluarga Kristen yang kuat justru ditolak di Sulawesi Utara dan NTT?

Ada berbagai alternatif jawaban yang bisa dicari. Namun, saya melihat dari hal yang paling dangkal, yakni cara berkampanye kedua kubu yang sedang bertarung.

Selama berminggu-minggu saya sudah menulis tentang betapa beracunnya kampanye ini. Pembelahan tidak saja terjadi di masyarakat umum. Kita melihat bagaimana kedua kubu mengeksploitasi perbedaan ini secara habis-habisan. Para intelektual, seniman, budayawan, profesor, peneliti, tidak ada yang bebas dari penyakit partisan ini. Bahkan merekalah yang memelintir semua hal hingga menjadi sangat partisan.

Kedua belah pihak berusaha mendemonisasi pihak lain. Kedua belah pihak mengirumkan pesan yang amat menakutkan kepada konstituennya masing: jika Anda memilih pihak sana, konsekuensinya akan sangat mematikan untuk Anda!

Orang memilih berdasarkan ketakutan. Bukan karena mereka suka akan program atau rencana-rencana masa depan yang ditawarkan masing-masing calon.

Inilah bentuk paling sinis dari politik Minus Malum. Saya terpaksa memilih calon ini demi mencegah pihak yang lebih buruk berkuasa.

Hasilnya sudah jelas nampak. Dan, saya melihat ini semua dengan kesedihan yang amat mendalam.

Kedua kubu, dan para intelektual publik pendukungnya, harus bertanggungjawab atas hasil ini. Anda merobek-robek bangsa ini!

Merekatkan kembali bangsa ini akan sangat sulit. Jika ini berlanjut, saya sangat kuatir kita akan kembali menoleh pada militerisme sebagai solusi.

Sumber : Status Facebook Made Supariatma

Friday, April 26, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: